Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Kata Maaf


__ADS_3

"Hai, bagaimana keadaanmu?" Anika mengembangkan senyum hangatnya kepada Rendra.


"S-sudah lebih baik, terima kasih." Jawab Rendra dengan suara yang terbata-bata.


"Buah." Anika mengangkat buah yang ada ditangannya kemudian meletakkannya ke atas meja.


"Ah kamu tidak perlu repot-repot Ika."


"Nggak apa-apa cuma buah nggak repot kok." Lagi-lagi Anika tersenyum hangat yang membuat hati Rendra sedikit bergetar.


Kaisar yang menyadari perubahan raut wajah Rendra segera berdehem cukup keras untuk memecah suasana.


"Ehem! Apakah siang ini dokter sudah memeriksa keadaan papa?" Tanya Kaisar.


"Belum, kata perawat yang sebelumnya datang, dokter akan datang satu jam lagi." Jawab Rendra.


"Rendra, aku turut menyesal atas kejadian yang menimpamu, dan sebagai orang tua Kaisar aku sungguh-sungguh minta maaf atas apa yang sudah terjadi." Anika sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penyesalan.


Rendra dan Kaisar membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang Anika lakukan.


"Ika, apa yang kamu lakukan? Apa kamu lupa Kaisar juga putraku, putra kita. Untuk apa kamu berbicara seperti itu?!" Rendra sedikit menekankan ucapannya.


"Tolong, berhentilah jangan membungkuk di depanku." Lanjut Rendra.


"Mama ngapain membungkuk seperti itu? Nggak seharusnya mama berlaku demikian." Protes Kaisar.


Anika menoleh ke arah Kaisar dan menatapnya lekat, "Mama yakin kamu belum minta maaf sama papamu, untuk itu mama harus melakukan ini."


Kaisar berdecak pelan, "Tapi ma, Kaisar kan nggak lari dari tanggung jawab, apa itu belum cukup juga?"


"Kaisar! Sejak kapan mama ngajarin kamu jadi seperti itu?!"

__ADS_1


"Sudahlah Ika, tidak perlu dibahas apa yang dikatakan Kaisar itu benar." Rendra berusaha menengahi.


Namun Anika tak menggubris perkataan Rendra, "Kaisar, mama mau kamu minta maaf sekarang!" Ucapnya kepada Kaisar dengan penuh penekanan.


"Apa sih ma!" Kaisar tau mau kalah dan terus menolak perintah dari Anika.


Rendra semakin tidak enak hati karena dia adalah alasan ibu dan anak itu sampai bertengkar.


"Mama minta sekali lagi, atau mama akan marah. Cepat minta maaf sama papa kamu sekarang!"


Tak mau berdebat lebih jauh, dengan wajah malas akhirnya Kaisar menuruti perintah Anika, "Maaf." Ucapnya singkat tanpa memandang ke arah Rendra sedikitpun.


Meskipun Rendra tahu Kaisar mengucapkan kata maaf dalam kondisi terpaksa, dia tetap senang mendengarnya, Rendra menyunggingkan senyum tipis ketika melihat tingkah gengsi dari putra semata wayangnya tersebut.


"Iya nak, tidak apa-apa." Jawab Rendra.


Anika juga ikut tersenyum lega melihat putranya mau menuruti perkataannya, "Nah begitu kan lebih baik. Kamu harus bisa belajar dewasa sayang."


Beberapa saat kemudian dokter bersama seorang perawat laki-laki datang ke ruangan Rendra.


"Selamat siang." Sapa dokter tersebut dengan ramah.


"Siang dok." Jawab ketiganya bersamaan.


"Saya periksa kondisi bapaknya dulu ya." Ucap dokter tersebut yang kemudian melakukan tugasnya dengan teliti.


Selesai memeriksa, dokter tersebut kemudian menanyai beberapa keluhan yang mungkin dialami oleh Rendra.


"Dari hasil pemeriksaan, kondisi pasien sudah mulai membaik. Mungkin tiga atau empat hari kedepan sudah diperbolehkan pulang." Dokter tersebut menjelaskan dengan gamblang.


"Hasil labnya juga sudah keluar, bisa diambil ke ruangan saya." Lanjut dokter tersebut.

__ADS_1


"Apa hasil labnya baik dok?" Tanya Anika.


Dokter itu mengangguk pelan, "Semuanya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja untuk kakinya yang patah butuh waktu yang lama agar bisa berfungsi dengan baik seperti sedia kala."


Anika mengangguk mengerti dengan penjelasan dokter, "Baik dok, kami mengerti."


"Kalau begitu saya permisi." Pamit dokter.


"Terima kasih dok." Ucap Anika dan Rendra.


Anika menghela nafas lega, "Syukurlah Rendra, semuanya baik kecuali kaki kananmu."


"Ah iya Ika, karena Kaisar memang tidak ngebut waktu itu jadi semuanya masih aman." Jawab Rendra.


Anika mengangguk pelan kemudian berkata kepada Kaisar, "Nak, tolong ambilkan hasil lab di ruangan dokter ya."


Kaisar tidak menjawab, dia langsung pergi ke ruangan dokter.


"Ika, terima kasih karena sudah mau datang menjengukku." Ucap Rendra setelah memastikan kepergian Kaisar.


Anika tersenyum kemudian menjawab, "Bukan apa-apa Rendra, meski bukan kamu yang menjadi korban kecelakaan Kaisar, aku juga pasti akan menjenguknya."


Rendra memegang dadanya setelah mendengar jawaban dari Anika, entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar wanita yang masih dicintainya itu berkata demikian, Rendra pikir Anika mau menjenguknya karena Anika khawatir padanya, ternyata dugaannya salah.


"Eh kenapa? Apa dada mu sakit?" Tanya Anika karena melihat Rendra memegangi dadanya.


Dengan senyum terpaksa Rendra menjawab, "Ah iya sedikit."


"Apa perlu aku panggilkan dokter?"


"Jangan! Itu tidak perlu, sekarang sudah tidak apa-apa." Jawab Rendra.

__ADS_1


"Bukan dokter ataupun obat yang mampu menyembuhkanku Ika, tapi dirimu lah obat penawar yang paling berharga untuk hidupku. Aku bahkan tidak bisa menyentuh seujung rambutmu, sekalipun aku tahu kamu ada di depanku." Rendra berkata dalam hati. Perasaannya begitu teiris.


__ADS_2