Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Dua orang tengah duduk dalam suasana tegang, mereka saling beradu pandang yang seolah mematikan. Udara di sekitar mereka bahkan terasa menyesakkan.


Seorang wanita lebih dulu menyodorkan selembar foto ke atas meja, "Jauhi putrimu dari putraku."


Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya dengan tangan yang bersidekap dan dengan wajah congkaknya ia pun menjawab, "Cih! Dugaanku memang tak pernah salah." Ucapnya setelah melihat sekilas foto yang ada di atas meja.


"Kenapa Anda tak mengatakan sendiri pada putra Anda untuk menjauhi anak saya?" Lanjutnya.


"Aku tak mau menyakiti putraku, kalau kita menjauhkan mereka secara diam-diam, mereka tak akan curiga."


"Anda pikir saya mau menyakiti anak saya?"


Anika tertawa sinis sebelum berkata, "Bukankah Anda memang seperti itu? Terus menerus Menyakiti putri Anda hingga gadis itu nyaris bu**h diri?"


Satya menggertakkan giginya geram, wajah yang sebelumnya tenang kini mulai terpancing emosi, "Jaga ucapanmu Nyonya Anika!"


Sedikit lagi Satya akan memukul meja kalau tak ingat bahwa mereka tengah berada di tempat makan sebuah mall yang ramai pengunjung.


"Lagipula itu bukan urusan saya, yang saya mau cuma satu hal, jauhkan putri Anda dari Kaisar, anak saya."


Anika berdiri dan bersiap pergi, namun dia membalikkan badannya lagi dan melanjutkan perkataannya, "Kalau tidak, saya akan melaporkan tindakan Anda selama ini yang telah menyiksa putri Anda sendiri, dan saya punya buktinya."


"Tanpa Anda minta sekali pun, saya akan melakukan segala cara agar putri saya tak berhubungan dengan pemuda brengsek seperti anak Anda!" Ucap Satya dengan penuh penekanan.


Anika tak menjawab sepatah kata pun, wanita paruh baya itu pergi dengan senyum misterius yang menyungging di bibirnya.


"Sial!!! Berani-beraninya wanita itu mengancamku!" Umpat Satya seraya memukul angin dengan begitu kesal.

__ADS_1


***


"Kita mau kemana kak?" Adel bertanya saat keduanya sudah berada di dalam mobil sedan milik Kaisar.


"Aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang." Kaisar tersenyum seraya mengusap rambut Adel dengan begitu lembut.


"Aku harus memastikan sendiri tentang kebenarannya." Teriak Kaisar dari dalam hati.


Adel menyipitkan matanya dengan sinis, "Siapa?"


"Udah ikut aja, nanti kamu juga tau." Selepas menjawab demikian, Kaisar langsung menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil dengan lincahnya.


Kaisar menatap jalanan dengan tatapan nanar, dia terus merenung di sepanjang jalan. Andai dugaannya benar, apa yang akan ia lakukan, pikirannya.


"Jalan ini kan..." Gumam Adel, dia menyadari sesuatu, rupanya ia ingat betul jalan tersebut menuju kemana.


"Tenang sayang nggak usah cemas, percaya aja sama kakak." Jawab Kaisar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Adel.


Adel hanya diam tak menanggapi dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, mobil Kaisar memasuki sebuah perkampungan, tak lama, mobilnya berhenti di sebuah rumah kecil yang cukup sederhana, rumah dengan desain yang hampir sama dengan semua rumah penduduk di perkampungan tersebut.


Adel membelalakkan matanya tepat setelah Kaisar menghentikan mobilnya di depan rumah itu.


"Kak?" Adel menoleh ke Kaisar dengan sorot mata yang terlihat begitu cemas.


Kaisar hanya tersenyum menanggapi panggilan Adel, pemuda itu kemudian turun dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Adel.

__ADS_1


"Yuk turun." Kaisar mengulurkan tangannya namun hanya di tatap oleh gadis tersebut.


Kaisar menggerakkan uluran tangannya dan kembali berkata, "Ayo turun, kenapa diam aja?"


Adel menerima uluran tangan Kaisar dan keluar dari dalam mobil, Kaisar berjalan dengan menggandeng tangan Adel namun mendapati Adel hanya diam di tempat.


Kaisar menatap Adel lalu mengangkat sebelah alisnya, "Kok diem, ayo jalan."


"Kak, kita pulang aja yuk, tiba-tiba kepalaku pusing."


Kaisar langsung memeriksa suhu tubuh Adel menggunakan punggung tangannya, "Nggak panas, tapi kok kamu jadi berkeringat gitu? Padahal cuacanya mendung." Ucap pemuda tersebut setelah memeriksa keadaan Adel.


"Ayo kak pulang, Adel pusing." Rengek Adel.


"Kalo pulang sekarang perjalanannya jauh Del, lebih baik kita istirahat dulu di dalam rumah itu, lagian kita baru aja sampe lho, kalo kita langsung pulang sayang dong."


"Tapi kak-..."


"Kita masuk dulu habis itu kita pulang." Kaisar memotong perkataan Adel secara sepihak dengan berkata cukup tegas.


Jika ketegasan Kaisar sudah keluar, Adel pun tak mampu membantah lagi, mau tak mau gadis itu harus menuruti perkataan Kaisar.


Keduanya melangkahkan kaki menuju rumah yang ada di depannya, Kaisar langsung mengetuk pintu dan memanggil nama penghuni rumah tersebut sampai beberapa kali sebelum akhirnya pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok laki-laki paruh baya yang terlihat masih gagah dan tampan.


Keterkejutan nampak jelas di raut wajah laki-laki paruh baya tersebut setelah ketiganya bertemu pandang.


"Nak?!!"

__ADS_1


__ADS_2