
Saat Nara dan bapak tersebut sedang asik berbincang-bincang, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan, orang itu terlihat membawa bungkusan berisi makanan, buah-buahan dan juga baju.
"Maaf aku pergi terlalu lama, di luar hujan sangat der-" Ucap orang yang baru masuk tersebut, namun sesuatu membuatnya terkejut sehingga dia tidak bisa menyelesaikan perkataannya, bahkan bungkusan yang ada ditangannya juga jatuh begitu saja.
Nara dan bapak itu juga sama terkejutnya, namun keduanya terkejut dengan alasan yang berbeda. Nara terkejut karena Kaisar sampai menjatuhkan barang bawaannya sedangkan bapak itu terkejut karena melihat kedatangan orang itu yang tidak lain adalah Kaisar.
Nara dengan cepat segera menghampiri Kaisar dan membantu mengambil bungkusan yang terjatuh itu. Sedangkan Kaisar hanya diam mematung di tempatnya, ia saling bertatapan dalam diam dengan orang yang ia tabrak sebelumnya itu.
"Papa?!" Ucap Kaisar lirih, namun masih terdengar jelas oleh Nara yang saat itu sedang berada didekatnya.
Ya, orang yang ditabrak Kaisar tidak lain adalah Rendra, sebuah kebetulan apalagi ini, kenapa Tuhan selalu memberikan cara agar Kaisar dan papanya bertemu lagi. Itu yang ada dibenak Kaisar saat ini.
Sedangkan Rendra yang sebelumnya berbaring, dia langsung duduk setelah melihat kedatangan Kaisar, putra semata wayangnya. Rendra ingin sekali mengatakan banyak hal, tapi entah kenapa mulutnya terkunci dan tanpa sadar air mata membasahi pipinya. Dia hanya bisa memanggil Kaisar dalam diam, melihat Kaisar begitu nyata ada didepannya, seolah-olah membuat Rendra seketika melupakan rasa sakit dari luka tabrakan yang didapatnya.
"Kaisar putraku, benarkah itu kamu nak? Kamu sudah besar dan gagah. Apa kamu masih mengenali aku, papamu?" Ucap Rendra dalam hati.
__ADS_1
"Papa?" Nara bertanya dengan heran, "Maksud kamu bapak ini adalah papa kamu, Kai?"
Mendengar pertanyaan dari Nara membuat Kaisar tersadar dari diamnya, "Ee-..." Kaisar bingung harus menjawab seperti apa, karena selama ini Kaisar tidak pernah menceritakan tentang Rendra, dia hanya bercerita kalau Anika merupakan orang tua tunggal.
"Bukan! Saya bukan papanya." Tidak disangka sebelumnya, Rendra justru tidak mengakui dirinya sendiri sebagai papa Kaisar, dan Kaisar yang mendengar itu cukup terkejut sekaligus heran, kenapa Rendra tidak bicara jujur saja.
Alasan Rendra tidak berkata jujur adalah, dia sempat melihat Kaisar yang kesulitan menjawab pertanyaan dari Nara mengenai dirinya, melihat kondisinya yang sekarang, dia berfikir mungkin Kaisar akan malu jika Nara mengetahui bahwa Rendra adalah papa dari Kaisar. Karena Rendra sudah bisa menebak kalau pacar yang dimaksud Nara sebelumnya adalah Kaisar, putranya.
"Oh kirain, mungkin aku yang salah denger tadi ya." Jawab Nara.
"Terima kasih." Jawab Rendra dengan tersenyum, bukannya langsung makan Rendra justru kembali memandang ke arah Kaisar yang juga tengah melihatnya sedari tadi tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Aku ganti baju dulu ya Kai." Ucap Nara kepada Kaisar dan langsung menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah memastikan Nara sudah masuk ke kamar mandi, barulah Kaisar berjalan menghampiri Rendra.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa harus papa? Kenapa kita harus bertemu lagi?" Kaisar bertanya dengan dingin.
Rendra yang tengah makan sampai menghentikan gerakannya mendengar pertanyaan dari Kaisar, "Setelah sekian tahun kita tidak bertemu, apa itu ucapan pertama kali yang harus papa dengar nak?"
Kaisar menghela nafas berat yang dilanjutkan dengan tawa sinis kemudian berkata, "Mendengar papa masih bisa protes seperti itu, aku rasa kondisi papa baik-baik saja."
"Lihatlah luka-luka ini, ah luka fisik seperti ini bisa sembuh dengan cepat." Lanjut Kaisar, dia berbicara sambil menunjuk setiap luka yang ada ditubuh Rendra.
Sakit, sakit sekali mendengar perkataan dari putranya sendiri yang dulu sangat dekat dengannya, kini berubah menjadi seperti orang asing. Bahkan kata maaf dari Kaisar yang telah menabraknya saja tidak keluar dari mulut pemuda itu.
"Apa papa sakit hati dengan ucapanku?" Tanya Kaisar, Rendra hendak menjawab namun Kaisar tak memberinya kesempatan, "Itu tidak sebanding dengan apa yang papa lakukan kepada kami beberapa tahun lalu!" Kaisar berkata pelan namun ucapannya penuh dengan penekanan.
Rendra hanya bisa menunduk penuh penyesalan, nafsu makannya hilang sudah, "Sebenci itukah kamu kepada papa nak?"
"Ya! Aku sangat membencimu! Sangat-sangat membencimu!" Nafas Kaisar begitu memburu rasanya dia ingin meluapkan segala emosinya selama ini, namun ia sadar masih ada Nara yang bisa saja mendengar semuanya.
__ADS_1
Melihat Rendra yang mulai terisak membuat Kaisar tertegun, dia sadar apa yang ia ucapkan tadi sudah keterlaluan, Kaisar hanya bisa mengepalkan tangannya.