
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, hujan semakin deras dan gemuruh petir berbunyi silih berganti.
Anika menggigit kuku jari tangannya sendiri tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari pintu rumah.
"Kemana anak itu? Dihubungi juga nggak bisa." Tidak lain, Anika tengah menunggu Kaisar pulang, karena tidak biasanya pemuda itu pergi tanpa kabar.
Pintu rumah terbuka secara perlahan, dan munculah sosok pemuda dalam kondisi basah kuyup, pemuda itu melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan diiringi suara gemuruh petir yang jauh lebih keras dari sebelumnya.
Kaisar melangkahkan kakinya secara perlahan untuk menghampiri Anika, di sisi lain, perkataan Rendra masih saja terngiang-ngiang di kepalanya.
"Anika tidak akan setuju dengan hubungan kalian, akan lebih baik kalau kalian mengakhiri hubungan ini secepatnya."
Sebelum Kaisar memutuskan untuk pulang ke rumah, Rendra sekali lagi meyakinkan Kaisar bahwa Anika tidak akan setuju mengenai hubungannya dengan Adel. Namun Kaisar yang masih dalam masa semangat muda tak memperdulikan peringatan dari Rendra sedikit pun. Pemuda itu nekat dengan tujuannya untuk memberitahu Anika tentang hubungannya.
Anika tersenyum lega, wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri Kaisar, "Kamu kemana aja? Kenapa kamu nggak kasih mama kabar, ma-..."
Belum sempat Anika menyelesaikan perkataannya, Kaisar memotong secara sepihak, "Apa mama sayang sama Kaisar?"
__ADS_1
Anika cukup tertegun mendengar pertanyaan dari putranya tersebut, "Maksud kamu apa? Ya jelas dong mama sayang sama kamu."
"Apakah mama akan menyetujui dengan siapapun Kai akan bersama?" Lagi-lagi Kaisar bertanya dengan suara dingin.
Sepertinya Anika sudah paham kemana arah pembicaraan Kaisar. Wanita itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu itu kenapa? Pulang-pulang basah kuyup, udah gitu nanya yang aneh-aneh. Mama siapin air hangat dulu ya, habis itu kita bicara lagi."
Anika yang baru berbalik badan, kembali terhenti mendengar pertanyaan dari Kaisar, "Kai tanya sekali lagi, apa mama akan setuju dengan siapapun Kai menjalin hubungan?"
Anika menoleh dan menjawab, "Mama akan jawab sebelum kamu katakan apa maksud kamu." Kali ini Anika sudah mulai serius, wanita itu hendak melangkahkan kakinya namun dihentikan oleh perkataan Kaisar.
Anika membalikkan badan dan dengan gerakan cepat wanita itu melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Kaisar.
PLAK!!!
Untuk pertama kalinya dalam hidup Kaisar, Anika yang Kaisar kenal sebagai sosok ibu yang penyabar dan lemah lembut, kali ini di malam ini yang menjadi saksi, untuk pertama kalinya Anika tega menampar putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Kaisar meraba pipinya dengan tangan yang bergetar, pandangannya kembali bertemu dengan Anika, pemuda itu sungguh tak percaya Anika mampu melakukan itu.
"Inikah yang mama sebut sebagai sayang?" Kaisar berkata dengan tersenyum sinis.
"Kamu tau bagaimana mama berjuang keras untuk berhasil sampai di titik ini dari masa lalu yang menghancurkan rumah tangga mama, apa kamu lupa Kaisar?!!!!" Nafas Anika mulai tak beraturan.
"Tapi malam ini, di detik ini kamu dengan entengnya menyebut sebuah nama yang tidak ingin mama dengar lagi dalam kehidupan mama, padahal kamu sudah tau itu!!!" Lanjut Anika dengan suara jeritan keras.
Melihat Anika yang mulai susah bernafas karena emosi yang meluap-luap membuat Kaisar tersasar dan mau menurunkan egonya, pemuda itu berjalan mendekati Anika.
"Mama..." Panggil Kaisar pelan.
"Berhenti di sana dan jangan mendekat!" Anika menunjuk Kaisar dengan memberikan tatapan kemarahan.
Kaisar menuruti perkataan Anika dan hanya menyaksikan keadaan Anika dari jauh.
Dengan susah payah, Anika kembali berkata, "Apa cinta yang kamu sebutkan sebelumnya mampu membuatmu lupa dengan janjimu, bahwa kamu akan membahagiakan mama dan tidak akan pernah meninggalkan mama, hah?!"
__ADS_1
Kaisar mengibaskan tangannya, dia menepis pernyataan Anika, "Aku nggak pernah bilang aku akan mengingkari janjiku apalagi sampai meninggalkan mama, aku hanya minta mama merestui hubunganku dengan Adel!"