
Dari luar gua batu terdengar suara retakan.
"krak! , crak, krak, brakkk!!!, retakan itu makin membesar dan akhirnya gua itu meledak, dan memperlihatkan isinya.
"sialan!, gerombolan yang tadi hanya umpan," ucapku sambil melihat segerombolan besar monster bersayap.
itu adalah monster bertipe Reptil bersayap dan memiliki ukuran tubuh yang besar.
"itu gerombolan wivern!" ucap Riz dengan nada bergetar.
aku melihat gerombolan itu di pimpin oleh seekor naga besar berkepala tiga.
seketika, naga itu terbang ke arah pasukan yang sedang berjaga di depan benteng.
naga itu hinggap di depan kami, tubuh raksasanya kini nampak jelas karena di terangi cahaya lampu.
(''sungguh menjijikan!'') gumamku ketika melihat dengan jelas tubuh dari makhluk itu.
aku melihat naga itu di penuhi oleh bekas luka, lukanya terlihat menganga lebar dan masih mengeluarkan darah, tubuhnya terlihat abstrak karena ia memiliki dua kepala kecil di perut dan punggungnya, ia juga memiliki 6 sayap yang terletak tidak karuan, memiliki tiga ekor dan beberapa bagian tubuh yang tidak tertutup kulit.
"i i itu naga zombie! " teriak beberapa orang.
naga itu menatap ke arah kami dengan ekspresi bermusuhan, kemudian berkata.
"kenapa kamu membunuh kedua anakku! kenapa?" teriak naga dengan suara nada kesal.
saat itu, beberapa orang terlihat ketakutan, mereka terlihat memelas sambil tertegun melihat naga raksasa.
"a! a! a! apa!, maksudmu! " ucap Riz. Ia sepertinya mengetahui sesuatu.
naga itu kembali bertanya, "kenapa?, kenapa kalian membunuh anak-anakku?. kenapa kalian melanggar perjanjian yang kalian buat! ", ucap naga itu dengan penuh kemarahan.
" oh, sungguh kasihan sekali dengan nasibmu naga agung. tapi kami bersumpah tidak pernah sekalipun mengganggu Kediaman-mu” ucap Riz. ia terlihat meneteskan air mata sambil meratapi keadaan naga.
"bohong!, lihat sendiri, sekarang aku sudah mati, dan jenis kalianlah yang membunuhku." ucap naga itu dengan ekspresi marah.
"aku mohon redam amarahmu karena naga yang Agung harus tetap menjadi naga yang Agung." ucap Riz dengan ekspresi memohon.
mendengar ucapan Riz, naga itu terlihat makin murka, ia mengeluarkan aura dominasi dan membuat beberapa prajurit kabur ke hutan.
"dasar manusia hina!, apakah kalian pikir cukup hanya dengan meminta maaf?, lihatlah kedua anakku mati di tangan kalian dan dengan mudahnya kalian meminta maaf. " ucap sang naga.
Naga itu mengangkat kepalanya sambil berkata "aku telah bersumpah kepada dewa jahat untuk membalaskan dendamku!... matilah kalian semua!" ucap naga itu sambil mengumpulkan api di mulutnya.
seketika, sebuah semburan api melesat mengarah ke benteng kayu.
melihat itu aku langsung menghalau serangan itu, aku menarik tubuh Riz ke dalam tamengku dan melindungi Dust di belakang tubuhku.
"Solid mode" ucapku mengaktifkan skill.
skill itu memadatkan tubuhku dan merubah tampil ku menjadi berwarna emas lalu menghalau seluruh kerusakan yang di terima oleh tubuhku.
sfx "wossssss!!!.
semburan api itu sungguh merusak pertahanan kami. Benteng kami terbakar, beberapa orang terpental dan terpanggang hidup-hidup.
"ada apa ini?, kenapa naga agung sampai melakukan ini"ucap Riz dengan nada lirih yang aku dengar dari dalam tamengku.
" sadarlah Riz,.. itu bukan naga agung yang kamu kenal." ucapku.
ketika itu, beberapa orang melompat dari benteng yang terbakar, mereka berlindung di balik benteng sambil menyembuhkan diri mereka.
(bukan pilihan yang tepat untuk diam di sini) pikirku karena benteng ini terbuat dari kayu dan sangat lemah oleh api.
"Dust!, turunlah bersama yang lain! " teriakku memberi arahan.
"tapi senior(ucapan dust terpotong)"
"cepat!, benteng ini tidak akan bertahan lama! dan bawalah Riz(menyerahkan Riz) "
"baik!, " ucap Dust sambil mengangkat tubuh Riz. Dust melompat dari atas benteng langsung ke bawah.
seperti dugaanku, benteng kayu itu perlahan ambruk sambil menjatuhkan orang yang ada di atasnya.
seluruh orang terpaksa melompat. dan saat itu naga zombie kembali mengaktifkan sihirnya.
