Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 55 gudang dan perlengkapan.


__ADS_3

Di depan kursi singgasana besi yang terletak di aula.


Waktu itu Vita terlihat penasaran dengan apa yang aku lakukan, ia keluar sambil mencoba memberikan bantuan.


saat ini Aku mengumpulkan seluruh persenjataan yang tersimpan di dalam inventori yang ada di bekas tubuh lamaku, awalnya aku ingin kembali memakai tubuh lamaku ini tapi Vita memberikan himbauan agar aku bersabar.


Aku meminta Vita agar bisa membagikan kesadaranku ke dalam tubuh besi ini, tapi Vita melarangku dengan alasan 'terlalu berbahaya', ia juga memberikan alasan seperti ['Admiral, armada ini belum memiliki teknologi se-canggih itu karena kami kekurangan bahan... mohon bersabarlah, kami akan mencari solusi untuk anda']


di dalam pembicaraan Aku sempat menganjurkan untuk merombak zirah ini, tapi Vita memberikan peringatan bahwa teknologi yang di gunakan untuk membuat zirah ini, sangat berbeda dengan apa yang kita miliki saat ini, bila aku nekat merombaknya mungkin aku akan kehilangan sebagian besar spesifikasi dan kualitasnya.


"cih... ini hanya menjadi tumpukan logam yang tidak berarti apa-apa. " ucapku dengan nada mengeluh.


["tunggulah beberapa bulan lagi, admiral, kami pasti akan menemukan solusi untuk anda, aku berjanji atas nama Accretia."] ucap gadis berambut hitam(Vita) sambil mencoba menyakinkanku yang mulai bimbang.


"padahal aku sangat membutuhkannya di saat-saat genting seperti ini... tapi ya~sudahlah" ucapku sambil mengecek isi tas inventori yang ada di tubuh lamaku.


Aku mengeluarkan seluruh perlengkapan yang ada di dalam tas, menumpuknya di lantai lalu mengeluarkan seluruh material/logam yang ada.


"wow!... ini masih lengkap" ucapku dengan perasaan nostalgia.


["tentu saja, karena saya melarang mereka agar tidak menyentuh perlengkapan anda"] ucap Vita, ia terlihat mencari perhatian.


Saat itu aku melihat tumpukan senjata dan perlengkapan canggih yang sering aku gunakan.


War Axe, Sirius Sheld, set armor beelzebub, siage weapon, hora akeron, dan perlengkapan lainnya.


perasaan nostalgia kembali muncul di dalam benakku ketika mengusap Siage weapon,


aku kembali teringat kenangan indah saat bermain bersama teamku, saat war aliansi bareng mereka, saat ketika grinding bersama, bossing dengan aliansi sampai berbulan-bulan untuk bisa mengoleksi semua perlengkapan ini.


kenangan indah bercampur dengan kejadian pahit yang aku alami di planet ini, itu membentuk sebuah harapan baru yang kian berkobar di hatiku dan berubah menjadi sebuah api semangat.


pengalaman di dalam pertempuran ini membangkitkan seluruh jiwaku. meski kini aku tidak terlalu kuat seperti dahulu tapi tidak menutup kemungkinan bahwa aku bisa bertumbuh melebihi ini.


(" aku yang sekarang adalah penguasa tertinggi dari armada ini, aku memiliki akses untuk berkembang tanpa batas, dan aku memiliki anggota yang mau mendampingiku... aku tidak mungkin mundur!!!") gumamku dengan exspresi penuh semangat.


["admiral, apakah kamu masih kecewa? "] ucap Vita, ia bertanya dengan ekspresi khawatir.


"tidak, tapi tolong segera kumpulan seluruh anggota" ucapku sambil memegang kunci gudang pribadi.


10 menit berlalu....

__ADS_1


Tak perlu waktu lama untuk mengumpulkan seluruh gadis itu.


mereka berlarian menuju aula lalu membenturkan barisan memanjang yang rapi seperti halnya prajurit, lalu memasang pose istirahat dengan tangan di belakang dan exspresi tegap, mereka siap menerima perintah.


sebuah harmoni militer yang mereka tampilkan di hadapanku seakan menambah kesan gagah pada para gadis cantik ini.


"admiral!, kami menunggu perintah anda! " ucap Seorang gadis berambut merah panjang bergaya ponytail.


"Marinka, majulah, bantu aku untuk mencari letak gudang tersembunyi dan pilihlah seseorang yang pandai berhitung" ucapku memanggil seorang gadis berambut merah yang ada di depanku.


"baik!, Eva bantu aku" ucap Marinka lalu memanggil anggotanya.


waktu itu aku mengambil kunci gudang di inventori, lalu meraba setia dinding yang ada di aula, untuk menemukan lokasi gudang eksklusif yang aku miliki.


beberapa regu terlihat membantuku meski tanpa aku suruh, kami mencari sekeliling ruangan hingga menemukan tempat itu.


