Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Peringatan Satya


__ADS_3

Sesuai janji, Kaisar mengantarkan Adel pulang dan tiba di rumahnya pukul setengah enam petang. Adel sengaja minta pulang lebih cepat karena takut Satya akan memarahinya seperti tempo hari.


Seperti biasa, Kaisar tak mengantarkan Adel tepat di depan rumahnya, melainkan di jalan yang tak jauh dari rumah Adel.


"Makasih ya kak, hati-hati di jalan." Adel berkata saat sudah turun dari mobil.


Kaisar tersenyum dan melambaikan tangannya untuk berpamitan, Adel pun membalas lambaian tangan Kaisar, dan baru berjalan ke rumah setelah memastikan Kaisar sudah pergi.


Adel berjalan santai menuju rumahnya, dan ketika gadis itu membuka pintu, rupanya Satya sudah berdiri tepat di depan pintu dengan tatapan yang mengintimidasi.


"P-papa?!" Gumam Adel gugup, gadis itu kemudian memperhatikan sekitarnya untuk memastikan Rani tak mendengar ia memanggil Satya dengan sebutan papa.


Tanpa memandang wajah anaknya sedikitpun Satya berkata, "Masuk ke kamarmu sekarang!" Serunya.


Dengan sekali lihat saja Adel bisa tahu bahwa Satya dalam keadaan marah besar, gadis itu pun tak menjawab, dia tau jika ia bicara sedikit saja, hal itu akan menambah kemarahan dari Satya.


Dengan hati-hati Adel melangkah menuju kamarnya dengan perasaan yang gelisah, kesalahan apalagi yang telah ia perbuat sehingga menimbulkan kemarahan dari Satya.


Selang beberapa saat setelah dia memasuki kamarnya, Satya muncul dengan wajah merah padam, "Kamu bohong sama papa, iya?!" Tanpa basa-basi Satya langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Adel cukup terkejut.


"B-bohong gimana maksud papa?" Keringat dingin mulai mengucur di punggung gadis itu.


"Jangan pura-pura kamu! Saya tahu kamu pergi dengan seorang pemuda!"

__ADS_1


DEG!


Jantung Adel berdetak lebih cepat dari sebelumnya, bagaimana Satya bisa tahu dirinya pergi dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Kaisar, padahal ia sudah begitu hati-hati agar tak diketahui oleh siapapun.


"Kenapa diam saja? Kamu heran kenapa papa bisa tahu?" Satu pertanyaan lagi yang membuat Adel tak bisa menjawab.


Dengan gugup dan suara yang terbata-bata, Adel pun memberikan diri untuk menjawab, "A-aku pergi sama teman sekolah pa."


"Jangan kamu kira saya mau percaya begitu saja, kamu mau jujur sekarang atau papa akan kasih kamu hukuman yang berat!"


Tanpa Adel sadari, Satya sudah mengetahui tentang Kaisar. Saat Adel pergi menemui Kaisar sore tadi, tanpa sengaja Satya melihat dari balkon lantai dua rumahnya, dan menimbulkan pertanyaan dibenak Satya.


"Siapa pemuda itu?!" Satya kembali menguji kejujuran Adel.


"Jawab!!!"


Adel hendak menjawab, namun tiba-tiba ponselnya berdering, keduanya sama-sama melirik ponsel yang tergeletak di atas kasur, terlihat nama Kaisar tertera dilayar panggilan tersebut.


Buru-buru Adel meraih ponselnya namun sayangnya, gerakannya kalah cepat dengan Satya, papanya itu sudah lebih dulu meraih ponsel Adel dan menerima panggilan dari Kaisar.


"Hallo sayang, aku baru saja sampai rumah. Kamu lagi apa sekarang?" Suara Kaisar terdengar dari seberapa telepon.


Wajah Satya langsung merah padam mengetahui dugaannya terbukti benar. Laki-laki itu menatap Adel dengan tatapan bengis kemudian menutup panggilan begitu saja.

__ADS_1


Dibantingnya ponsel Adel ke atas kasur dengan keras hingga ponselnya terlempar ke lantai, hal itu sontak membuat Adel begitu terkejut dan ketakutan.


"Jauhi pemuda itu atau kamu akan tahu akibatnya!"


"Kenapa? Kenapa Adel harus menjauhi kak Kaisar? Dengan kak Kaisar Adel bisa mendapatkan kebahagiaan yang nggak Adel dapatkan di rumah ini!" Adel berusaha melawan perkataan Satya.


"Suatu saat kamu akan menyesali perkataanmu." Satya berkata pelan namun menakutkan. Selepas berkata demikian Satya pergi dari kamar Adel dan meninggalkan berbagai pertanyaan dibenak gadis itu.


Adel menatap kepergian Satya, "Nggak! Aku nggak akan menyesal, justru aku akan menyesal kalau menuruti perkataan papa." Adel bergumam pelan.


Hati dan tekadnya sudah bulat untuk tidak akan menjauhi Kaisar.


Adel memungut ponselnya yang tergeletak di lantai, terdapat retakan besar di layar ponselnya, yang membuat fungsi dari ponsel tersebut sedikit terganggu.


Dengan menangis sesenggukan Adel berusaha menyalakan ponselnya, "Hah! Kenapa jadi gini sih! Ayo dong nyala!" Ujarnya dengan kesal.


Tangisnya semakin menjadi ketika mendapati ponselnya tak kunjung menyala, setelah beberapa saat dengan usaha keras akhirnya ponselnya pun menyala dan senyuman pun muncul di bibir Adel.


"Akhirnya!" Ucapnya girang, dan langsung menghubungi Kaisar.


Meskipun layar sentuh dari ponselnya tak berfungsi dengan baik akibat retakan, Adel masih bisa menghubungi Kaisar walaupun harus dengan kesabaran.


Maaf kak, HPku tadi jatuh dan layarnya retak, nanti ku kabari kalau HPnya sudah ku perbaiki.

__ADS_1


__ADS_2