
Siang hari yang terik di luar benteng.
Awan terlihat kelabu, memberikan kesan yang kelam,
ratusan mayat musuh bergelimpangan di tanah yang berdarah, padang rumput memerah. ratusan tubuh berserakan di seluruh padang yang luas.
puluhan senjata yang tergeletak dengan penuh noda darah, ditinggalkan pemiliknya yang telah binasa.
Bau dari debu dan darah memenuhi tempat itu, menyebar. beberapa burung datang untuk memakan tubuh dari beberapa jasad yang telah mati.
api menjalar dan membakar beberapa pecahan yang dapat terbakar. Menyisakan kengerian. Tempat itu menjadi saksi bisu tentang perburuan empat Predator yang membawa simbol kematian.
keempat-nya berkumpul dengan senjata dan zirah yang berlumuran darah.
Beberapa dari Mereka tersenyum seakan menikmati kengerian yang telah terjadi.
di samping retakan tanah, terlihat seorang Admiral yang menatap dingin tempat itu. Dari matanya seakan terpancar kesunyian.
("Aku hanyalah seorang pembunuh") Gumamku sambil menyalakan cerutu.
perasaan-ku saat ini bercampur aduk dengan efek negatif setelah penggunaan skill penguat, di tambah oleh norma-norma yang aku bawa dari duniaku yang dulu.
perasaan bersalah yang aku rasakan, tapi aku bingung harus berbuat apa.
"Admiral?, kamu tak apa?" Ucap Marinka. Ia menatapku dengan ekspresi khawatir.
"Admiral, apa kamu terluka?" ucap Sasha sambil berjalan mendekat.
keduanya lalu saling membenturkan tinju, dan terlihat sangat akrab padahal mereka sering beradu argumen.
("mungkin aku terlalu memikirkan hal ini") gumamku sambil tersenyum ke arah mereka.
(Bagaimanapun aku kini berada di dunia yang berbeda, Aku harus cepat menyerap dan beradaptasi dengan semua perbedaan ini, mungkin aku merasa sedih karena efek setelah Skill-ku berakhir, sama seperti efek bahagia yang timbul saat skill-ku aktif) pikirku sambil menghembuskan asap cerutu ke udara.
"Admiral, kemari-lah" ucap Eva sambil membuka sebuah payung hitam.
eva menaungi aku dari cuaca yang terik.
Di samping itu, Sasha berjalan ke arah beberapa gerobak yang tertutup kain lusuh. Ia menarik kain itu dan berteriak dengan penuh amarah.
"Persetan!... apa-apaan ini!" ucap Sasha sambil menatap puluhan Ras half-human yang di kandangi.
Para half-human itu di pisahkan di berbagai kandang, semakin Sasha membuka kain dari beberapa gerobak yang lain. Amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Persetan!.. aku akan mengutuk dan membunuh semua pelaku di balik ini!!" Teriak Sasha.
Teriakkan Sasha seakan mengajak kami untuk menghampirinya.
Di tempat gadis itu berdiri, kami melihat ratusan demi human yang ter-rantai di dalam kandang.
mereka terpasung dan terikat bagaikan ternak. mereka terdiri dari wanita, anak-anak dan beberapa lelaki muda.
waktu itu, Marinka seakan ikut murka, ia berteriak "Ini hal yang Biadab!... aku tidak bisa menerima hal ini meskipun mereka (para prajurit itu) telah mati"
"Sialan, andai saja mereka masih bisa di hidupkan. aku mungkin akan menghajar mereka sampai menjadi bubur, lalu melemparkan mereka semua ke dalam jurang penyiksaan" ucap Eva sambil menggerutu.
aku tertegun melihat kejadian ini, aku merasa bahwa perasaan bersalahku terhadap para musuhku, adalah hal yang sia-sia.
"semuanya, bantu aku untuk membebaskan mereka" ucapku sambil mengeluarkan pedang.
seluruh gadis langsung setuju dan mengeluarkan senjata mereka.
