
Hari sudah menunjukan pukul satu dini hari, beberapa lampu rumah pun sudah ada yang dimatikan. Namun Kaisar masih enggan memejam matanya, pemuda itu masih berbaring di atas sofa sembari memainkan ponsel ditangannya.
"Hais anak itu, bisa-bisanya tidak menghubungiku sama sekali." Gerutu Kaisar dengan masih memainkan ponselnya.
"Apa mungkin dia langsung tidur setelah pulang dari sini?" Tanyanya pada diri sendiri.
Kaisar menggeliat kemudian memilih posisi agar bisa tidur dengan nyaman sebelum akhirnya dia mendengar suara pintu terbuka, Kaisar menoleh ke arah pintu dan menemukan Nara keluar dari kamarnya.
"Loh kok bangun?" Tanya Kaisar sembari beranjak dari tidurnya.
Nara mengucek matanya yang masih mengantuk sebelum menjawab, "Iya aku haus, mau ambil minum ke dapur."
"Astaga kenapa nggak panggil aku saja, kamu nggak perlu sampai bangun seperti itu Nara. Kembalilah, biar aku yang ambilkan minum untukmu." Ucap Kaisar sembari berdiri dari duduknya.
Nara tersenyum melihat Kaisar yang begitu mengkhawatirkannya, "Nggak apa-apa Kai, cuma ambil minum aku bisa sendiri kok." Selepas berkata demikian Nara pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan Kaisar pun kembali duduk di tempatnya.
Nara kembali dengan membawa segelas air minum ditangannya, gadis itu duduk di samping Kaisar yang sedang menunggunya kemudian bertanya, "Kenapa kamu belum tidur Kai?"
"Aku belum ngantuk." Jawab pemuda itu dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oh iya aku lupa, kamu punya insomnia ya." Ucap Adel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kaisar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh petir yang sangat keras karena waktu itu hujan memang belum reda. Nara menjerit terkejut sampai menjatuhkan gelas yang ada ditangannya ke lantai hingga gelas tersebut pecah.
Nara menutupi kedua telinganya dan berteriak, "Tolong!!!"
Kaisar yang ikut terkejut karena teriakan Nara pun sontak berusaha menenangkan gadis yang terkena serangan panik itu.
"Nara tenanglah, tidak apa-apa jangan takut." Ucap Kaisar sembari meraih Nara ke dalam pelukannya.
"Tolong, aku takut ada truk yang menabrak mobil kami, Kai." Tubuh Nara bergetar hebat, dia teringat peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya dan orang tuanya.
"Tenang, ada aku disini. Semua sudah baik-baik saja Nara. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Kaisar berkata lembut tanpa melepaskan pelukannya.
Suara gemuruh petir masih beberapa kali terdengar dan pada saat yang sama Nara juga berusaha menutupi kedua telinganya. Kaisar pun mengeratkan pelukannya agar gadis itu bisa tenang.
Kaisar memutar otak agar Nara bisa beralih dari perasaan takut itu, "Nara kamu ingat, dulu kita sering hujan-hujanan saat naik motor sepulang kuliah?"
Pertanyaan Kaisar sedikit membuat Nara lebih tenang, pemuda itu pun melanjutkan perkataannya, "Malamnya kita sama-sama terkena demam, tapi selalu kita ulangi keesokan harinya. Sampai mama menyita kunci motorku agar kita nggak hujan-hujanan lagi."
__ADS_1
Pembicaraan Kaisar yang kedua ini berhasil membuat Nara menyingkirkan tangannya dari telinganya, gadis itu sudah berani membuka mata dan menatap Kaisar dengan dalam.
Merasa berhasil mengalihkan ketakutan Nara, pemuda itu pun tersenyum lebar dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Kamu ingat kan? Kamu bahkan lebih suka pergi naik motor dibanding dengan mobil meskipun cuaca sedang buruk sekalipun."
"Kai..." Panggil Nara dengan suara lirih.
"Aku ingin Nara kembali seperti dulu yang tidak kenal rasa takut, Nara yang berani dan Nara yang tidak pernah meninggalkan senyumannya." Lanjut Kaisar.
Nara hanya diam mendengarkan cerita Kaisar tanpa berkata lebih jauh, gadis itu merasa nyaman saat Kaisar menceritakan masa lalu mereka.
Kaisar sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Nara, gadis itu pun ikut menatap wajah pemuda yang memeluknya, "Nara semua akan baik-baik saja. Kalau kamu bahagia, aku yakin Tante dan om Anggara juga akan bahagia di sana melihat putri satu-satunya begitu kuat menjalani hidup."
"Benarkah itu Kai?" Nara bertanya penuh harap.
Kaisar pura-pura memasang wajah kesal karena pertanyaan Nara kemudian berkata, "Tentu saja! Apa kamu tidak percaya padaku?!"
Nara yang merasa bersalah pun segera menyangkal, "Ah bukan begitu maksudku, aku hanya..."
__ADS_1
Kaisar tersenyum lembut kemudian berkata, "Sudah, aku hanya bercanda."