
Siang hari, di dalam benteng yang terbang milik bangsa draft.
Di dalam benteng megah yang melayang, terlihat beberapa gurcaci sedang mengeluh, bersandiwara seakan menurut terhadap rajanya, tapi didalam hatinya seakan menentang.
Di sana terlihat seorang Raja bernama Odes, Ia sedang mengoceh dan memaki bawahannya dengan mimik wajah muak.
Raja itu menarik selebaran kertas catatan data pertempuran, yang diberikan penasehatnya, lalu membaca isinya,
Waktu itu, mata bulatnya terperangah sambil melihat isi dari tulisan, Ia seakan tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat, lalu membacanya ulang tapi hal itu malah makin membuatnya marah.
"apa-apaan ini!!! (melemparkan kertas ke arah penasehat)... aku tidak membayar mahal kalian hanya untuk membuat lolucon." ucap sang Raja Odes dengan tatapan wajah bringas.
Melihat Rajanya yang kesal, seluruh mentri yang hadir di tempat menjadi tunduk, seketika, karena mereka tidak ingin di eksekusi mati.
Raja Odes yang kesal lalu menarik pedangnya, menghunuskan, dan berteriak ke arah para menteri dengan nada yang kasar.
"aku tanya!!!, siapa yang membuat lolucon semacam ini!!" teriaknya dengan pose siap menebas.
Mendengar itu para menteri terlihat syok dan takut, mereka menundukkan kepala dengan ekspresi memohon berkata, "maafkan kami... tapi itu data real dari lapangan"
Raja yang murka kini meluapkan kekesalan-nya pada bawah, sifatnya yang angkuh kini mendominasi seluruh orang di ruangan.
"Cih!... tidak ada yang mau mengaku?... maka kalian semua akan aku eksekusi!" ucap Raja Odes lalu berjalan ke depan petinggi militer, tapi tiba-tiba.
Sfx, "Brakk!! Boooom!!! boooom!!!boooom!!!". Terdengar beberapa ledakan keras yang mengguncang seisi pesawat yang di tumpangi sang Raja.
" akhh!!!, apa-apaan ini?" ucap Raja Odes dengan tubuh bulat yang terhuyung ke samping, sebab guncangan yang dahsyat.
Ia tergelincir beberapa meter karena pesawat yang ia tumpangi hampir terbalik/miring.
Beberapa perabotan terlihat berjatuhan lalu meluncur ke berbagai arah. beberapa orang terlihat bertahan, berpegang dengan apapun yang ada di sana.
"maaf rajaku!, tapi sepertinya kita menerima serangan" Ucap penasehat dengan ekspresi mengeluh.
Di luar..
Sebuah peleton pasukan udara kini berhasil menembus pertahanan musuh.
Mereka kini berbaris dalam formasi menyerang, berjajar menghadap markas besar musuh sambil mengarahkan moncong senjata mereka.
Mataku kini terpukau, sebab melihat sebuah objek balon udara yang aneh. sebuah kastil istana bata yang dilapisi kubah baja ini melayang di atas badai. hanya memperkirakan beratnya ini mustahil untuk terangkat tapi kastil ini melayang seakan tidak punya beban.
beberapa orang terlihat takjub dengan teknologi bangsa lain ini, tapi sayangnya kami tidak punya waktu untuk terus memandang.
__ADS_1
"admiral!, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ucap beberapa anggotaku.
"bersiaplah!, serangan pertama kita berhasil di tahan oleh perisai sihir mereka, tapi kita harus bisa melubangi perisai sihir itu, agar serangan kita bisa sampai pada target yang telah di tentukan." ucapku, memberi arahan dari microphone.
"caranya? " ucap beberapa anggota.
"tolong pusatkan serangan pada satu titik" ucapku.
"oke!, oke!", ucap anggotaku.
" apa kalian siap? " ucapku.
"kami siap kapan saja! " ucap anggotaku.
"baik!... siapkan rudal terbaik kalian dan... 'fire!!! " aku berteriak dengan penuh semangat,
ucapanku di susul oleh ratusan rudal yang di lepaskan ke udara, melesat bagaikan rombongan Hitam yang menjerit dan membawa tanda kematian.
Rudal itu serentak menghujani markas musuh, menghancurkan penghalangnya dan memporak-porandakan apapun yang ia sentuh.
Kepulan asap tebal dan api mewakili markas itu, seperempat dari markas musuh hancur berantakan.
Raja Odes yang tau bahwa markasnya kini sedang di dalam gempuran musuh, malah makin menjadi murka.
"Per-setan!!!,... aku tidak bisa menerima ini!. Ragos!, cepat nyalakan inti golem!, dan serang balik!" teriak Raja yang marah.