Aku menghancurkan sangkar itu menggunakan pedang dan memotong belenggu dari tangan, kaki, dan leher yang mengekang para half-human.
Tentu saja para half-human terkejut dengan aksi ku, mereka belum mengenalku dan masih trauma dengan kejadian yang mereka alami. dan kini terduduk meringkuk dengan wajah yang ketakutan.
"kalian aman sekarang, aku sudah membinasakan orang yang telah menangkap kalian" ucapku sambil membuka ikatan rantai dari beberapa half-human.
masih di tempat yang sama...
di benteng Silverrift Bazaar.
di depan benteng batu. Ratusan prajurit telah tumbang tanpa sebab yang pasti.
Ratusan prajurit itu, rupanya adalah Zombie yang di kendalikan oleh seorang penyihir hitam yang telah Admiral kalahkan.
Ketika penyihir hitam itu mati, ratusan prajurit zombie juga ikut tumbang secara serentak.
Para penjaga dan pemanah yang melindungi benteng menjadi kebingungan karena serangan dari luar yang berhenti serentak. tapi kemudian mereka berteriak riang gembira karena kemenangan yang mereka dapatkan.
Arlen bersama kedua anggota nya ikut bersorak, tapi ia tidak lupa bahwa kemenangan itu di dapatkan dari siapa.
Ia bersama para perwakilan half-human yang lainnya, terlihat membuka benteng dan berjalan keluar.
Arlen berjalan ke arah Admiral yang membawa puluhan tawanan.
.
..
Setelah beberapa waktu...
aku bersama tiga anggota-ku berjalan memasuki gerbang yang ada di benteng batu.
kami berjalan bersama puluhan tawanan yang kami bebaskan, mereka mengikuti kami dari belakang.
__ADS_1
Di dalam benteng kami merasakan sebuah atmosfer yang berbeda.
Sebuah benteng batu yang tinggi, di bangun di antara celah tebing kapur.
puluhan gedung yang ada di sana, di buat dari batu dengan pahatan indah.
tebing itu sendiri juga di pahat dengan rapi, menjadikannya sebagai hunian yang nyaman.
kedua sisi dari tebing itu di bangun layaknya perkotaan yang tersembunyi. memberikan kesan yang kental akan fantasi.
Pilar-pilar batu besar yang menopang Cekungan memberikan ruang untuk ratusan orang yang berkumpul di bawahnya.
Jalanan yang di naungi oleh ratusan kain yang di bentangkan dengan tujuan untuk melindungi panasnya matahari.
puluhan toko dan ribuan orang bertelinga hewan memenuhi tempat itu.
"tempat yang indah. tapi sayangnya mereka sedang ada dalam keadaan yang genting" ucapku sambil melihat beberapa toko yang tutup, dan beberapa bangunan yang di alih pungsikan menjadi rumah sakit sementara.
"aku setuju. mungkin ini tempat yang indah apabila dalam keadaan damai " ucap Eva.
"tapi konflik memang tidak dapat di hindari" ucap Marinka.
" yah... aku merasa ingin tinggal di sini" ucap Sasha.
Pada waktu itu, beberapa half-human yang memakai Seragam zirah terlihat membuat blokade yang melindungi kami, seseorang dari mereka berjalan ke arahku bersama regu Elf di sampingnya.
"Terimakasih atas bantuan anda Tuan Felix!, (memberi hormat kesatria) kami sangat tertolong atas bantuan anda" ucap kesatria itu,
"Sama-sama, dan ini hanya sebuah kebetulan ketika kami berkunjung ke sini" Ucapku.
aku memberikan hormat tangan kepada kesatria di depanku.
"Tuan Felix, mohon ikut dengan kami karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" ucap kesatria di depanku.
"Siapa itu" ucapku.
"Anda di minta untuk bertemu Madam" ucap kesatria di depanku.
"madam adalah teman lamaku... sekarang aku akan memperkenalkannya padamu " ucap Arlen sambil meyakinkan-ku.
"baiklah, ayo!" ucapku sambil menyetujui Arlen.
....
kami di bawa ke sebuah bangunan yang paling megah, yang ada di daerah itu.
