Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Tidak Tenang


__ADS_3

Sepulang dari pusat perbelanjaan dan dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengantar Nara, ponsel sama sekali tak lepas dari tangan Kaisar, pemuda itu terus berusaha menghubungi Adel di sela-sela menyetirnya.


"Kai, bisa ditaruh dulu nggak HPnya? Kamu lagi nyetir lho." Nara berusaha mengingatkan.


"Iya bentar dulu nggak lama kok." Jawab Kaisar sembari terus berusaha menelfon Adel.


"Ck! Nggak lama apanya, sepanjang jalan kamu nelfon terus sampai nggak fokus nyetir. Siapa sih yang kamu telfon sampe segitunya?!"


Melihat Kaisar yang tak menanggapi ucapannya, Nara tanpa ragu merebut ponsel dari tangan Kaisar yang membuat pemuda itu sedikit terkejut.


"Kamu apa-apaan sih?!" Tanya Kaisar dengan sedikit kesal.


"Bisa nggak kamu fokus nyetir dulu, terus main HPnya nanti?"


Kaisar mengalihkan pandangannya kesal, dia bahkan sampai mengebut. Selain kesal karena ponselnya direbut paksa oleh Nara, pemuda itu juga kesal karena Adel sama sekali tak merespon panggilan dari Kaisar.


Nara yang cukup paham dengan watak Kaisar hanya diam tak berkata lebih jauh, kalau dirinya melanjutkan ucapannya, maka Nara akan menjadi pelampiasan amarah Kaisar.


Keduanya sampai di rumah sakit dan Nara langsung menemui dokter karena sudah membuat janji sebelumnya. Sedangkan Kaisar hanya menunggu di ruang tunggu tanpa ikut menemani Nara masuk ke dalam ruangan dokter.


Sembari menunggu, Kaisar kembali mencoba menghubungi Adel namun kali ini nomor dari gadis tersebut sama sekali tidak aktif, sepertinya Adel sengaja menonaktifkan ponselnya.

__ADS_1


Nanti malam aku akan ke rumahmu. Jangan kemana-mana.


Entah dibaca atau tidak yang penting Kaisar sudah member pesan sebelumnya, pikir pemuda tersebut.


Setelah kurang lebih setengah jam berapa di ruangan dokter, Nara keluar dengan perasaan yang lebih lega dari sebelumnya. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, mental Nara terguncang hebat sehingga dia membutuhkan psikiater untuk membantu memulihkan keadaannya seperti sekarang.


"Udah selesai?" Tanya Kaisar ketika Nara sudah berada di hadapannya.


"Udah." Jawab Nara singkat.


Kaisar berdiri kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana, "Kalau begitu kita langsung pulang aja ya." Ujarnya.


"Nggak bisa Kai, aku harus nunggu obat dulu." Nara menatap Kaisar yang diam seolah ingin pergi saat itu juga, "Kalau kamu lagi ada urusan penting, kamu boleh pulang sekarang kok. Nanti aku pulang naik taksi aja." Lanjutnya.


Kaisar tentu tak tega membiarkan Nara pulang seorang diri, apalagi pemuda itu sudah terlanjur mengucap janji untuk menjaga Nara dan menemaninya sampai gadis itu sembuh.


"Beneran nggak apa-apa?" Nara bertanya karena melihat raut kegelisahan dalam wajah Kaisar.


Menyadari itu, Kaisar menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Nggak apa-apa kok santai aja."


Keduanya pun pergi ke apotek rumah sakit berniat menebus obat Nara.

__ADS_1


Sembari menunggu keduanya melakukan percakapan hingga muncul pertanyaan dari Nara yang cukup mengejutkan Kaisar, "Kai kamu ada hubungan ya sama Adel?"


"M-maksud kamu?" Kaisar balik bertanya dengan gugup.


"Ya aku nebak aja, saat nggak sengaja ketemu di pusat perbelanjaan tadi kalian berdua kayak kaget gitu, apalagi maaf, tadi saat aku rebut HP kamu, aku nggak sengaja lihat nama Adel di HP kamu yang sedang kamu hubungi."


Melihat Kaisar hanya diam menatapnya, Nara langsung mengetahui jawabannya, "Sejak kapan?" Tanyanya lagi.


"Apanya?" Tanya Kaisar.


"Kalian berdua, kamu sama Adel udah dari kapan pacaran?"


"Itu..." Kaisar seolah ragu untuk berkata jujur di depan Nara.


"Kok kayak ragu gitu jawabnya? Kamu nggak enak ya sama aku? Astaga Kaisar, hanya karena aku lagi ada masalah bukan berarti aku larang kamu jalin hubungan sama orang lain." Nara menepuk jidatnya sendiri menyadari isi pikiran dari Kaisar.


"Kenapa kamu bisa bicara begitu? Sok tau!" Kaisar membuang muka merasa sedikit malu karena isi pikirannya bisa mudah terbaca.


Nara tertawa pelan kemudian berkata, "Udahlah kamu nggak usah pura-pura kayak gitu, aku udah hapal betul sifat kamu."


Mendengar Nara yang tertawa renyah meskipun pelan, ada sedikit kelegaan menyelimuti hati Kaisar, "Tapi Nara, sejujurnya aku emang sempat khawatir sebelumnya, mengingat kondisi dan situasi kamu yang sedang ditimpa ujian dan membutuhkan seseorang di samping kamu, aku nggak mungkin membicarakan tentang hubunganku dengan Adel."

__ADS_1


Nara hendak menjawab, namun tiba gilirannya untuk mengambil obat.


Jangan lupa klik rate, vote, like dan komen ya. Jangan jadi silent reader yaa... Terimakasih 💜


__ADS_2