"Baik Rajaku!!, Ucap petinggi militer, Ia lalu berusaha menggapai alat komunikasi.
Dari alat telekomunikasi, Ragos memerintahkan seluruh teknisi yang ada di sana untuk mengaktifkan inti golem, yang di tanam di dalam pesawat induk dan bersiap untuk membalas serangan.
Dari luar...
Squad udara berhasil menyapu musuh dan kini mengitari markas besar musuh yang tidak berdaya.
Kekacauan ini sudah cukup untuk menghancurkan setengah dari pasukan musuh meski banyak anggaran yang aku keluarkan untuk hal ini. tapi melihat mereka (pasukanku) tertawa rasanya sudah cukup tergantikan.
"admiral, punya rokok?" ucap Sasha sambil menadahkan tangannya ke arahku.
"Tidak... Vita tidak membekali-ku rokok, tapi Vita membekali-ku ini" jawabku, sambil menyerahkan sebatang cerutu ke tangan Sasha,
"ini sama saja admiral... cerutu juga termasuk rokok " ucap Sasha sambil menggunting ujung cerutu dan membakarnya.
Aku mengikuti cara Sasha dalam menyalakan cerutu, karena ini pertama kalinya aku menghisap cerutu.
__ADS_1
Aku menggunting ujung dari cerutu besar ini, lalu membakar ujungnya menggunakan korek listrik lalu menghisapnya.
"admiral?... apakah kita sudah menang?" ucap beberapa anggota Squad.
"belum, tapi kemenangan ada di depan mata kita" ucapku memberikan mereka motivasi.
Waktu itu, di dalam badai, sebuah markas besar dari bangsa draft terlihat berderit dan mulai hidup,
markas itu mulai memperbaiki dirinya sendiri. inti golem yang di tanam para gurcaci itu berakar, membangun sebuah nadi dari makhluk yang dinamakan golem.
pecahan material dari markas itu mulai menyatu kembali, membentuk semula, Sang Raja yang mengetahuinya seakan tertawa dengan nada yang gila,
"hahahaha!!, sekarang akan aku hancurkan kau!... per-setan!," ucap sang Raja Odes, ia lalu berjalan ke depan geladak pesawatnya,
Di luar, Raja Odes itu mengamati sekeliling, Mata bulatnya kini melihat kehancuran yang nyata, Nasib keruntuhan pasukannya kini ada di depan mata,
Hati kecilnya sempat putus asa saat melihat apa yang ia hadapi, sebuah perang dengan bangsa yang belum mereka ketahui, pasukannya di giring ke dalam kematian, ini menggambarkan ladang pembantai dengan lantunan suara kacau yang membuat bulu kuduk berdiri.
tapi rasa angkuh yang ia miliki, menjadikannya buta akan kekalahan,
Raja Odes berusaha menutup telinga menggunakan tangannya, lalu berjalan untuk menaiki podium yang ada di ujung geladak, meski badai menghalangi suaranya, tapi ia tetap berteriak ke arah pengeras suara.
"Kepada seluruh Bangsaku dengarkan-lah ini, kita tidak bisa menyerah dalam menghadapi iblis ini!, kita adalah bangsa yang kuat dan superior. angkatlah bendera dan harga diri kalian sebagai bangsa yang tak pernah terkalahkan." Ucap Sang Raja, ia berusaha memberikan motivasi pada seluruh anggota pasukannya yang mulai kehilangan moralitas/keberanian.
Suara Sang Raja, di dengar oleh seluruh orang yang hadir, beberapa pandangan kini terpusat pada asal dari suara.
"admiral lihat itu!, " ucap Eva, ia menunjuk ke arah objek pesawat raksasa yang adalah di monitor menggunakan jari lentiknya.
"bukannya itu pemimpin mereka! " ucapku sambil mengamati monitor.
"mungkin!... tapi apa yang ia katakan?" ucap Sasha dengan ekspresi penasaran.
"ia memberikan motivasi untuk bahannya! " jawabku.
"dari mana anda tau, bahasa mereka" tanya Erika, kini ia ikut penasaran.
"entahlah?... tapi sekarang bersiaplah, kita akan menghampirinya... dan kepada seluruh anggota Squad-ku!, siapkan senjata kalian dan ikuti aku!.
" oke!, oke! " Jawab beberapa anggota.
["admiral!,... apa yang ingin kamu lakukan"] tanya Vita dari balik microphone.
"aku ingin berbicara mengusirnya dari wilayahku" ucapku dengan ekspresi tegas.
__ADS_1
mereka (pihak accretia) merasa ini sudah hampir selesai, tapi pada kenyataan-nya, kekacauan ini baru saja di mulai.