
"Masuklah, mandi dan langsung tidur." Ucap Kaisar saat sudah sampai mengantar Adel ke rumahnya.
"Terima kasih untuk hari ini kak." Jawab Adel sambil menunjukkan senyum manisnya.
Kaisar mengangguk pelan kemudian berkata, "Ya udah, gue pulang sekarang." Ucapnya yang kemudian langsung menutup kaca helm dan melajukan motornya dalam kecepatan sedang."
Adel menatap kepergian Kaisar hingga hilang dalam pandangan sebelum gadis itu masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejutnya Adel ketika menapakkan kakinya di rumah Satya yang mewah itu, dia dihadapkan oleh pemandangan yang begitu mengejutkan.
"M-mama." Lirih Adel berkata.
Terlihat wanita paruh baya berpenampilan rapih dengan mengenakan dress selutut bermotif polkadot tengah duduk santai di ruang keluarga bersama Satya. Meskipun tubuhnya kurus, kecantikan tetap memancar dari wajahnya.
Satya dan Rani seketika menoleh ketika melihat kedatangan Adel.
Adel tak kuasa menahan perasaan bahagianya melihat Rani sudah dalam kemajuan yang pesat. Mengingat Rani biasanya hanya berdiam diri di dalam kamar enggan mengurus dirinya sendiri dan tidak mau menemui siapapun, kini bahkan mau keluar dari kamar dan mau mengurus dirinya sendiri dengan sangat baik.
__ADS_1
"Mama!" Adel tak sanggup lagi menahannya, gadis itu berlari menghampiri Rani dan hendak memeluknya.
Namun saat sudah tepat berada di depan Rani dan tangannya bersiap memeluknya, pertanyaan Rani membuat Adel seketika mematung.
"Kamu siapa?" Tanya Rani saat melihat Adel hampir memeluknya.
Deg!
Bagai disambar petir, pertanyaan Rani begitu mengejutkannya. Saat Adel akan memberitahu kepada Rani tentang siapa dirinya, Satya sudah lebih dulu berbicara mendahuluinya.
"Dia keponakanku, kebetulan orang tuanya sedang berada di luar negeri, karena hanya tinggal sendiri jadi dia dititipkan disini." Jelas Satya.
Dengan sangat terpaksa Adel pergi menuruti perintah dari Satya, tatapannya bertemu dengan tatapan Rani. Wanita paruh baya itu memberikan senyum kepada Adel dan dibalas oleh Adel dengan senyum paksa karena menahan tangis.
"Anaknya cantik ya, aku merasa seperti sangat dekat dengannya." Sekilas Adel mendengar pembicaraan Rani dengan Satya yang memujinya setelah dia pergi menuju kamarnya.
Di dalam kamar setelah menutup pintu, Adel tersungkur lemas melihat kenyataan yang baru saja terjadi, gadis itu menangis histeris mendapati mamanya tidak mengingatnya sama sekali. Padahal hari ini adalah hari yang sudah sangat lama dinantikannya, yaitu kesembuhan Rani, namun saat kondisi Rani sudah mulai membaik, kenapa dia sama sekali tak mengingat putrinya sendiri.
__ADS_1
"Ini aku ma, Adel anak mama." Adel berkata dengan suara yang bergetar.
Gadis itu menatap ke atas kemudian berkata, "Tuhan, aku sangat bahagia mama sudah membaik, tapi kenapa akhirnya jadi seperti ini. Kenapa harus aku yang Engkau hapus dari ingatan mama, kenapa?!!" Adel berteriak.
Beberapa saat kemudian barulah Satya menemui Adel untuk menjawab kebingungan gadis itu.
"Kamu sudah lihat sendiri keadaan Rani, meskipun sekarang kondisinya perlahan membaik, tapi alam bawah sadarnya menolak untuk mengingat hal-hal yang berkaitan dengan rasa traumanya." Jelas Satya.
"Memangnya Adel kenapa pa? Apa yang udah Adel lakuin sampai mama nggak ingat sama anaknya sendiri?!" Adel menolak menerima penjelasan dari Satya.
"Karena kamu mengingatkannya kepada laki-laki bajingan yang sudah membuat hidup Rani menjadi berantakan!" Jawab Satya setengah berteriak.
"Jadi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, saya minta kamu jangan pernah mengatakan siapa dirimu di depan Rani kalau kamu adalah anak kami." Tegasnya.
"T-tapi pa..."
"Tidak ada tapi-tapian! Saya tidak mau proses kesembuhan Rani jadi terhambat karena ulahmu!" Ucap Satya yang kemudian meninggalkan kamar Adel.
__ADS_1
Adel mencengkeram jemarinya sendiri kemudian berkata dengan penuh penekanan, "Baiklah jika itu yang papa inginkan!"