
"Emang lo nggak pernah main sepeda waktu masih kecil?" Tanya Kaisar sembari mengayuh sepedanya dengan santai.
Adel yang terlihat menikmati itu pun menjawab, "Hmmm gimana yah ngejawabnya?" Katanya serasa menghela nafas.
"Malah balik tanya."
"Keluargaku itu sangat rumit. Aku dulu dibesarkan oleh mama dan papa sambungku sampai aku lulus SD. Karena ayah sambungku dulu sangat sibuk bahkan sangat jarang sekali pulang ke rumah jadi nggak ada waktu untuk kami main sama-sama." Adel menjelaskan dengan santai.
"Papa sambungku itu orang yang sangat baik sekali, bahkan kalau diingat-ingat, aku merasa hubungan kami jauh lebih dekat dibandingkan dengan papa kandung aku sendiri. Tapi setelah mama dan papa sambungku itu berpisah, sampai detik ini aku tidak pernah mendengar kabarnya, apakah beliau baik-baik saja atau tidak." Lanjut Adel.
"Lo nggak berusaha cari tahu?" Tanya Kaisar.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan sama anak sekolah kayak aku ini? Terlebih papa pasti nggak bakal ngizinin aku melakukan itu." Jawab Adel.
"Hmmm begitu ya, btw sorry ya gue nggak bermaksud ngorek tentang keluarga lo." Ucap Kaisar, dia merasa bersalah karena sudah bertanya yang membuat Adel mengingat masa lalunya.
Adel tertawa kecil sebelum berkata, "Tenang aja kak, itu bukan hal yang harus aku tutupi kok. Karena pada masa itu, aku sangat bahagia dan merasa memiliki keluarga yang utuh dibandingkan dengan sekarang. Aku cuma berharap papa sambungku dimana pun beliau berada, beliau selalu bahagia dan baik-baik saja."
"Beliau orang baik, meskipun gue nggak kenal, gue yakin beliau akan baik-baik saja di luar sana." Timpal Kaisar.
__ADS_1
Tanpa keduanya tahu, mereka sedang membicarakan orang yang tidak jauh keberadaannya dengan mereka, orang yang berhubungan erat dengan Kaisar dan juga Adel.
"Loh kok berhenti kak?" Tanya Adel ketika Kaisar tiba-tiba menghentikan sepedanya.
"Mau ku ajari sepeda?"
Adel terkejut dengan ajakan Kaisar, tanpa basa-basi dia langsung menolak, "Nggak, aku nggak mau. Buat apa juga udah SMA latihan sepeda, mending latihan nyetir mobil aja." Jawab Adel sekenanya.
Tapi Kaisar tak mendengarkan ocehan Adel, pemuda tersebut memaksa Adel untuk berlatih sepeda dengannya.
"Motor, mobil, truk itu beda sama sepeda. Sini belajar biar kamu tahu sensasinya semenyenangkan apa." Ucap Kaisar.
Tak bisa menolak, Adel menuruti perkataan Kaisar dan dengan hati-hati mulai mengayuh sepeda dengan perlahan, sedangkan Kaisar menjaga Adel dengan memegangi bagian belakang sepeda. Meski mengayuh dengan tak beraturan, Kaisar tetap memaksa Adel terus mengayuh sepedanya.
"Iya-iya bawel!" Jawab Kaisar.
Setelah cukup lama, akhirnya Adel bisa mengayuh sepeda lebih lancar daripada sebelumnya.
"Wohoho! Ternyata gampang kak! Kakak masih bantu pegang sepedanya kan?" Tanya Adel tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Hati-hati, terus kayuh dan jangan lihat ke belakang!" Kaisar berteriak dari arah yang cukup jauh, ternyata Kaisar sudah tidak ikut memegangi sepeda saat melihat Adel mulai lancar menggunakannya. Pemuda itu sengaja tidak memberitahu agar Adel tidak ketakutan.
Adel tertegun, "Kenapa suara Kak Kaisar terdengar begitu jauh? Atau jangan-jangan..." Menyadari Kaisar sudah tidak menjaganya, keseimbangan Adel menjadi kacau.
Gadis itu tak lagi menikmati bersepedanya karena sudah dibutakan dengan rasa takut, tak lama kemudian, Adel pun berteriak histeris sebelum akhirnya jatuh diaspal jalanan. Melihat itu, Kaisar segera berlari untuk menyusul tempat dimana Adel terjatuh.
"Lo nggak kenapa-kenapa?" Tanya Kaisar panik.
Adel memukul lengan Kaisar gadis itu sudah menangis sejadi-jadinya, "Kakak jahat, kenapa nggak bilang kalo udah nggak jagain dari belakang?!"
"Maaf... Maaf, dimana yang sakit? Ada yang luka?" Tanya Kaisar sembari memeriksa keadaan Adel.
Bukan karena terjatuh, alasan Adel menangis adalah karena dia begitu ketakutan.
"L-lutut sama s-sikut ku yang sakit." Jawab Adel dengan sesenggukan.
Kaisar segera memeriksa lutut dan sikut Adel, lutut serta sikut bagian kiri yang terluka ringan.
Dengan menunjukkan wajah bersalah, Kaisar meminta maaf, "Maaf ya aku tadi nggak bilang karena ku lihat kamu sudah bisa mengayuh sepeda dengan lancar, makanya aku nggak jagain lagi."
__ADS_1
"Sekarang ayo kita pulang saja, kamu bisa berdiri?" Tanya Kaisar kemudian.
Dengan tertatih, Adel berusaha berdiri dengan dibantu Kaisar, keduanya pun kembali dengan Adel membonceng Kaisar menggunakan sepeda yang mereka sewa sebelumnya.