
Dengan setengah berteriak Kaisar akhirnya menjawab, "Nara selingkuh!"
Mendengar jawaban Kaisar yang begitu mengejutkan, tubuh Anika seketika bergetar dan nafasnya menjadi sesak. Bukan karena suara Kaisar yang meninggi, melainkan Anika harus mendengar kata perselingkuhan yang menjadi trauma terberat dalam hidupnya.
Kaisar menjadi panik, dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosi. Pemuda itu lekas membopong Anika dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan hati-hati Kaisar meletakkan tubuh Anika ke atas ranjang kemudian bergegas mengambil obat.
"A-ada di nakas sebelah kiri." Anika memberitahu letak obat dengan suara yang terbata-bata.
Setelah menemukan obatnya, Kaisar segera membantu Anika untuk mengonsumsi obat tersebut. Dan setelah beberapa saat barulah kondisi Anika menjadi lebih baik. Anika memilih untuk tidur setelah mengonsumsi obat.
Kaisar tertunduk di samping Anika, pemuda itu menggenggam tangan Anika yang tengah terlelap itu, "Maafin Kai ma, maaf. Nggak seharusnya Kai kasih tau ke mama. Kai emang bodoh!"
Tangis pemuda itu semakin pecah ketika teringat masa-masa Anika harus berjuang melawan rasa traumanya. Kaisar terus menangis sampai terlelap dengan masih menggenggam tangan Anika.
Kaisar merasai ada yang mengusap kepalanya dengan lembut, dia menoleh ke dan mendapati tangan yang mengusapnya itu adalah Anika.
"Mama?!" Kaisar terkejut dan langsung membuka mata lebar.
"Mama udah bangun? Gimana kondisi mama, masih sesak nafas? Atau mama butuh sesuatu?" Tanya Kaisar beruntun.
__ADS_1
Dengan suara serak Anika menjawab, "Satu-satu nak." Ucapnya dengan terkekeh pelan.
"Mama haus, bisa tolong ambilkan mama minum?" Lanjutnya.
Kaisar bangkit dari tempat duduknya kemudian bersiap untuk pergi ke dapur.
"Loh mau kemana?" Tanya Anika heran.
Kaisar justru bingung dengan pertanyaan Anika, "Katanya mama haus, ya Kaisar mau ambil minum ke dapur."
Anika menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah Kaisar, "Ngapain ke dapur, ini loh di atas nakas juga ada air minum." Ucap wanita paruh baya itu sembari menunjuk gelas air minum yang berada di atas nakas sebelah kanan ranjang.
"Kamu pasti pusing ya, mama bangunin tengah malem gini, makanya jadi linglung kaya tadi." Ucap Anika.
Kaisar segera mengibaskan tangannya menyangkal perkataan Anika, "Enggak ma bukan itu, mama mau bangunin Kai jam berapapun Kai siap. Kai cuma..." Ucapnya terhenti suaranya bergetar seperti akan menangis.
"Cuma apa?"
"Kai cuma nggak bisa memaafkan diri Kai sendiri, gara-gara Kaisar mama sampai harus merasakan sakit lagi." Ucap Kaisar dengan air mata yang sudah berjatuhan.
__ADS_1
Anika membelai lembut rambut Kaisar, di tatapnya pemuda itu dengan begitu dalam, Anika pun merasa sedih karena sudah menjadi beban dalam hidup Kaisar.
"Nak, ini bukan salahmu. Jangan pernah lagi menyalahi diri sendiri atas sesuatu yang di luar kendalimu." Anika mencoba menenangkan.
"B-bagimana bisa ini bukan salah Kaisar, gara-gara Kai menyebut kata itu, mama jadi..." Kaisar tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Kalau kamu terus menerus menangis dan menyalahkan diri sendiri, apakah mama juga boleh merasa bersalah?" Tanya Anika kemudian.
"Maksud mama apa? Kenapa mama harus merasa bersalah?"
"Karena mama tidak bisa memberimu kebahagiaan, mama justru hanya menjadi beban di hidupmu dan bahkan sampai kamu menangis seperti ini menyesali atas sesuatu yang bukan kesalahanmu."
Kaisar menggelengkan kepalanya, "Jangan sekalipun mama berkata seperti itu lagi. Nggak ada yang menganggap mama sebagai beban di hidup Kaisar. Sekalipun Kaisar nggak pernah berfikiran mama adalah beban, justru mama adalah satu-satunya kebahagiaan yang Kaisar punya!"
Anika tersenyum tipis mendengar jawaban Kaisar, "Seperti itulah yang mana rasakan nak, mama juga nggak terima kamu menyalahkan diri kamu seperti itu, justru mama sakit hati karena mama tidak bisa menjaga kamu dengan baik."
"Mama janji, mulai hari ini mama akan berusaha lebih keras lagi untuk sembuh. Agar anak mama yang ganteng ini bisa hidup lebih bahagia tanpa kekhwatiran." Lanjutnya dengan mencubit pelan pipi Kaisar.
"Apapun itu, Kaisar akan selalu ada di samping mama. Kaisar nggak akan pernah ninggalin mama sampai kapanpun." Jawab Kaisar.
__ADS_1
"Mama tahu nak." Anika tersenyum.