Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Pertengkaran


__ADS_3

Adel terkejut karena baru menyadari kehadiran Nara, dia yang sebelumnya ingin meledak-ledak seketika diam tak berkutik setelah teguran dari Nara, bukan apa-apa Adel merasa tidak enak kepada Nara karena baginya Nara adalah gadis yang baik dan lembut, apalagi dia sudah menolong Adel untuk memeriksakan keadaannya saat tragedi kecelakaan kemarin.


"Kalian berdua bisa untuk tidak bertengkar?" Kali ini suara Nara sudah tidak sekeras sebelumnya.


Kaisar berdehem pelan sedangkan Adel menggaruk hidungnya yang tidak gatal, mereka berdua seperti anak kecil yang tengah dinasehati orang tuanya.


"Bisa?" Tanya Nara sekali lagi.


"Bisa sayang bisa, maaf tadi reflek aja." Kaisar menjawab sambil kembali duduk ke tempatnya semula.


Sedangkan Adel masih diam mematung di tempatnya. Melihat itu, Kaisar langsung melotot ke arah Adel dan mengusir gadis itu menggunakan gerakan matanya.


"Eh tunggu dulu, mau kemana?" Nara mencegah kepergian Adel.


"Ee maaf kak, saya buru-buru, sudah ditunggu seseorang soalnya." Jawab Adel, ia pun bersiap melangkah pergi namun lagi-lagi Adel mencegahnya.


"Tunggu sebentar dek." Ucap Nara, Nara kemudian melihat ke arah Kaisar yang sibuk membersihkan bajunya.

__ADS_1


"Kai, kamu belum minta maaf kan ke Adel? Minta maaf sekarang juga." Perintah Nara.


Kaisar menunjuk dirinya sendiri merasa heran kemudian berkata, "Aku? Bukannya tadi udah minta maaf?" Jawabnya kepada Nara, kemudian dia melihat ke arah Adel yang masih berdiri, "Iya kan?" Tanyanya kepada Adel dengan tegas.


"Sialan orang ini, kalau nggak ada pacarnya, ingin sekali aku mencekiknya sampai m*ti." Ucap Adel dalam hati.


Adel pura-pura tertawa, dia tidak mau terlibat perdebatan semakin jauh apalagi dia sudah terlambat, "Haha iya kak, tadi dia udah maaf, udah gak apa-apa gak usah diperpanjang, bukan masalah besar juga kok." Jawab Adel dengan tawa terpaksanya.


"Bajumu?" Tanya Nara.


"Ohh... Ini nanti dibersihkan juga ilang kok nodanya, ya udah ya kak saya pergi dulu udah telat banget, nggak enak buat orang nunggu." Setelah berkata demikian Adel langsung meninggalkan Kaisar dan juga Nara.


"Kai, kamu bisa nggak sih untuk belajar nahan emosi kamu? Apalagi kita di tempat umum kaya gini." Kali ini Nara benar-benar terlihat sangat kesal dengan tindakan Kaisar tadi.


"Tapi kan-"


"Nggak ada tapi-tapian, mulai sekarang aku nggak mau tau, kamu harus bisa ngatur emosi kamu. Aku nggak suka ya kamu marah-marah kaya tadi padahal jelas-jelas itu kesalahan kamu."

__ADS_1


"Sayang..." Kaisar berusaha membujuk Nara.


"Kamu itu kaya anak kecil tau nggak sih Kai, aku nggak apa-apa kalau kamu marahnya bukan di tempat umum kaya gini."


"Iya-iya maaf, udah ya jangan dibahas ini kan anniversary kita, masa kita rayainnya sambil marahan kaya gini, kan sia-sia jadinya kan?" Ucap Kaisar.


Nara menghela nafas berat tapi raut wajahnya masih kesal seperti sebelumnya.


"Ayolah tunjukkan senyum manismu, smile." Ucap Kaisar sambil menunjuk ujung bibirnya sendiri seakan-akan menarik bibirnya untuk tersenyum.


Nara hanya tersenyum tipis kemudian berkata, "Tolong ya sayang jangan seperti tadi."


"Iya sayang iya."


"Ya udah ayo makan."


"Tapi aku ke toilet dulu bentar ya, mau bersihin baju yang kena minuman tadi, sambil aku pesanin lagi minuman untuk kamu, tadi yang tumpah minuman kamu kan? Mau pesan minuman yang sama atau ganti?" Tanya Kaisar.

__ADS_1


"Sama aja yang."


"Ya udah tunggu bentar sini." Selepas berkata demikian Kaisar langsung pergi untuk memesan minuman dan pergi ke toilet.


__ADS_2