Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Ketahuan


__ADS_3

"Kaisar pulang, Ma." Ucap pemuda yang kini sudah membaringkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu, matanya sudah siap terpejam sebelum akhirnya Anika menarik telinga Kaisar dengan cukup keras.


"Aw! Mama kenapa sih!" Kaisar mengaduh kesakitan sambil memegangi telinganya.


"Kenapa?" Ucap Anika, lalu duduk di tempat Kaisar merebahkan diri sehingga membuat pemuda tersebut terbangun.


"Kamu masih tanya mama kenapa?" Lanjut Anika.


Namun Kaisar hanya diam karena merasa bingung, pemuda tersebut terlihat berfikir beberapa saat sebelum sebelum akhirnya berkata, "Oh!!! Hehe maaf ya ma, bukannya langsung mandi Kaisar malah tiduran disini. Ya udah Kai pergi mandi dulu ya Ma." Ucap pemuda tersebut kemudian bangun dari duduknya dan bersiap pergi.


"Eh, kata siapa mama jewer telinga kamu karena itu?" Tanya Anika.


Kaisar menggaruk alisnya karena benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud oleh Anika.


"Terus apa dong?"

__ADS_1


"Pergi kemana kamu semalam?" Tanya Anika dengan suara dingin.


Bulu kuduk Kaisar seketika berdiri mendapat pertanyaan dari mamanya tersebut. Sial, sungguh sial, seharusnya Kaisar tahu bahwa membohongi Anika adalah sebuah tindakan yang sia-sia.


"Ya... Di rumah Andre lah ma, kan Kai udah kasih tahu semalam." Jawab Kaisar.


Anika melipat tangan di depan mata, sorot matanya tajam ketika mengetahui anak semata wayangnya tak juga berkata jujur, "Tadi pagi mama telfon Andre, katanya kamu nggak nginep disana, jadi kemana kamu semalam?"


"Duh sial, si Andre nggak bisa diajak kompromi, cari alesan apa ya ini?" Ucap Kaisar dalam hati, pemuda tersebut terdiam cukup lama berusaha mencari alasan yang masuk akal.


"Dasar anak nakal!" Anika terus menggerutu setelah kepergian Kaisar, dia memilih mengurus tanamannya sembari menunggu Kaisar selesai membersihkan diri.


Disisi lain, Kaisar yang sudah berada di dalam kamarnya tersebut terlihat duduk termenung di atas ranjangnya, dia bimbang bagaimana cara menceritakan kejadian semalam kepada Anika. Karena jika Anika tahu bahwa Kaisar tanpa sengaja menabrak Rendra, wanita paruh baya tersebut pasti akan pergi menjenguknya ke rumah sakit dan hubungan mereka akan kembali dekat, sungguh untuk memikirkannya pun Kaisar sangat tidak mau apalagi jika benar hal itu akan terjadi.


Kaisar menggelengkan kepalanya berulang kali, "Nggak! Jangan sampai hal itu terjadi!" Kaisar menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi.

__ADS_1


"Lebih baik aku pergi mandi, siapa tahu setelah mandi aku bisa berfikir dengan jernih dan bisa mendapatkan alasan yang bisa dipercaya oleh mama." Lanjutnya yang kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kurang lebih lima belas menit waktu yang ia habiskan untuk membersihkan diri, akhirnya Kaisar keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang di lilit ke pinggangnya.


"Ah segar rasanya!" Ucap pemuda tersebut lalu mengambil baju dari dalam lemari.


Kaisar terlihat gagah dengan memakai setelan berwarna hitam, kulitnya yang putih semakin terlihat bersinar.



"Ah aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mama tahu kemana aku semalam." Ucap Kaisar sembari mengeringkan rambutnya.


"Jujur tidak, jujur tidak, jujur tidak, ah aku merasa frustasi sekali!" Lanjutnya, dia mengacak-acak rambutnya sendiri yang sudah mengering itu.


Kaisar menghela nafas berat sebelum berkata, "Kalau aku bohong sudah pasti lama kelamaan akan kebongkar juga, kalau jujur juga bukan hal yang mudah." Kaisar melihat pantulan dirinya di cermin kemudian melanjutkan perkataannya, "Baiklah, ayo kita berkata dengan jujur, karena membohongi mama juga percuma."

__ADS_1


__ADS_2