Sebuah tempat yang bisa di katakan gedung pemerintahan.
"Ikuti kami ke sini" ucap maid yang mengoper tugas dari kesatria.
Maid itu mengarahkan kami ke sebuah ruangan yang luas di dalam gedung.
Sebuah ruangan yang terlihat megah dengan sebuah meja besar di tengahnya.
tempat itu di terangi oleh lampu permata yang di gantung,
puluhan half-human dengan pakaian bangsawan memenuhi tempat itu, mereka semua duduk menghadap meja, layaknya orang yang sedang rapat.
Entah kenapa, mereka semua terlihat muram, seakan tengah menghadapi masalah yang sangat serius.
"Tolong lepaskan helm anda" ucap seorang maid bertelinga kucing, sambil membantuku.
Marinka menipis tangan maid itu,
aku langsung melepaskan helmku karena menghindari Marinka yang cemburu.
-Helm di lepas, beberapa orang terlihat berseru dengan nada marah.
"Arlen!, kenapa kamu membawa seorang manusia ke hadapan kami!. apakah kamu hendak mengeksekusi kami di sini" ucap seorang bangsawan half-human.
"Tidak, bukan itu maksudku. aku membawa ras lain yang sama seperti kalian" ucap Arlen sambil terkejut.
"mana buktinya?", ucap seorang half-human yang marah.
"Jangan bercanda!, kami tengah dalam masalah besar saat ini!" ucap seorang half-human yang berpenampilan seperti seorang komandan kesatria.
Saat itu seluruh ruangan menjadi riuh oleh suara dan ujaran kebencian terhadap ras manusia.
Tapi Seorang nenek terlihat mengangkat tangannya yang di penuhi sisik.
" Kita jangan main hakim sendiri!, diam dan dengarkan dulu penjelasan mereka" ucap nenek itu.
Meski ia terlihat tua, tapi nenek itu sangat berkharisma dan pada waktu yang sama, seluruh orang menjadi diam tanpa kata.
"wahai Anak muda,berikan kami bukti agar kami percaya bahwa kamu bukan manusia" ucap nenek itu.
Pada saat itu, seluruh anggota timku menjadi tegang dan siap untuk menyerang, karena mereka sudah mengerti maksud dari half-human melalui perangkat lunak yang dibuat oleh Sasha.
tapi aku menahan anggotaku dengan isyarat tangan, karena aku ingin menambah aliansi dan bukan musuh.
("mereka mungkin memiliki dendam yang sangat dalam terhadap manusia... kalau aku tidak bisa memberikan bukti yang bagus, bisa gawat nantinya ") gumamku karena aku tidak ingin seluruh rencanaku gagal.
"ngomong-ngomong, apa yang bisa menjadi bukti agar kalian percaya" ucapku sambil menatap seluruh half-human yang ada di ruangan.
__ADS_1
" bukannya kamu lelaki, maka lepaskan baju zirahmu " ucap seorang half-human tua.
" ya, lepaskan zirahmu" ucap seorang half-human yang memiliki telinga anjing.
"Tunjuk kami apa saja buktinya, seperti sisik, ekor, atau apa saja" ucap kapten half-human.
"baik, bila itu keinginan kalian" ucapku sambil melepaskan beberapa perlengkapan ku.
aku melepaskan helm, sarung tangan mechanical, set zirah atasku,
aku di bantu ketiga anggotaku untuk membuka dan memegangi zirahku.
Terakhir, aku melepaskan kaos yang aku kenakan, dan menunjukkan tubuh bagian atasku yang terdiri dari ribuan mekanisme mesin yang sangat canggih.
Seluruh Half-human seakan tercengang, mereka melihat tubuhku dengan ekspresi tidak percaya.
Tubuh hasil modifikasi dengan rangkaian perangkat di punggungku, menyala dan memberikan kesan intimidasi.
seluruh orang terlihat heran dengan tatapan tidak percaya, mereka semua terus menatap ke arahku.
"Ras apa kamu?, " ucap komandan half-human.
