Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 67.


__ADS_3

Para Elf dan anggota-ku kini duduk di depan meja panjang yang sama untuk merayakan acara makan pagi.


Sasha dan Marinka sekarang duduk di sampingku, mereka berdua sedang fokus makan dan merenungkan perbuatannya.


Waktu itu Edgar terus menatapi kami sambil mengukur kemampuan kami, Ia menilai kami dengan skillnya tapi itu tidak berguna karena kami tidak memiliki Energi sihir.


("Nampaknya Edgar meragukan kemampuan kami") gumamku.


"Permisi felix" ucap Edgar.


"yah, ada apa?" ucapku sambil berhenti makan,


"ini perihal tawaran yang kamu berikan" ucap Edgar.


"yah, aku siap kapanpun kalian membutuhkan bantuan-ku " ucapku.


"maaf sebelumnya, tapi apakah kamu yakin dengan ucapanmu?" ucap Edgar.


"iya, aku yakin" ucapku.


"meskipun itu harus membunuh seorang Raja" ucap Edgar sambil bercanda.


"yah, tentu saja" ucapku dengan ekspresi serius.


"semoga kamu bisa memegang janjimu" ucap Edgar.


"Tentu, dan bila aku berjanji untuk menaklukkan benua, maka aku akan melakukannya" ucapku sambil terlihat percaya diri.


"yahh, aku tau" ucap Edgar sambil memalingkan wajahnya seakan tidak percaya.


waktu itu, aku paham dengan isyarat dari ekspresi Edgar. bahwa ia tidak yakin denganku, dan aku memilih untuk diam karena aku lebih suka memberikan bukti nyata dengan keahlianku dari pada membuktikannya dengan kata-kata.


{---Pada siang harinya---}


Komandan arlen menuntunku ke sebuah tempat pengolahan kulit yang ada di desa. ia berkata bahwa sebagian besar serigala yang telah kita kalahkan akan di ambil kulit dan dagingnya.


ternyata daging monster juga berguna dan bisa di buat untuk bahan pakan ternak.


(BTW. para elf memelihara binatang karnivora seperti raptor dan T-rex.)


kami berjalan bersama Arlen yang memberikan tour sambil mengenalkan beberapa tempat,


"sebesar inilah wilayah kami. Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" ucap Arlen.


"Terimakasih, tapi nampaknya kamu sedang sangat sibuk sekarang" ucapku.


"iya juga"(arlen tersenyum) "tapi aku tidak bisa mencampakkan tamu kita" ucap Arlen.


"jangan terlalu memikirkan kami, karena kami hanya mau bermain di sekitar sini"(aku balas tersenyum) "kalau kamu sedang sibuk, mending kami selesaikan dulu kesibukanmu" ucapku.


"ohh, terimakasih atas pengertiannya... Tapi kamu yakin mau berkeliling sendiri?" ucap Arlen.


"Ya..." ucapku.


"oke, kalau begitu aku akan meninggalkan anda, dan (Arlen terlihat memanggil para anggotanya) 'Para Pengintaian!', " tolong temani mereka dan bantu mereka kalau mereka membutuhkan bantuan" ucap Arlen, ia memanggil unit pengintai berisikan tiga orang wanita elf, dan memberi mereka perintah agar mengawal kami.


Arlen pun pergi sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


aku membalas lambaian tangan itu.


"lalu apa tujuan kita selajutnya?," ucap Sasha sambil memangku keranjang buah dan memakannya,


"kita akan melaksanakan rencana awal" ucapku


"remcamna ampa?" ucap Sasha sambil mengunyah buah di mulutnya. mulutnya terlihat penuh dengan makanan.


"kamu pasti tidak ikut apel pagi! dasar pemalas, " ucap Marinka sambil menegur tingkah malas Sasha.


"ehhh... memang-nya ada pengumuman apa?, sewaktu apel pagi? " ucap Sasha dengan penuh rasa penasaran.


" maka-nya!, bagun dari pagi agar kamu tidak ketinggalan informasi! " tegur Marinka.


"kalian berdua!, hentikan!, aku tidak ingin mendengar perdebatan dari kalian lagi!" ucapku, karena aku tau mereka pasti akan berdebat.


keduanya langsung diam dengan ekspresi saling bermusuhan.


"dengarkan ini Sasha, pagi ini kita akan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan markas... kamu juga harus membantu di sini, " ucap Eva.


" Thank's Eva, kamu sahabat terbaikku" ucap Sasha sambil memeluk Eva.


"berhenti memelukku!" ucap Eva sambil menolak dan bertingkah malu-malu.


("astaga, pasti akan melelahkan untuk mengatur mereka semua ") pikirku sambil melihat ke arah tiga wanita itu.


pada waktu yang sama,


kami berjalan di bawah rindangnya pohon merah yang memenuhi pemandangan jalan.


beberapa anak kecil berlarian di antara kami seakan tidak punya beban.


"senang rasanya mendengar tawa mereka" ucap marinka sambil memandang anak-anak itu.


