Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter: 70, tuntutan.


__ADS_3

---Malam hari di Markas Accteria---


Muatan suplai telah di bongkar dan di pindahkan ke dapur.


Di saat yang sama, hampir seluruh gadis ada di dapur, mereka membuat variasi dan menyiapkan Makanan yang mereka suka.


aku duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah jendela besar yang ada di kantin. dari luar jendela terlihat pemandangan gurun yang menakjubkan.


 di sebuah kursi di depanku, ada seorang gadis bernama Eva, ia terlihat sibuk dengan gadgetnya.


"Eva, kenapa kamu tidak ikut memasak?" ucapku bertanya ke arah gadis itu yang kini duduk sendiri.


"maaf Admiral, tapi Aku sudah makan " ucap Eva sambil fokus menulis di layar hologram.


" ohh, baiklah," ucapku dengan ekspresi bosan.


Melihat ekspresi Admiral yang bosan, Eva lalu Tersentak,


"Tunggu!, tunggu sebentar" ucap Eva sambil menutup kegiatan di layarnya.


Eva lalu menyambung ucapannya,


"adakah yang ingin kamu sampaikan, admiral?" ucap Eva.


" bukannya kamu lagi sibuk?" ucapku.


"Tidak, itu, aku hanya menghitung persediaan " Jawab Eva.


Eva bangun dari kursinya lalu mengambil dua gelas kopi panas dari kantin dan kembali ke tempat duduk nya semula,


Eva menyerahkan segelas kopi yang ia pegang lalu menyulut Rokok.


Aku ikut menyalakan Cerutu dan mulai mengobrol.


"Eva, kenapa kamu tidak ikut bersama mereka... apakah ada masalah?" Ucapku sambil menghembuskan asap ke udara.


" uhhh, untuk urusan itu... aku sebenarnya tidak terlalu pandai memasak, dan di waktu sekarang ini, mereka semua sudah memenuhi dapur" Ucap Eva sambil memalingkan wajah.


"tak apa... aku juga paham, tapi aku tidak bisa memungkiri kebahagiaan mereka, saat ada suplai makanan yang datang" Ucapku sambil memikirkan ekspresi senang dari para gadis itu, ketika pertama kali muatan di bongkar.


"mereka mungkin berlebihan, tapi makan yang enak itu penting " Jawab Eva sambil tersipu malu.


"Eh?. Sepenting itukan makanan di mata mereka?" ucapku sambil bercanda.


"ya., pastinya makanan itu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri untuk kita," ucap Eva.


"kebahagiaan?" ucapku.


"anda pasti sudah tau, mereka hanya memakan daging hambar untuk beberapa hari ini... Bagaimana perasaan anda ketika memakan daging tanpa bumbu untuk beberapa hari?" ucap Eva sambil menghisap rokoknya.


mendengar ungkapan Eva, aku tertunduk sambi termenung untuk beberapa saat.


("mungkin aku seorang pemimpin yang buruk,") gumamku. sambil memikirkan kembali siapa diriku yang sebenarnya,


(aku dulunya hanya seorang Gamer yang bahkan tidak punya banyak teman maupun pacar. aku selalu mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan hal yang lain. Tapi sekarang mereka mengandalkan ku sebagai seorang pemimpin dan Admiral bagi mereka semua, mereka membutuhkanku dan menghormati ku,) pikirku


Eva menatap wajah Admiral dengan nada yang khawatir, "Admiral, ini bukan salahmu, Oke " Ucap Eva.


"btw, apakah ada yang berbeda dari diriku?" ucapku, karena aku ingin mengkoreksi sifatku sebagai seorang pemimpin.


"tidak, anda terlihat seperti biasanya" ucap Eva dengan wajahnya yang mulai memerah, ia tidak tahan saat di tatap langsung oleh admiral,


"begitu kah?" ucapku.


"ya, sikap anda seperti yang aku kenal" ucap Eva.


