
Di atas awan, di dalam badai pasir yang bergemuruh.
Beberapa anggota Squad udara membawa kabar buruk sambil mengkhawatirkan keadaan pemimpinnya.
"kalian!, apa yang sebenarnya telah terjadi di sana? " ucapku dengan nada khawatir.
"[brrt.., ra! ta! ta! ta! ](suara tembakan) "admiral!, saat ini kami di hujani peledak!, ini berbahaya!, beberapa pesawat anggota kami terjatuh!. dan ada yang lebih parah lagi" ucap wanita dari anggota Squadku, suaranya terdengar kacau karena bercampur suara ledakan dan peluru.
"apa itu?, cepat lanjutkan ucapanmu!" ucapku dengan ekspresi khawatir.
"raja itu gila!..[brak!!, boooom!], admiral, kami jatuh!, mesin kami meledak! ,kami ulangi kami jatuh!"(koneksi terputus), ucap wanita itu, di susul suara ledakan keras yang membuat sambungan kami terputus.
" ehh!, tunggu, kamu belum menjelaskan apapun!, " ucapku dengan nada penasaran, tapi tiba-tiba.
"admiral!, lihatlah kesana!," ucap Sasha, ia menunjuk ke arah monitor yang menampilkan medan pertempuran.
Saat ini kami berempat menatap monitor, menemukan medan tempur yang berubah menjadi merah.
Warna merah besar yang berasal dari pancaran radiasi, (ledakan) yang amat sangat besar, dan menerbangkan apapun di sekelilingnya.
"admiral!, unit 3,4,2,8, melaporkan terjatuh karena overheat. dan sisanya hilang kontak!" teriak Sasha dengan ekspresi panik,
"bagaimana dengan yang lain?," ucapku dengan panik.
"beberapa unit terbang masih bisa bertahan, dan pihak musuh juga menerima kerusakan dari akibat ledakan itu" teriak Sasha.
"baik!, Sasha tolong tinjau lebih jauh!. dan Eva!, bawa kita lebih dekat dengan markas terbang musuh. Erika, gunakanlah semuanya yang kita miliki." ucapku.
"baik!, oke! , baik!, " ucap ketiga wanita sambil bersahutan.
mendengar perintahku, Eva menyalakan turbin pendorong tambahan lalu Ia berteriak, " pegangan yang erat!,"
Pesawat hitam itu kini melesat ke bawah dengan kecepatan maksimal, Erika mengambil kesempatan untuk melepaskan puluhan rudalnya, tepat di atas markas musuh.
sfx: wostt!!, sraatt! Boom! Boom! Boom! boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! boom!" puluhan rudal meledak mengenai sasaran, menembus pelindung sihir dan menghancurkan sebagian bangunan musuh.
"Sasha, tolong sambungkan dengan Marinka dan Vita, " ucapku.
"baik!, ucap Sasha sambil mengontrol ratusan panel hologram yang ada di depannya.
........
sambungan terhubung, mengetahui itu Marinka dengan nada khawatir berteriak, " admiral!, kamu baik-baik saja?” ucap Marinka.
"ya!, bagaimana dengan Squadmu?. " ucapku,
"semua unit-ku dalam keadaan baik!, tapi ada apa di atas?." ucap Marinka.
"Marinka!, tolong evakuasi unit-ku yang terjatuh!, mereka pasti memerlukan bantuanmu!," ucapku.
"oke!, serahkan padaku!," jawab Marinka.
__ADS_1
Di bawah...
Setelah mendengarkan perintah dari admiral, marinka langsung menatap seluruh anggota Squadnya.
"Sister!, pastinya aku tidak perlu menjelaskan perintah ini" ucap MarinkaMarinka. ia lalu menggengam kontrol senapan mesinnya.
"tentu saja" ucap anggota Squad darat,
Mereka lalu melaju menuruni bukit mengikuti perintah marinka.
Squad darat mulai berpencar menggunakan kendaraan tempur mereka, lalu menghampiri pesawat anggota Squad yang lain, yang jatuh pada titik radar yang telah di tentukan.
Mereka berkendara melewati hujan peledak dan puing yang masih berjatuhan di langit. Mereka mengambil Resiko dengan gagah berani demi menyelamatkan teman-temannya.
.....
Di dalam puing-puing pesawat tempur, Beberapa gadis terlihat berlindung dari ledakan sambil memanfaatkan apa saja yang masih berfungsi,
beberapa orang dari mereka kini mendapatkan luka yang cukup serius, seperti kehilangan lengan dan kaki mekanikal mereka.
Senapan mesin masih berputar si puing-puing pesawat tempur yang terbakar, menandakan mereka masih belum menyerah.