"yah... naluriku mengatakan, 'tidak salah. waktu itu kita membantu kampung ini' ", ucap Eva.


" aku yakin, kita tidak salah memihak mereka, karena, lihatlah! "(Marinka merentangkan tangannya)" aku tidak melihat kesenjangan sosial di antara mereka dan aku tidak melihat orang yang kelaparan meskipun mereka tinggal di kampung yang miskin... aku salut dengan Raja mereka. pasti para pemimpin mereka orang yang jujur dan bermartabat" ucap Marinka sambil menyalakan rokoknya.


pada waktu yang sama, seorang gadis kecil berjalan menghampiri kami ber-empat.


ia terlihat gugup sambil memegang sepuntung bunga putih di tangannya. Ia lalu menyodorkan bunga ini ke arah kami.


Eva membuka helmnya, ia tersenyum ke arah gadis manis itu sambil menerima bunga pemberian itu.


"terimakasih karena sudah melindungi mama dan aku” ucap gadis itu sambil menatap Eva,


"bukannya ini gadis kecil yang kemarin kita tolong?" ucapku


" admiral, apa yang ia katakan?" ucap Eva sambil bertanya.


"ia berterima kasih kepada kita karena telah di tolong " ucapku.


"uh!, betapa manisnya kamu" ucap Eva sambil membelai rambut dari gadis kecil itu "


Aku juga menterjemahkan ucapan eva untuk gadis itu, dan gadis itu pergi dengan raut wajah ceria.


"entah kenapa, aku meras lega ketika melihat senyumannya" ucapku.

__ADS_1


"yah, rasakan seperti seluruh usaha kita telah terbayarkan" Jawab Marinka.


Tapi, nampaknya ada orang yang tidak senang atas kejadian ini.


"kalian bertiga curang!, kalian tidak mengajakku! " timpal Sasha sambil menggerutu.


"itu salahmu!, karena kamu selalu ketinggalan event" ucap Marinka.


obrolan santai dan ceria terus berlanjut sampai kita tiba di suatu tempat.


Di samping jalan yang ada di depan kami, terlihat sebuah gudang penyimpanan yang besar.


tempat itu di penuhi oleh perabotan dan bahan makanan yang di jajakan di teralis nya. beberapa karung yang tersusun dan buah kering yang di gantung menghiasi etalase.


kami memutuskan untuk menghampiri tempat itu.


"selamat datang anak muda" ucap seorang nenek Elf yang menyambut kedatangan kami. raut wajahnya terlihat keriput dengan rambut yang memutih.


Nenek itu tersenyum ramah sambil menyambut kedatangan kami.


"permisi, aku kesini untuk mengambil beberapa makanan yang telah di janjikan Arlen" ucapku sambil membalas senyuman.


"ohh, rupanya kamu pahlawan yang menolong kami pada waktu itu, kemari dan tunggulah... kami akan membawakan beberapa makanan untukmu” ucap nenek itu.


" maaf, tidak perlu susah-susah untuk membantu kami, karena kami sendiri yang akan membawanya " ucapku dengan penuh hormat.


"ini tidak sopan untuk tamu kami! " ucap sang nenek, ia menolak.


"kami serius, kami tidak bisa merepotkan kalian, " ucapku dengan ekspresi meyakinkan.


Setelah mendengar ucapanku, nenek itu terus menatap wajah-ku hingga akhirnya ia mengangguk.


" kamu anak yang baik... ikutilah aku " ucap sang nenek sambil berjalan dengan tongkatnya.


kami di bawa ke dalam gudang makanan. dan di sana aku melihat beberapa karung yang telah di pisahkan.


"ambilah bagian kalian yang ini... ini tidak banyak tapi kami akan menambahkannya pada lain Waktu" ucap nenek itu sambil menunjuk.


kami menatap ke arah tumpukan karung yang telah di susun.


beberapa bahan pokok telah di kemas sesuai permintaan. seperti rempah-rempah, tanaman herbal, garam dan beberapa karung tepung.


bahan pokok itu di dominasi oleh tepung dan biji-bijian.


"emm... mungkin tempat ini merupakan sektor pertanian" ucap Eva sambil memeriksa kualitas dari tepung dan biji-bijian.


"masuk akal juga, soalnya mereka Elf" ucap Sasha.


"seperti yang telah pemimpin mereka jelaskan di awal" ucapku menjelaskan.


"Langkah awal yang bagus!, Tunggu di sini!... aku akan mengambil kendaraan!" ucap Eva dengan mata yang berbinar-binar.


Eva berlari keluar sambil memegang kunci mobil.


"Hehehe, dia selalu bersikap seperti ini, kalau menyangkut dengan hal yang ia suka" Ucap Sasha.


"Tuan Felixian, kami akan memanggilkan beberapa Elf untuk membantu-mu" ucap seorang anggota pengintai yang sedari tadi mengawal kami.

__ADS_1


"tidak perlu, ini hal yang mudah untuk kami " ucapku


.............>>>>


__ADS_2