"bukan itu. maksudku, aku bahkan tidak bisa mendamaikan perselisihan antara Sasha dan Marinka" ucapku sambil terkekeh.


"aku lupa bahwa anda telah Hilang ingatan"(Eva menepuk jidat)" anda memang tidak mungkin bisa mendamaikan mereka berdua, sebab mereka berdua ibarat air dan minyak " ucap Eva dengan ekspresi pasrah.


"maksudnya?" ucapku keheranan.


"tak apa, biar aku jelaskan... Jadi Marinka itu ibarat Alpha female sedangkan Sasha itu ibarat Sigma female, mereka berdua memang sama-sama hebat dalam satu team, tapi kepribadian mereka sangat jauh berlawanan," Ucap Eva sambil memberikan gambaran.


"lalu menurutmu, bagaimana dengan Sasha?" ucapku karena aku penasaran dengan watak Sasha.


"menurut ku, Sasha adalah seseorang yang sangat berbakat, dia bahkan sanggup men-sabotase sebuah markas musuh sendirian. dia sangat jenius dan kejeniusannya mengalahkan kita semua... tapi sayang nya, karena kejeniusannya itu membuat ia malas. ia juga kurang mengerti perasaan orang lain, dan suka berbicara seenaknya." ucap Eva sambil menggelengkan kepala.


Aku sedikit tercengang dengan perkataan Eva,("tidak aku sangka, ternyata Sasha sehebat itu... aku mungkin membutuhkan dia, di masa yang akan datang ") gumamku.


 "adakah cara untuk membuat Sasha menuruti-ku?" ucapku,


"tentu ada caranya... " (Eva mendekatkan bibirnya ke telingaku ) "dia punya rasa penasaran yang tinggi, akan sesuatu hal yang baru dan itu celah yang bisa kamu manfaatkan" ucap Eva sambil berbisik.


"dan satu hal lagi... Sasha hanya mau mendengarkan perintahmu, dan dia tidak mau ada di bawah kendali Marinka, jadi kamu yang harus turun langsung untuk memerintahkan-nya, di bawah naunganmu" ucap Eva sambil berbisik.


"tapi aku kurang yakin tentang hal ini " ucapku,


"eh, kenapa?" ucap Eva dengan ekspresi penasaran.

__ADS_1


"Dia pernah beberapa kali memanfaatkan-ku" ucapku.


"hehe, itu cara dia agar mendapatkan perhatian darimu, Admiral... aku tau hal itu karena aku merupakan orang yang cukup dekat dengan Sasha" Ucap Eva sambil tersenyum kecil.


"adakah cara untuk membalasnya?" ucapku.


"tentu ada" ucap Eva sambil berbisik.


---->>>


setelah beberapa waktu..


Seluruh gadis memenuhi kantin untuk makan malam,


mereka membawa beberapa masakan di atas piring... dan kalian pasti tau, mereka akan memaksaku untuk mencicipi setiap masakan,


mau tak mau, aku harus mencicipi-nya, karena aku tidak ingin membuat mereka kecewa,


untuk beberapa alasan aku memutuskan untuk pergi ke kamar, dengan alasan 'aku sangat kelelahan' tapi pada kenyataannya aku sudah tidak sanggup lagi untuk makan.


Aku berbaring di atas kasus yang empuk sambil memikirkan kegiatan selanjutnya, hingga aku ketiduran.


di hari selajutnya, aku di bangunkan oleh Eva yang mengetuk pintu kamarku.


"Admiral, bangunlah, " ucap Eva dari balik pintu.


"uhh, yahh aku bangun." ucapku sambil bangkit dari ranjang,


aku mandi, kemudian memakai Set zirahku.


Setelahnya aku berjalan keluar untuk menyambut hari yang baru.


"Admiral, anda terlihat penuh energi" ucap Eva sambil menyapa.


"tentu, soalnya aku seorang admiral" ucapku.


