
"Apa ini sudah cantik?" Adel memeriksa penampilannya di depan cermin meja rias kamarnya, untuk memastikan tak ada satu pun yang kurang.
"Sempurna!" Ucapnya pada pantulan bayangannya di cermin.
Adel menyusuri anak tangga dengan perasaan yang teramat bahagia, makan malam pertama dengan keluarga. Ya, mereka sekarang ini benar-benar menjalani kehidupan keluarga yang sebenarnya, tidak ada perseteruan apapun, setidaknya dalam tiga hari terakhir.
"Cantiknya anak mama..." Rani yang sudah berdiri siap di bawah tangga memperhatikan Adel dengan senyum yang mengulum di bibirnya.
Wanita paruh baya dengan kecantikan sempurna yang melekat pada wajahnya juga kian menarik perhatian Adel.
"Mama lebih cantik." Ucap gadis manis tersebut seraya meraih uluran tangan Rani.
"Papa sudah menunggu sejak tadi." Rani menggandeng hangat putri semata wayangnya menuju taman belakang rumah.
Makan malam yang sudah disiapkan sedemikian rupa, dengan penataan yang pas menambah kesan elegan meski hanya di tempat yang sederhana.
Menu utamanya adalah steak favorit Rani yang sudah Satya siapkan dengan mengundang koki yang cukup handal di ibukota khusus untuk Rani. Ya, Rani menjadi figur utama malam ini. Tak hanya itu, Satya juga menyiapkan makanan penutup kesukaan Adel. Satya benar-benar menyiapkan semuanya untuk dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Bagaimana, kalian suka?" Satya memastikan hasil dari kerja kerasnya berhasil membuat kesan bagus.
"Seperti biasanya, tak pernah berubah, kamu selalu bisa membuat sesuatu yang mengejutkan, Satya." Rani tersenyum lebar hingga memperlihatkan garis wajahnya.
Satya menarik tangan Rani, dan menciumnya dengan begitu lembut, "I love you, sayang." Waktu yang berlalu dengan cepat hingga usia yang tak lagi muda tak mampu menghilangkan perasaan Satya kepada Rani sejak mereka hidup bersama.
__ADS_1
Semuanya masih sama seperti dulu, Satya yang begitu mencintai Rani begitu juga sebaliknya.
"I love you too, sayang." Balas Rani tak kalah mesra.
"Ehem, kalian boleh bermesraan tapi jangan lupa aku juga ada di sini." Adel menimpali pembicaraan mereka yang menimbulkan gelak tawa dari Rani.
"Mari kita makan." Rani membuka acara mereka dengan menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
"Sayang, apa kamu sudah memutuskan mau kuliah dimana setelah lulus?" Rani bertanya dengan melirik sekilas ke arah Adel yang duduk di samping kanannya.
Adel mengangguk ringan dan menjawab, "Adel nggak mau pusing-pusing ma, kayaknya nanti kuliah di Universitas Gunabangsa aja deh."
"Nggak mau ke luar negeri?"
"Itu bukan masalah besar, papa bisa atur." Satya ikut menimpali.
Adel menggeleng cepat, "Nggak mau, Adel mau kuliah di sini aja, Adel nggak mau jauh-jauh sama mama."
Perkataan Adel menciptakan keheningan secara tiba-tiba.
Rani memberi isyarat mata kepada Satya untuk menyampaikan sesuatu, "Kita habiskan dulu makannya." Satya menjawab isyarat yang diberikan Rani kepadanya.
"Ada apa? Kenapa semuanya jadi serius begini?" Adel melihat kedua orang tuanya secara bergantian.
__ADS_1
"Ma, pa jawab dong! Ada yang kalian sembunyikan ya dari Adel?!"
"Mama hanya punya waktu tiga bulan lagi di rumah." Jawab Rani tiba-tiba.
"M-maksudnya?" Suara Adel sudah bergetar, dia takut mendapat kenyataan yang pahit.
Rani meraih tangan Adel dan mengusapnya dengan lembut, "Sayang, mama harus kembali menyelesaikan masa hukuman mama yang sempat tertunda karena sakit, dan mama hanya diberikan waktu tiga bulan lagi sebelum mama kembali ke sel." Rani menjelaskan dengan tenang.
Adel menutup mulutnya dengan tangan yang lain, mulutnya ternganga tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kenapa secepat itu?! Adel nggak mau kehilangan mama!"
"Maaf sayang, tapi mama harus." Rani mulai berkaca-kaca, bukan sedih karena harus kembali ke sel, melainkan sedih karena harus berpisah dengan putrinya lagi dalam waktu yang sangat lama.
Rani menarik Adel ke pelukannya, di usapnya punggung itu dengan begitu lembut, "Adel nggak boleh sedih, Adel kan masih bisa jenguk mama, ya nak ya."
Adel menggelengkan kepala di dalam pelukan Rani, "Nggak mau! Adel nggak mau pisah sama mama, Adel mau sama mama terus."
Satya mengepalkan tangan keras, laki-laki paruh baya itu tidak bisa berbuat apapun. Dia sudah berusaha agar Rani dapat dibebaskan, namun hukum harus tetap berjalan.
"Maafkan aku, aku telah gagal melindungi kalian." Satya tertunduk dalam dengan sesal memenuhi dadanya.
Suasana makan malam yang sebelumnya bahagia, kini berubah menjadi pilu yang membekas di hati ketiganya.
__ADS_1