
Di markas Accretia.
pagi yang cerah, cahaya matahari menerangi hamparan pasir putih yang indah. beberapa serangga dan hewan kecil keluar untuk mengambil embun pagi yang turun.
Suara lagu kebangsaan di-siarkan ke seluruh gedung, dalam berbagai frekuensi speaker yang ada di setiap ruangan markas Accretia.
Waktu itu, aku terbangun karena suara ketukan pintu yang berisik.
"admiral!... cepatlah bangun!" ucap beberapa gadis yang mengetuk pintu secara bersamaan.
"bukannya anda sudah berjanji akan berangkat pagi ini?" ucap mereka.
("dasar tidak sabar") gumamku.
aku kemudian menarik seragam admiral dan zirah mekanikal, lalu memakainya.
( "Harus kemana aku mencari pesanan sebanyak itu?... dan apa-apaan dengan jumlahnya") gumamku sambil memikirkan apa yang mereka minta.
meskipun yang mereka pesan cuma bahan makanan pokok yang biasanya mudah di temui di supermarket atau di pasar, tapi sekarang kita ada ini di dunia lain. dan dengan jumlah yang sangat banyak ini, kemana aku harus mencari.
Awalnya aku tidak terlalu memperdulikan keinginan mereka, tapi mereka terus merengek sambil berkata " Admiral, anda sudah berjanji akan membuat pesta, tapi di mana makanan kami?... anda tidak berbohong, kan?" ucap mereka pada malam itu.
("lelaki memang tidak akan pernah menang melawan wanita... untuk sekarang mending pergi saja dulu, dapat atau tidaknya itu urusan belakangan ") gumamku sambil membuka pintu kamar.
aku mengintip ke luar pintu lalu dengan ekspresi polos berkata " ada apa?."
Di luar ruangan, beberapa gadis terlihat menatapku, lalu tersenyum.
" Admiral!. bukannya anda berangkat pagi ini?" ucap seorang gadis bermata biru.
" kita kekurangan bahan makanan di sini, apakah kamu tidak kasihan dengan kita." ucap mereka.
"yah, tapi aku tidak berjanji untuk membeli semua barang yang ada di dalam list ini. soalnya kita sekarang bukan berada di bumi" ucapku, karena di setiap Wilayah menyediakan produk yang berbeda, sedangkan aku hanya mengenal beberapa wilayah.
(TL. Buat yang kurang mengerti. Jadi pada jaman dahulu, perdagangan rempah-rempah dan bahan pangan itu sulit di lakukan, atau tidak merata ke setiap wilayah, sebab beberapa faktor seperti transportasi yang tidak memadai untuk melakukan ekspor/impor, dan beberapa masalah lainnya.)
"kami mengerti, meskipun tidak lengkap tapi minimal 97% dari total jumlah yang tercantum, oke!" ucap beberapa gadis.
"ehh!.." (ucapanku terpotong). pada waktu itu, tangan kiri-ku di tarik oleh mereka berempat.
" ayolah!, ayolah!. apa sulitnya bilang iya" ucap mereka.
mereka semua menarik-ku ke gudang di dekat gerbang palka, yang merupakan tempat penyimpanan segala macam benda.
kerumunan masa juga telah berkumpul disana, sambil menyuarakan sokan penuh antusias.
dari kerumunan massa, terlihat beberapa gadis yang aku kenal. mereka berjalan ke arahku sambil membawa perlengkapan di tangannya.
"Admiral!. aku sudah mengerjakan ini semalaman!"(menyerahkan tangan kanan mechanical) "jadi!, jaga ini baik-baik!" ucap fiona, ia terlihat kacau dengan rambut panjangnya yang kusut dan kelopak mata yang menghitam seperti orang yang belum tidur.
"admiral, aku sudah memanaskan mesin pesawat. jadi ayo berangkat" ucap Eva dengan penuh semangat.
"admiral. aku sudah menyiapkan seluruh perlengkapan dan kendaraan di bagasi pesawat... sekarang, bolehkah aku menjadi pengawalmu dalam perjalanan ini " ucap Marinka.
beberapa gadis juga ingin ikut dalam misi ini, tapi untungnya, Marinka melarang mereka dengan alasan menghemat waktu.
Sekarang hanya ada dua gadis yang ikut menemaniku, yaitu, Eva dan Marinka,
__ADS_1
kami juga membawa empat unit suplai yang di tugaskan sebagai tenaga kerja dan sebuah unit repair yang di siapkan bila mana ada kerusakan yang tak terduga.
"Erika!. sebagai hukumanmu karena masalah kemarin, kamu yang akan menggantikan-ku dalam tugas pembersihan... dan ajak Sasha bersamamu" ucap Marinka.
"baik sister" ucap Erika sambil tertunduk lesu.
"sisters! aku berjanji akan membawakan oleh-oleh setelah aku pulang " ucap Eva.
"ya, dan hati-hati di jalan!" ucap beberapa gadis.
--->>>.
.
.
Pesawat tempur Black Sir lepas landas meninggalkan kerumunan gadis yang melambaikan tangan.
Regu yang aku pimpinan meluncur ke titik koordinasi yang telah di tentukan.(di peta)
Tidak butuh waktu lama agar pesawat ini mencapai tempat tujuannya.
Eva yang memegang kendali sebagai pilot lantas menyalakan seluruh turbin Super jet.
Pesawat black sir melesat kencang melewati berbagai bioma.
--->>
Satu jam kemudian terlihat pemandangan yang cukup indah, dari hamparan hutan di bawah pesawat kami,
"admiral, lihatlah keluar jendela!" teriak Eva dengan nada gembira.