"bagus!, sekarang ikuti aku... aku akan menjelaskan agenda selanjutnya di dalam pesawat" ucap Eva, ia terlihat senang.


Hari ini, kami sengaja berangkat sangat pagi untuk menghindari kerumunan gadis yang ingin ikut,


pesawat Black Sir berangkat dengan membawa beberapa crew dari unit suplai, dan beberapa orang yang aku undang yaitu, Eva, Marinka.


aku juga berencana mengajak Sasha, karena mungkin kemampuannya akan berguna,


"Btw, Di mana Sasha" ucapku,


"Pasti dia bersembunyi di sekitar sini" Ucap Marinka sambil memeriksa seisi ruangan pesawat Black Sir.


"Baiklah, ayo berangkat" Ucap Eva, ia melakukan Take off.


"Eva, apakah kamu sengaja meninggalkan dia " ucapku.


"tidak, karena Feeling-ku mengatakan, dia sudah ada di sini" Ucap Eva,


...


Sebuah pesawat tempur meluncur ke wilayah Elf,


kami di sambut dengan sambutan hangat seperti biasanya, dari para prajurit Elf yang berjaga Di RedWood.


Setelah beberapa jam...


kami memenuhi semua undang mereka untuk makan bersama di pagi hari,


Setelah makan...


Di depan meja besar, aku mengutarakan niatku beberapa niatku di pagi ini.


"Tuan Edgar, aku sebenarnya ini meminta pertolonganmu, " ucapku, sambil menyeruput kopi hangat.


"minta tolong apa?, Aku mungkin bisa membantu kalau itu tidak terlalu sulit" ucap Edgar.


"Aku sebenarnya ingin berbelanja beberapa bahan pangan yang lain, seperti Keju, garam, gula dan daging," ucapku.


Waktu itu,Edgar terlihat mengerutkan keningnya, lalu berkata "Itu agak sulit, karena daging kurang populer di sini... beberapa Elf juga punya masalah pencernaan bila mereka memakan daging" ucap Edgar sambil memegang dagunya.


"Tuan Edgar... Biar aku yang membantu mereka, " Ucap Arlen sambil mengajukan diri,


"Saran apa yang kamu punya Arlen?" Ucap Edgar.


"Bagaimana kalau aku mengajak mereka ke Silverrift Bazaar... di sana mereka tambang mineral terbesar dan terdekat dari sini"


"tapi di sama merupakan wilayah kaum Bestelia, kita setidaknya harus menyiapkan urusan sebelum pergi kesana" ucap Edgar sambil menyeruput tehnya.


"Aku bisa menjadi utusanmu, karena aku memiliki beberapa kenalan pedagang di sana" Ucap Arlen.


"ngomong-ngomong, Bestelia itu kaum apa?" ucapku karena rasa penasaran.


"Mereka adalah Demi Human, sama seperti dirimu" ucap Edgar.

__ADS_1


"bagaimana dengan itu, Tuan Felix" ucap Arlen.


"Aku tidak masalah selama mereka bersahabat" ucapku sambil menghisap cerutu.


"Ya sudah kalau begitu, aku juga akan menyiapkan gula dari wilayah ku." Ucap Edgar.


"sudah di putuskan... beberapa anggota ku juga akan ikut mengantarkan mereka" ucap Arlen.


Setelah beberapa waktu berlalu.....


Arlen membawa dan beberapa dua anggota nya, membawa beberapa lusin kulit yang telah di samak bersama mereka,


"kamu yakin akan membawa semua kulit ini?" ucapku sambil mengamati barang bawaan Arlen.


"ya... para pedagang sangat menyukai kualitas dari kulit olahan kami" ucap Arlen.


"oke kalau begitu... unit suplai!, angkut semua kulit ini ke dalam bagasi pesawat" ucapku sambil memberikan perintah ke pada para unit suplai Yang ikut.


