Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Meminta Restu Part 2


__ADS_3

Kaisar mengibaskan tangannya, dia menepis pernyataan Anika, "Aku nggak pernah bilang aku akan mengingkari janjiku apalagi sampai meninggalkan mama!" Pemuda itu berhenti sejenak untuk mengatur suaranya kemudian kembali melanjutkan, "Aku hanya minta mama merestui hubunganku dengan Adel!" Ucapnya dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Kamu nggak ingkar sama janji kamu? Sekarang kamu lihat mama!" Anika menunjuk dirinya sendiri kemudian melanjutkan, "Apa mama terlihat bahagia setelah mendengar semua perkataan kamu, Kaisar?!"


"Apa kamu pikir dengan kamu meminta hal demikian mama akan baik-baik saja? Raga kamu mungkin masih di sini, tapi hati kamu sudah jauh meninggalkan mama!" Imbuh wanita paruh baya tersebut, kini sudah mulai berderai air mata.


Kaisar menggeleng pelan, pemuda itu tidak terima dengan tuduhan Anika, "Mama belum ngerti apa maksud aku, mama salah paham!"


"Mama jauh lebih paham daripada kamu, yang kamu mau, mama merestui hubungan kalian dan menerima gadis itu begitu saja, iya kan?!"


"Apa yang salah ma? Apa yang membuat mama begitu sulit menerima Adel? Bukankah yang mama benci itu orangtuanya, kenapa Adel harus dibawa-bawa dalam masalah kalian?"

__ADS_1


"Kamu belum paham Kaisar, hubungan yang baik itu tidak hanya menyatukan dua hati, melainkan menyatukan dua keluarga, dan mama nggak akan pernah siap harus mempunyai ikatan dengan keluarga mereka, ingat itu baik-baik!"


Kaisar terus menyangkal perkataan Anika tanpa mau mengalah, "Kalau mama minta dimengerti, lalu bagaimana dengan perasaan Kaisar? Apakah Kaisar sekali lagi harus berkorban demi keegoisan mama? Lalu kapan Kaisar akan bahagia, ma? Kapan Kaisar mempunyai jalan Kai sendiri?" Kali ini suara Kaisar sudah mulai tenang.


"Entah apa yang sudah gadis itu lakukan sampai membuat kamu bisa melawan perkataan mama! Dengar, kamu masih muda dan di luar sana masih banyak gadis yang lebih pantas untuk kamu, kalau kamu mau, mama akan carikan untuk kamu." Ucap Anika, wanita paruh baya itu mulai frustasi.


Kaisar mengepalkan tangannya keras sebelum menjawab, "Hanya dengan Adel aku bisa bahagia ma, perasaan kami saling terhubung. Hanya Adel yang bisa mengerti perasaanku, bahkan dari mama sekali pun." Entah kenapa Kaisar merasa sangat sakit hati mendengar Anika yang memintanya mencari gadis lain.


"Tapi Kaisar memilih untuk mencintai dan memiliki Adel." Tegas pemuda tersebut.


Anika diam sejenak mendengar jawaban tegas dari putranya, wanita itu kemudian menyeka air matanya dan berkata, "Baiklah kalau itu jawaban kamu."

__ADS_1


Anika menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Seperti yang kamu katakan sebelumnya, lakukanlah jalan yang kamu pilih sendiri, dan jangan pedulikan perasaan mama. Tapi ingat, sampai mati pun mama nggak akan merestui hubungan kalian!"


"Mama!"


"Kamu boleh membenci mama, tapi mama akan tetap berdiri dalam pendirian mama." Setelah berkata demikian, Anika pergi ke kamarnya dengan perasaan hancur, dia tak menyangka hari dimana dia bertentangan dengan Kaisar akhirnya tiba juga.


Setelah Anika hilang dari pandangan, tubuh Kaisar tiba-tiba merasa lemas, pemuda itu berjalan sempoyongan menuju tembok terdekat, dia memukul tembok tersebut dengan beringas hingga melukai kepalan tangannya, bahkan noda darahnya sampai mengotori tembok tersebut.


Kaisar duduk meringkuk dengan bersandar pada tembok yang di pukulinya tadi, pemuda itu menutup mata dengan tangan yang terluka, beberapa saat kemudian pundaknya terlihat bergetar dan sayup-sayup terdengar suara isakan tangis.


Tak peduli dengan kondisinya yang kacau, dengan pakaian yang basah dan tangan yang terluka, apalagi hujan deras tak kunjung reda di malam itu, Kaisar memilih kembali ke rumah Rendra untuk memeriksa keadaan Adel yang ditinggalkan olehnya dalam kondisi pingsan.

__ADS_1


Sungguh ironis, siapa sangka keluarga yang terlihat begitu hangat ternyata mempunyai mimpi buruk di dalamnya.


__ADS_2