Ia (naga zombie) menghembuskan napas hitam ke arah mayat monster dan merubahnya menjadi sejenisnya(zombie).
dari dalam parit terlihat beberapa mayat monster yang mulai bangkit. mereka mulai merangkak naik.
"sihir naga zombie itu begitu kuat sampai-sampai membangkitkan seluruh monster yang ada di jalan dan beberapa Manticore yang sudah aku kalahkan.
__ADS_1
(ini di luar kendali) pikirku.
saat ini regu kami terpecah-belah, beberapa peleton di depan goa terlihat berjuang menghadapi wivern dan monster dengan keadaan tubuh penuh luka bakar, sedangkan regu di benteng terpaksa menghadapi naga zombie dan beberapa monster yang mulai bangkit menjadi zombie.
"walikota! apa rencana kita! " terakku sambil menoleh dan melihat sebuah menara pemanah yang terbakar oleh api.
Api itu terlihat membesar dan melahap seluruh tower pemanah.
tower itu terlalu tinggi untuk di lompati. dan aku punya firasat buruk tentang ini.
(Jangan-jangan Walikota juga ikut terbakar) pikirku, karena saat itu ia ada di sana.
"jawab aku! walikota!.., Judit!.. jenifer! " teriakku sambil berlari ke arah tower pemanah.
sesampainya di dalam tower pemanah yang terbakar, aku mendengar beberapa suara orang meminta tolong.
"judit di mana kau! " teriakku sambil memasuki ruangan yang ada di dalam tower.
saat itu, aku melihat beberapa mayat dari orang mati yang terbakar hangus, aku juga mendengar suara orang yang aku kenal.
"felix, tolong kami, kami terjebak di sini," suara judit terdengar dari ruangan di atasku, tapi suara ini terdengar begitu pelan.
tanpa menunggu lama aku langsung naik ke atas,
sesampainya di atas Aku melihat sebuah gundukan batu menyerupai telur dan dari sana terdengar suara Judit.
"felix tolong kami" ucap judit.
mendengar itu aku langsung menghancurkan tembok ruangan kayu menggunakan peluncur roket, kemudian mengangkat gundukan batu itu dan melompat ke tanah.
sfx" brak,
"cepat keluar, kalian sudah aman" ucapku memanggil.
"crack', ckak' "terimakasih!, " ucap judit sambil keluar dari telur batu,
dari dalam telur batu, aku melihat empat orang keluar,
Aku melihat Judit dan tunangannya, jenifer dan ayahnya, tapi tidak ada walikota.
"di mana walikota" ucapku.
judit dan keempat rekannya menoleh dan melihat sebuah tower yang menyala-nyala. anak dari walikota terlihat ambruk ke tanah sambil menangis histeris.
"ayah!..hiks! hiks!" teriak anak walikota dengan nada tersedu.
"felix!, aku mohon, tolong selamatkan walikota." ucap judit.
"akan aku usahakan" ucapku sambil berlari memasuki tower pemanah.
aku melompat-lompat dengan gaya parkour menuju atas tower karena tangga yang aku injak begitu rapuh karena terbakar dan beberapa kali membuatku terperosok.
(dasar naga sialan, ternyata dari awal ini hanya pancingan) pikirku sambil melompat.
di atas tower aku melihat beberapa mayat terbakar dan di antara mereka aku melihat walikota sudah meninggal karena saat itu aku menemukan tubuhnya dan mengenali jirahnya.
aku menggendong tubuh walikota yang sudah tidak bernyawa kemudian langsung melompat ke bawah.
sfx "bruk!
aku langsung berlari menuju keempat orang itu dan langsung menyerahkan tubuh walikota.
" maafkan aku, " ucapku.
"hiks ayah!, kenapa, kenapa kamu harus mengalami ini" ucap anak walikota.
"ayah mertua!... sadarlah" teriak Jidat sambil mengguncang jasad walikota.
(ini sungguh kacau, kini kita telah kehilangan pemimpin dan pasukan kita berantakan.) gumamku dalam hati.
kemudian aku bertanya ke anak walikota.
"nona, apa rencana kita! " ucapku.
seketika anak walikota itu menoleh ke arahku dengan tatapan benci sambil berkata "ini semua salah kalian! ayahku sampai terbunuh di sini!, aku membenci kalian semua!" ucapnya sambil meninju jirahku.
"hentikan erica!.. (memeluk) felix tidak bersalah" ucap Judit sambil menenangkan calon tunangannya.
"jangan memarahi felix, ia tidak bersalah, semua itu salah kami." ucap pedagang Lucas grace.
saat itu dust dan Riz terlihat berlari menghampiri kami.
