
Di sela-sela perbincangannya, Rendra tiba-tiba melontarkan perkataan yang menciptakan suasana canggung, "Nak, ada satu nasihat yang ingin papa katakan padamu."
"Apa itu pa?"
"Jadilah laki-laki yang berhasil." Rendra berkata dengan sorot mata yang tegas.
Kaisar menyeruput kopinya kemudian menjawab dengan santai, "Ya ini juga lagi berusaha pa."
"Bukan itu maksud papa, bukan berhasil dalam hal pendidikan maupun pekerjaan."
"Maksudnya?" Tanya Kaisar heran.
"Jadilah laki-laki yang matang, yang berhasil dan mampu mengendalikan segala hal yang ada dalam diri kita." Rendra menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong lalu melanjutkan perkataannya, "Emosi, kemarahan, ketakutan, pikiran negatif itu semua adalah hal yang paling menyeramkan dalam kehidupan, nak."
"Selain mampu mengendalikan itu semua, laki-laki juga harus berhasil menghargai dan menghormati seorang wanita, dan menjaganya dengan seluruh kehidupannya."
Kaisar hanyut dalam perkataan Rendra tanpa menyela sedikitpun.
"Kenapa papa bilang kaya gini? Karena papa telah gagal menjadi sosok laki-laki nak. Papa tidak bisa mengendalikan diri dan emosi papa sehingga papa mudah terpengaruh oleh orang lain. Hingga sekarang kamu bisa lihat sendiri, papa kehilangan semua hal yang berharga dalam kehidupan papa, yaitu kamu dan Anika." Rendra selalu ingin menumpahkan air mata jika mengingat kesalahannya di masa lalu, namun ia tak boleh menangis di depan Kaisar.
"Apa papa menyesal?" Pertanyaan Kaisar membuat Rendra menatap ke arahnya.
__ADS_1
Rendra menghela nafas panjang kemudian menjawab, "Pasti, sudah pasti papa menyesal. Andai dulu papa tidak bodoh, mungkin sekarang kita masih menjadi keluarga yang utuh dan bahagia. Tapi sekarang kita tidak bisa melakukan apapun kecuali menyesali dan merenungi itu semua."
Rendra tersenyum kemudian melanjutkan perkataannya, "Nak, kejadian buruk memang melahirkan penyesalan, tapi dibalik itu semua, ada pelajaran yang dapat kita petik lalu kita berikan kepada orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan."
Kaisar mengangguk paham, "Yah semoga papa juga bisa bangkit seperti sebelumnya."
"Apa papa masih menjadi kurir?" Tanya Kaisar.
"Oh ya, kebetulan kamu tanya sekalian papa mau kasih tau, kalau mulai besok papa kerja di pabrik bagian produksi." Jawab Rendra.
"Syukurlah, setidaknya papa nggak kerja di jalanan yang beresiko untuk keselamatan." Kaisar berkata dengan tersenyum.
"Hati-hati nak." Rendra mengingatkan dengan panik.
"Yah kotor pa baju Kaisar." Kaisar berkata sembari membersihkan bajunya menggunakan tangan.
"Papa ambilkan baju ganti buat kamu ya." Ucap Rendra kemudian bangkit dari duduknya sebelum Kaisar mencegahnya.
"Papa duduk aja, biar Kai ambil sendiri." Jawab Kaisar, pemuda itu kemudian berdiri, "Bajunya di kamar papa kan?" Tanyanya.
"Iya dari sini kamu belok kiri, kamar papa ada di sana." Jawab Rendra.
__ADS_1
Kaisar kemudian mulai melangkah sesuai arahan Rendra, di rumah yang kecil itu tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kamar laki-laki tersebut. Kaisar langsung memasuki kamar Rendra dan mengambil baju yang hendak dipakainya dari dalam lemari.
"Ah ini kan kaos yang samaan sama punyaku di rumah, ini aja deh." Kaisar menjatuhkan pilihan pada kaos warna abu-abu yang terlipat pada bagian paling bawah tumpukan baju.
Saat pemuda itu menarik baju dari tumpukannya, ada sesuatu yang ikut terjatuh. Kaisar melirik ke arahnya dan kemudian mengambilnya.
"Apa ini?" Gumam Kaisar.
Kaisar membelalakkan matanya tak percaya, dia begitu terkejut hingga tubuhnya bergetar ketika melihat selembar foto yang kini ada di tangannya.
Kaisar menghampiri Rendra dengan wajah pucat, "Pa Kai pulang dulu ya, ini udah larut malam. Kasihan mama sendirian di rumah."
"Loh kok wajahmu pucat? Kamu sakit?" Rendra panik melihat wajah Kaisar yang pucat pasi, padahal beberapa saat sebelumnya pemuda itu masih baik-baik saja.
Kaisar menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "Enggak, kayaknya ini karena masuk angin."
"Kalo kamu sakit, malam ini tidur di sini aja nak, besok baru boleh pulang."
"Nggak apa-apa pa, besok Kai ada kelas pagi. Ya udah Kai pulang dulu pa." Takut Rendra akan terus mencegahnya pulang, Kaisar berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Rendra.
Rendra menggelengkan kepalanya, "Anak itu masih saja seperti dulu, keras kepala!" Gumamnya sembari melihat kepergian Kaisar.
__ADS_1