"Aku berasal dari Ras Accretia" ucapku.
"Tolong jelaskan tentang ras mu" ucap seorang half-human.
"Baik!" ucapku.
2 jam kemudian....
Aku menjelaskan apa saja yang ingin mereka ketahuan tentangku.
aku bercerita tentang bagaimana aku bisa sampai ke sini, dan dan sedikit bercerita tentang wilayahku dan niatku.
aku juga bercerita tentang rasku yang terbawa ke dunia ini, di saat terjadinya pemanggilan pahlawan yang berlangsung di Kerajaan manusia,
Aku memberitahu mereka bahwa aku adalah seorang musuh yang paling di cari oleh Kerajaan manusia.
Mereka mengangguk sambil mendengarkan.
tatapan yang awalnya membenciku, kini mulai berubah seakan menerima kedatanganku.
Tapi ekspresi muram seakan tidak hilang dari raut wajah mereka.
"Kemari dan bergabunglah bersama kami" ucap nenek tua yang di panggil Madam.
"baik!" ucapku sambil duduk di kursi.
Madam kembali membuka diskusi, tapi ia kini fokus terhadap-ku.
"Maafkan kami felixian, Saat ini kami tidak bisa memenuhi pesananmu" ucap Madam dengan ekspresi muram.
"tapi kenapa?... apakah semua barang yang aku pesan tidak tersedia?" ucapku.
"bukan begitu... barang yang kamu mau ada di gudang, tapi saat ini kita tidak mungkin membuat perjanjian dagang" ucap Madam.
"ada apa?... tolong beritahu aku apa masalahnya" ucapku.
"baik," ucap madam sambil membuka cerita.
Madam menceriakan sebuah masalah besar yang mereka hadapi di waktu sekarang ini.
Ia menceritakan tentang wilayahnya yang di serang di oleh Sekte God shardes, dan serangan yang terjadi di wilayah yang lain secara bersamaan.
Tapi yang menjadi akar masalah saat ini adalah Keracunan massal yang terjadi di dalam Silverrift Bazaar.
Para anggota God shardes telah mencemari sungai yang menjadi tempat sumber air mereka, menggunakan racun yang belum teridentifikasi, dan racun itu baru berefek setelah satu minggu.
Orang yang meminum air yang telah terkontaminasi racun akan terlihat baik baik-baik saja pada awalnya, dan efeknya akan terasa ketika hari terakhir.
Kini hampir seluruh orang terkena efek dari racun itu, ribuan orang merasakan sakit dan tidak sanggup untuk bangkit. dan ada sebagian kecil dari mereka yang bertahan meski terlihat lemah,
mereka yang lemah itu secara sukarela berusaha menahan serangan dari luar benteng yang terjadi pagi tadi.
Itu juga menjelaskan kenapa mereka sangat lemah padahal wilayah mereka cukup maju dan luas.
Aku tertegun sambil memendam rasa dendam terhadap Sekte God shardes.
"Apakah kalian tidak memiliki solusi saat ini?" ucapku sambil bertanya ke semua orang yang hadir.
beberapa orang terlihat diam membisu, tapi ada seorang pemuda Half-human yang mengemukakan pendapatnya.
"Kami membutuhkan Penawar dari wilayah Elf, tapi masalah utamanya adalah transportasi ke sana yang akan memakan waktu beberapa hari, dan kami belum bisa menemukan penawar yang cocok untuk racun ini" ucap pemuda itu.
"Tuan Arlen, apakah kamu bisa membuatkan penawar untuk mereka?" ucapku sambil menatap ke arah Arlen.
"Aku akan berusaha" ucap Arlen kerena itu jobnya.
"Baiklah, kita tidak pernah tau sebelum mencobanya... sekarang, aku yang akan pergi untuk mengangkut tanaman herbal dari wilayah Elf, " ucapku sambil berdiri dengan ekspresi penuh percaya diri.
saat itu, Seluruh orang menatapku dengan penuh harapan.
___________________________
__ADS_1
------->>>>>>>>>>>>>>>>>>>