__ADS_1
"ada apa ini?," ucap Mage Riz.
"walikota sudah tiada" ucapku.
"apa?... apakah aku tidak salah dengar! " ucap mage Riz.
Riz terlihat mendekati mayat walikota, ia membersihkan wajahnya lalu berkata. "walikota sudah tiada, lalu siapa yang akan memimpin pasukan." ucap mage Riz.
mendengar itu, tuan lucas grace menundukkan kepala dengan ekspresi putus asa lalu berkata.
"biarkan aku saja yang mengambil resiko" ucapnya.
"apakah kamu pernah memimpin pasukan," tanyaku.
"tidak, tapi aku akan menahan mereka sampai kalian berhasil melarikan diri." ucap tuan lucas dengan wajah putus asa.
"ayah!, jangan melakukan itu" ucap jenifer sambil memeluk ayahnya.
"sepertinya kamu belum terbiasa dengan ini... baiklah!.. aku yang akan mengambil resikonya, Dust, Riz, bantu aku" ucapku.
"ehh kenapa aku juga ikut terlibat! " ucap Riz
"karena kamu mengetahui kelemahan monster itu!," ucapku.
saat itu, aku langsung menaikkan output ke 50%, dan tiba-tiba tubuhku merasa panas, darahku rasanya mendidih, pergerakan di sekitarku terlihat melambat.
tambahan 50% power itu mengalir di dalam tubuhku. gejolak kekuatan bertarung seakan mendorongku, dan memberikan aku euforia semu.
TL : euforia : kesenangan.
Aku berlari dan melompati pajar kayu yang kini menjadi reruntuhan.
aku melompat masuk di antara para pasukan yang kini terdesak di depan pagar dan di kepung oleh monster karnivora yang kini berubah menjadi zombie.
aku masuk di antara para pasukan lalu mengaktifkan skill pendukung serangan.
"war cry!, focus!, acceleration" ucapku beriringan mengaktifkan skill.
rentetan skill aktif sambil memberikan buff kepada para pejuang yang ada di sampingku.
saat itu, beberapa kesatria menoleh ke arahku sambil berkata. "pejuang felix!, syukurlah kamu selamat," ucap seorang kesatria.
"felix!, tolong bantu kami! " ucap mereka.
beberapa perkataan terlontar kepadaku tapi sebagian tidak bisa ku mendengar, karena terhalang oleh suara riuh sihir dan senjata yang berdenting.
" kerja bagus!!, semuanya sekarang ikuti perintahku!!." ucapku sambil berteriak sekuat tenaga.
saat itu, beberapa orang terlihat Bingung dengan apa yang aku katakan,mereka kembali pokus sambil bertahan dari serangan monster.
aku mengganti senjataku ke peluncur roket. lalu mengaktifkan skill 'wild shot'
"wost, brak!!, clack!,clack!,” suara dari lima roket yang terbang lalu menerjang ke arah kawanan monster.
ratusan monster seketika membeku oleh ledakan roket bertipe es yang di kombinasikan dengan skill wild shot.
seperti namanya, Wild shot adalah tembakan liar, dan memiliki jangkauan yang sangat luas, skill ini sangat berguna untuk meratakan squad pasukan musuh yang sedang berkumpul,
Saat itu beberapa orang terlihat lega melihat kawan zombie monster yang membeku menjadi es,
mereka (pasukan) terlihat memulihkan tubuh mereka menggunakan ramuan dan sihir.
beberapa dia antara mereka berbicara dengan nada tergesa-gesa, sambil menatap ke arahku. "tolong kami, felix tolong!, felix!, " ucap beberapa kesatria.
"tenanglah kawan!.. memangnya ada apa,?" ucapku sambil mencoba menenangkan hati mereka.
"komandan arnold ada di depan!, ia sendirian sambil mengalihkan naga zombie demi melindungi kami dan kini ia terdesak!, tolong bantu ia, aku mohon~" ucap beberapa kesatria sambil bersujud di depanku.
"sudah!.. hentikan!!!,.. aku pastikan, aku akan menolongnya." ucapku (marah) dengan ekspresi tidak nyaman.
saat itu, aku berjalan ke arah tembak es tapi dust dan Mage Riz menghentikanku.
"jangan kabur, sialan!" ucap riz.
"tenang saja!, aku tidak akan kabur, kalian bantu aku menjelaskan pada mereka, bahwa sekarang aku yang memegang perintah." ucapku sambil memandang wajah Riz.
"baiklah dan ini." ucap Riz, kemudian melempar benda ke arahku, benda itu seketika berubah menjadi sebuah monster Griffin.
TL: Griffin adalah monster kombinasi antara elang dan singa.
"bawalah ia denganmu, felix." ucap Riz.
__ADS_1