Dataran hijau yang indah, tabir kabut yang terkumpul dan menyelimuti hutan terlihat membentang luas sampai ke ujung pegunungan.
(TL, contoh hutan swiss)
panorama dari ribuan jenis pohon raksasa berusia ratusan tahun terlihat berjajar tinggi.
"hutan ini bagaikan negeri dongeng" ucapku.
"yap!... dan kita akan mendarat" ucap eva sambil melakukan landing.
pesawat yang kami tumpangi meluncur di antara pepohonan merah, yang masyarakat di sini biasa menyebutnya 'Red wood'
pesawat Black Sir mendarat di tempat kami singgah kemarin. Beberapa Elf penjaga terlihat berlari ke arah pesawat kami karena rasa penasaran.
Para Elf penunggang raptor atau hewan terbang telah berkumpul di sekeliling pesawat Black Sir. mereka menatap kedatangan kami dengan berbagai macam ekspresi.
Beberapa tunggangan dan perlengkapan dari para penjaga Elf itu terlihat asing, dan cukup mewah.
(" aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya, apakah mereka para penjaga yang baru datang?" ) gumamku.
aku memutuskan untuk keluar lebih awal, Sebab hanya aku yang memahami bahasa mereka dan aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"pagi yang cerah kawan!" ucapku, mengapa mereka sambil melakukan hormat tangan.
aku lalu berjalan ke arah kerumunan penjaga tanpa membawa senjata.
"mau apa kamu kesini!" ucap penjaga Elf yang asing,
beberapa Elf terlihat menarik senjata mereka, kemudian bersiap siaga, sebelum seseorang dari mereka yang aku kenal merangkulku.
__ADS_1
"jangan ada yang menyerang!.. dia tamu kehormatan kita!" ucap Elf berambut emas yang di panggil Mata,
Mata kemudian berjalan dan menyambut kedatangan kami dengan cukup hangat.
"kamu ketinggalan pesta, kawan" ucap Mata. sambil menepuk pundakku.
"aku tidak ingin merepotkan kalian...,(menepuk pundak balik)" tapi apakah aku bisa bertemu dengan Arlen?" ucapku.
"tentu!, kamu juga boleh main ke tempat kami kapan saja. Sebab kita teman" ucap Mata.
Kerumunan Elf penjaga yang baru ku-temui terlihat memasang ekspresi bingung, Tapi Mata kemudian menjelaskan kepada mereka tentang siapa aku dan bagaimana awal mulanya kita bisa sampai berteman.
Waktu Mata memberikan penjelasan kepada para penjaga Elf, aku juga memberikan perintah kepada Eva dan Marinka agar mereka berdua segera menyiapkan perlengkapan dan kendaraan, sebab kita akan segera memasuki perkampungan.
setelah beberapa waktu...
"maafkan kami!... kami tidak bermaksud menghadang perjalanan anda" ucap penjaga asing Elf.
"tak apa!, aku juga paham dengan keadaan negara kalian sekarang ini" ucapku sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih!... sekarang kami akan memandu anda ke desa" ucap penjaga asing Elf.
Seluruh penjaga Elf membuka jalan untuk kami. Waktu itu Eva beserta Marinka, memarkirkan sebuah truk MAZ dari dalam bagasi pesawat dan memerintahkan beberapa unit agar ikut ke desa.
Sisa unit yang tidak ikut, juga mendapat tugas untuk menjaga pesawat.
saat itu, Kami sengaja memarkirkan pesawat Black Sir, agak jauh dari desa, sebab Hutan di sana terlalu rimbun dan akan mempersulit kami bila melakukan landing atau take-off.
di sela perjalanan yang agak jauh, aku menyempatkan diri untuk menggali informasi dari Elf bernama Mata.
Aku bertanya tentang siapa mereka dan kenapa mereka ada di sini.
Waktu itu, Mata hanya menjelaskan tentang Seseorang yang datang dari ibukota. orang itu datang untuk berkunjung dan memberikan donasi, dan para pasukan ini adalah penjaganya, selebihnya ia tidak tau. ia juga berkata bahwa ia tidak memiliki wewenang dalam urusan ini, dan hanya Arlen atau Kepala Desa yang tau.
waktu itu, kami hanyut dalam obrolan.
dan tidak terasa, akhirnya kami sampai di desa Elf.
Sebuah desa kecil nan indah, dengan latar belakang pepohonan.
pondok perumahan, terlihat bertengger, dari atas pohon besar menuju ke bawah, beberapa bangun terlihat berjejer di setiap dahan besar dan di hiasan dengan tangga yang saling terhubung antara satu bangunan dengan bangunan yang lain.
para warga terlihat menyapa dari atas balkon rumahnya, mereka yang mengenalku terlihat menaburkan bunga dan melambaikan tangan.
"sambutan yang cocok untukmu, Admiral" ucap Marinka.
"yah, tapi ini terlalu berlebihan" ucapku.
"tidak juga!" ucap Eva.
Waktu itu, kendaraan kami di arahan ke sebuah balai desa. Sebuah tempat yang ada di tengah perkampungan.
Sebuah Balai yang besar dengan arsitektur yang megah. tembak batu dan lantai keramik yang di pahat terlihat rapi di sana.
di depan balai desa terlihat sebuah lapangan yang lumayan luas. puluhan kereta dan hewan tunggangan terlihat di parkir di lapangan itu.
tempat itu pula di naungi oleh sebuah pohon besar yang rindang. ada pula beberapa pedang yang bernaung di bawahnya.
"harap tunggu di sini sebentar... kami akan memanggil Arlen beserta Kepala Desa." ucap penjaga sambil membawakan beberapa kursi dan meja agar kami bersantai.
"terimakasih... kami akan menunggu" ucapku sambil duduk.
__ADS_1