.....


di waktu sekarang,


Seluruh barang telah dikemas ke dalam bagasi pesawat Black Sir.


para Elf juga membawa puluhan keranjang besar berisi buah, karena mereka berkata bahwa ini merupakan kesepakatan dengan bangsa Bestelia, bila kami akan berkunjung ke sana


Arlen dan kedua anak buahnya bersikeras untuk memilih duduk di bagasi pesawat, akupun tidak melarang mereka.


...


pesawat tempur Black Sir melesat ke udara, menuju lokasi yang telah Arlen tentukan.


Waktu itu Sasha terlihat keluar dari bawah meja komputer.


"woamm,,, selamat pagi semuanya..." ucap Sasha sambil menguap dan merentangkan tangannya.


"Sialan!, ternyata kamu bersembunyi di sana rupanya!, " ucap Marinka sambil memelototi Sasha.


"Lah.. emang kenapa?" ucap Sasha dengan nada santainya, ia membalas tatapan Marinka.


Aku tau pasti akan terjadi perkelahian. sebelum itu terjadi aku memarahi mereka berdua agar mereka diam.


"Admiral... ada makanan?" ucap Sasha.


"Ada... Eva, berikan di bekal ku" ucapku.


"Woah... thanks admiralku, kamu yang paling aku sayang" Ucap Sasha sambil membuka bekal yang ia terima dari Eva.


"Sasha, apa yang kamu lakukan di pesawat ku, dan kenapa kamu tidur di belakang panel komputer?" Ucapku sambil menatap gadis itu yang sedang makan dengan lahap.


"Ini Karena salahmu, admiral?" ucap Sasha.


"lah... ko salahku?" ucapku bertanya.


"yah, karena kamu tidak mengajakku, dan membiarkan ku untuk menyelinap ke dalam pesawat" Ucap Sasha sambil menghabiskan bekal yang ia pegang.


(" kenapa jadi aku yang di silahkan... padahal dia sendiri yang sulit untuk di lacak" ) gumamku.


"Jangan banyak alasan!... Bilang saja kalau kamu ingin ikut" Ucap Marinka.


Sasha menatap Iri ke arah wajah Marinka, selepas mendengar sindirannya.


"Kamu boleh bergabung kok Sasha, asal kamu mau berkontribusi dan menuruti perkataan Admiral" Ucap Eva, sambil menoleh ke belakang.


"Benarkah Admiral?" ucap Sasha dengan ekspresi penuh semangat, Sasha menatap wajahku dengan antusias, tapi tangannya meraih saku jaketku dan mengambil sebatang Cerutu.


"Tapi kamu nampaknya tidak bisa di andalkan" Ucapku sambil bercanda.


"Kamu bisa mengandalkan-ku, aku bersumpah... aku!, aku janji akan menurutimu" Ucap Sasha ekspresi memohon.


Eva tersenyum sambil menatapku, Ia memberikan kode bahwa rencana kita untuk membujuk Sasha telah berhasil.


aku juga tersenyum balik ke arah Eva.


"Eh?, apa kalian bersekongkol?" ucap Sasha dengan ekspresi curiga.


"Ya, tapi karena kamu sudah bersumpah, maka kamu harus menepati sumpahmu.” ucapku sambil menatap Sasha.


" hadehh.. Dasar kalian berdua, bisa-bisanya menipuku" Ucap Sasha sambil menyulut cerutu.


Sasha kemudian melanjutkan Ucapannya.


"Baiklah... karena aku menyayangi kalian semua, aku akan membagikan Software yang sedang aku kembangkan, Ucap Sasha sambil mengeluarkan flashdisk dari saku bajunya.


Sasha lalu berusaha memasangkan flashdisk itu ke port yang ada di belakang leherku.


" Eh apa ini?" ucapku dengan ekspresi kaget.


"Diam sebentar admiralku... ini hanya software penerjemah yang baru beberapa hari ini, aku kembangkan" Ucap Sasha sambil memegang kedua pundak-ku.

__ADS_1


__ADS_2