"Sial!, kita tidak bisa berperang dengan rongsokan ini" keluh seorang wanita yang ada di dalam puing pesawat.
"tenanglah celya(tersenyum)... masih beruntung kita memiliki armor mekanikal ini, yang melindungi tubuh kita." ucap seorang gadis berambut abu-abu panjang, ia kini kehilangan kaki mekanikalnya.
"Lexi!, apakah kamu masih bisa tenang meski tidak bisa melawan! " ucap celya sambil memanggil nama temannya.
Tiba-tiba, dari luar pesawat ada beberapa orang yang memanggil nama mereka.
"kalian keluarlah, cepat! "
sontak beberapa gadis itu menyaut dengan nada gembira. " terimakasih sudah mau menolong kami "
", apa kalian pikir, kami akan menelantarkan kalian?. " ucap gadis yang ada di luar, ia lalu saling bahu-membahu menolong dan membawa temannya yang terluka ke dalam kendaraan tempurnya.
Di dalam pertempuran yang brutal, beberapa gadis terlihat menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi.
Mereka saling bersatu padu, melindungi, menjaga dan menolong temannya.
"kalian oke!, " ucap gadis yang memegang setir kemudi.
"ya!, thanks you! " ucap gadis yang di tolong.
"kalau begitu, pegangan yang erat karena kendaraan ini akan sedikit berguncang" ucap gadis yang memegang pengemudi. Ia lalu membawa kendaraan tempurnya menuju Markas Accretia.
Di atas langit...
Aku beserta sisa rekanku yang masih bisa mengudara. Kini meninjau kelemahan benteng terbang itu.
Regu kami melesat, melewati ribuan peledak yang tersebar di udara.
__ADS_1
Benteng terbang itu melepaskan Ribuan peledak ke segala arah, menyebabkan apa saja yang menabraknya menjadi hancur, termasuk pasukannya sendiri.
"pemimpin mereka gila! " ucap Sasha, ia mengeluh sambil memantau monitor.
"mungkin dia putus asa, nee! " Jawab Erika sambil memantau,
"Sasha, apakah kamu menemukan sesuatu? " ucapku.
"tentu!... tapi aku benci mengatakan ini" ucap Sasha mengeluh.
"apa itu?... cepat katakan! " ucapku.
"dari penglihatanku, benteng itu seperti memperbaiki dirinya sendiri!" Jawab Sasha.
"ini curang!. kita telah menghabiskan banyak anggaran untuk ini" ucap Eva, Ia mengeluh dari depan kemudi.
"bagaimana kalau kita coba menyerang lambung kapal mereka? " ucap Erika, ia mencoba memberikan solusi.
"saran yang bagus... sekarang semuanya!... serang lambung kapal!. " teriakku memberikan aba-aba.
Puluhan Rudal di luncurkan dari dalam puluhan pesawat tempur, lalu terbang mengarah pada lambung pesawat Markas Draft.
Rentetan ledakan tercipta, di bawah kontruksi markas terbang raksasa. seakan berhamburan, menerbangkan puluhan kilo Ton Beton.
Lambung yang runtuh, menampakan seluruh isi di baliknya. Sebuah pancaran logam bersinar dengan nadi yang bersinergi.
Nadi Merah berkedip, seakan mengakar dan mengalir ke pusatnya.
Di ujung konstruksi baja itu, terlihat sebuah susunan logam membentuk wajah yang hidup, berkedip, sambil menatap ke arah kami.
"apa itu!, " Teriak Sasha.
Pandangan kami tertuju pada sesosok monster berbentuk bangunan terbang.
"aku tidak pernah berharap untuk bertemu monster sebesar ini, di sini! " ucapku tercengang.
"Admiral!, tolong laporkan apa yang kamu lihat!, " teriak Vita dari Headphone.
"Aku melihat sebuah golem Raksasa... " ucapku sambil mengingat karakteristik dari monster itu.
Statistik Golem:
Sebuah monster sihir bertife servant. pada awal mulanya, monster ini di temukan oleh beberapa menambang draft, di dasar tambang, ketika melakukan penggalian. monster ini memiliki segudang rahasia ketika di teliti oleh insinyur Draft. dan monster ini bersifat imortal ketika di serang dengan serangan fisik.
kemudian aku menjelaskan tentang Golem yang aku tahu(di dalam game) kepada semua orang.
"ehh bukanlah ini seperti fantasy? " ucap seorang gadis yang terkejut dengan penjelasanku.
"awalnya aku tidak percaya. tapi ketika aku dan admiral bertemu dengan ras elf, kamu pasti akan paham," ucap Marinka.
"sial!!, berarti selama ini serangan yang kita luncurkan cuma sia-sia." ucap beberapa gadis.
__ADS_1