"admiral!, saya menemukannya" ucap seorang gadis sambil mengamati pola kunci.


Aku dengan perasaan senang menarik langkah ke arah gadis itu, lalu memasang kunci kombinasi pada perangkat di depanku.


perangkat terpasang dengan sandi terbuka, sebuah pintu baja bergeser di depan ku memecah tembok granit yang baru di tempel.


Seluruh gadis itu tercengang dengan apa yang mereka lihat karena lusinan senjata itu terdiri dari kelas Rare, sampai kelas legenda.


ini mengingatkan ku pada masa-masa kejayaanku ketika di dalam game. masa di mana aku menghabiskan waktu dan seluruh uangku hanya untuk bermain game.


Aku merasa puas dengan apa yang aku temukan ini, aku berjalan ke dalam kargo berisi koleksiku itu untuk mengambil beberapa keperluan.


"kalian!. kemarilah, aku mengumpulkan kalian di sini untuk membantuku membawa semua ini." ucapku sambil memegang beberapa metal.


"ba, ba, baik" ucap beberapa gadis dengan exspresi takjub. mereka lalu berjalan mengikutiku.


setelah beberapa menit berlalu...


aku di bantu marinka memilah beberapa perlengkapan dan mental yang menurutku berguna.


awalnya aku ingin memberikan mereka semua perlengkapan kelas legenda, tapi ketika aku dan marinka memegang salah satunya, itu menunjukkan peringatan seperti 'power pada pengguna tidak mendukung' oleh sebab itu kami memilih perlengkapan yang support pada tubuh kami.


"Eva!, sudah berapa banyak perlengkapan yang terkumpul" ucapku bertanya pada gadis berambut abu pendek yang memegang buku sambil mencatat.


"20, jenis senjata, 30, jenis asesoris lalu 200,kg baja Hexanium dan beberapa lusin amunisi" ucap Eva sambil melihat kertas yang ada di tangannya

__ADS_1


"astaga... meski aku punya segudang perlengkapan tapi ini tidak bisa mereka gunakan, " ucapku karena beberapa perlengkapan berat nampaknya tidak support untuk mereka yang sekarang.


"bersabarlah admiral, pihak kami pasti akan menemukan solusinya" ucap Marinka sambil menepuk pundakku.


"baiklah... tapi apakah kamu menemukan yang yang lain" ucapku sambil memilah.


"saya sudah menggeledah semuanya tapi tidak menemukan apapun yang mendukung untuk tubuh kita... tapi aku menemukan ini" ucap Marinka dengan exspresi terpesona, ia memegang sebuah senapan sniper yang memiliki julukan 'angel slayer'.


"ternyata matamu cukup jeli untuk menemukan senjata ini...(memegang) ini dulunya perlengkapan favoritku tapi ambilah" ucapku menyerahkan senjata itu kepada Marinka karena ia terlihat sangat menginginkannya.


"anda yakin" ucap Marinka dengan mata merahnya yang kini berbinar-binar, ia terlihat memegang erat senapan itu sambil menunggu konfirmasi dariku.


"tentu saja, tapi ingat aku hanya meminjamkannya" ucapku sambil tersenyum kearah gadis berambut merah itu yang terlihat bahagia.


secara mengejutkan Marinka memegang bahuku, ia mendekatkan bibirnya yang seksi ke arah keningku lalu mengecupnya.


Aku terperangah diam dengan exspresi bingung, aku terkejut dengan aksi Marinka yang sulit di tebak.


tapi melihat Marinka yang begitu bahagia membuatku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya balas tersenyum.


tanpa admiral sadari beberapa gadis yang melihatnya dari luar kargo itu memandangnya dengan pesimis. mereka terdengar saling berbisik dengan kalimat yang hampir sama yaitu 'jenderal kita nampaknya mulai agresif... ini tidak bisa di biarkan.' suara bisikan beberapa gadis.


 


Isi dari kargo di pindahkan keluar, seluruh gadis di persilahkan untuk memilih salah satu dari perlengkapan yang telah di sediakan.


tak lupa aku juga memberikan logam Hexanium pada mereka yang hadir, aku juga memberikan pesan agar menggunakan logam itu untuk membuat zirah karena logam itu memiliki ketahan sekelas orichalcum.


"terimakasih admiral!, " ucap beberapa gadis sambil memberi hormat.


"Sama-sama dan jangan lupa, manfaatkan-lah dengan baik logam itu" ucapku sambil membalas hormat .


"admiral!, kamu melupakanku," ucap Sasha sambil memegang aksesoris anting.


"ada apa Sasha" ucapku menyaut.


"apa maksudnya semua ini.. aku curiga kamu akan meminta kami melakukan sesuatu hal yang berbau dewasa" ucap Sasha sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajahku.


"berhentilah berpikiran kotor...(menjauhkan wajah Sasha). bersiaplah, sebentar lagi kita akan berperang," ucapku.


Pasukan itu bubar untuk menyiapkan segalanya sebelum menjelang pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2