Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Menjenguk Rendra


__ADS_3

Kaisar menatap ponselnya dengan tatapan nanar setelah mendapat pesan dari Adel, "Kenapa tiba-tiba HPnya rusak? Apa terjadi sesuatu padanya?"


Berbagai pertanyaan muncul di kepala Kaisar, pemuda itu tidak bisa merasa tenang sebelum memastikan sendiri keadaan Adel.


"Nggak ah, aku nggak boleh berlebihan gini, takutnya nanti Adel marah lagi sama aku." Ucapnya seraya meletakkan ponsel ke atas nakas kemudian pergi untuk mandi.


Di tengah-tengah kegiatan mandinya, Kaisar tiba-tiba teringat akan papanya, "Keadaan papa sekarang gimana ya? Terakhir kali aku melihatnya waktu papa di rumah sakit."


Setiap kali Kaisar merasa ingin mengunjungi Rendra, di saat itu juga dia selalu teringat bagaimana Rendra dulu memperlakukan Anika dengan begitu keji. Hal itu selalu menjadi alasan bagi Kaisar mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan papanya itu.


"Argh! Bangs*t!"


Tak bisa dipungkiri, sebenci apapun Kaisar, di lubuk hatinya yang terdalam dia pasti sangat merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Dia memang terlihat kuat di luar, tapi dalamnya begitu rapuh untuk menghadapi dunia yang kejam tanpa seorang ayah yang mendukungnya.


Kaisar keluar setelah tiga puluh menit berada di kamar mandi, dia memakai baju kemudian pergi menemui Anika yang sudah menunggunya untuk makan malam


"Udah mandi nak?" Tanya Anika ketika melihat Kaisar sembari menata piring ke atas meja makan.


Kaisar mengangguk kemudian langsung duduk dan mengambil sepiring nasi, "Ma, Kai nanti mau keluar bentar ya."


"Baru pulang kok udah mau pergi lagi?"

__ADS_1


"Kai mau jenguk papa."


"Oh ya udah, tapi pulangnya jangan kemaleman ya, lagi musim hujan biar nggak masuk angin."


"Iya ma..."


Seperti yang dikatakan sebelumnya, Kaisar pergi setelah selesai makan malam dengan Anika. Tak lupa Anika menyarankan Kaisar agar membeli buah-buahan terlebih dahulu sebelum datang ke rumah Rendra.


***


"Papa senang, akhirnya kamu mau datang menemui papa."


"Sudah, sudah baik. Seperti yang kamu lihat." Jawab Rendra dengan senyum merekah.


"Walaupun papa sudah bisa bergerak dengan leluasa, tapi papa harus tetap berhati-hati." Kaisar mengingatkan.


"Terima kasih sudah begitu perhatian dengan papa, nak."


Sorot mata Rendra menunjukkan kebanggaan, dia menatap putranya yang sedang berbicara panjang lebar tanpa melunturkan senyumannya. Waktu berlalu begitu cepat, kini Kaisar sudah tumbuh menjadi pemuda gagah dan sangat dewasa dalam pembawaannya.


"Pa, papa?" Kaisar mengibaskan tangannya di depan wajah Rendra yang larut dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Ya? Kenapa?" Tanya Rendra dengan terbata.


"Kai bentar lagi wisuda, menurut papa bagusnya Kai lanjutin S2 dimana?"


"Kalo menurut papa, lebih baik kamu lanjut ke luar negeri saja. Selain banyak universitas yang bagus, juga kamu bisa mengenal dunia yang jauh lebih luas dan pengalaman hidupmu semakin banyak."


"Aku nggak bisa ninggalin mama sendirian di sini." Ucap Kai dengan raut sedih.


Tanpa saran dari Rendra pun, diam-diam Kaisar sudah banyak mencari informasi tentang universitas luar negeri, pemuda itu sangat memimpikan untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri selama ini. Tapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hatinya, Kaisar tidak tega meninggalkan Anika seorang diri jika dia pergi ke luar negeri.


Rendra justru tersenyum mendengar jawaban putranya, "Nak, apa kamu kira Anika akan sedih kalau kamu meninggalkannya demi mengejar mimpimu?"


"Jika kamu berpikir begitu kamu salah besar nak, papa yakin mama mu akan sepenuhnya mendukungmu agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan selama ini. Tanpa ada kamu disisinya, Anika akan baik-baik saja, dia dikelilingi oleh orang-orang baik, selain itu Anika adalah wanita yang tangguh dan mandiri, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang itu." Lanjut Rendra.


Melihat putranya hanya diam, Rendra kembali berkata, "Papa tahu ini pilihan yang sulit, tapi nanti coba bicarakan lagi dengan mama mu. Jika dia setuju, kamu tidak boleh ragu!" Rendra mencoba menyemangati Kaisar sebisa mungkin.


"Yah, Kai memang belum membicarakan hal ini ke mama. Tapi setelah meminta saran dari papa, Kai jadi sedikit lega." Ucap Kaisar.


"Jangan sungkan untuk meminta saran atau bantuan ke papa. Nak, kamu harus tahu, tidak ada yang namanya mantan anak. Papa akan selalu mendukungmu, apapun itu."


Keduanya pun berbincang tentang banyak hal, kali ini Kaisar mulai bisa sedikit terbuka kepada Rendra.

__ADS_1


__ADS_2