Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Berusaha Mencari Tahu


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah papa, Del?" Rendra bertanya kepada Adel yang kini sudah berada di tempat tinggalnya.


Rendra memang sudah memberitahu alamat rumahnya kepada Adel semenjak mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Keduanya pun kerap menghabiskan waktu bersama.


Adel hanya menunduk dalam yang membuat Rendra melontarkan pertanyaan lagi, "Apa Satya melakukan sesuatu?" Rendra bertanya dengan lembut dan hati-hati agar gadis itu mau sepenuhnya jujur kepadanya.


"Kenapa nak? Ceritalah ke papa, jangan dipendam sendiri. Ada papa disini nak yang sebisa mungkin membantumu."


"Mama... Mama..." Suara Adel bergetar dia menggigit bibirnya sendiri tak kuasa menahan air mata.


Melihat itu Rendra segera memeluk Adel dan memberinya ketenangan, "Menangislah sampai kamu merasa lega."


"Mama..." Tangis gadis itu semakin pecah saat berada dalam pelukan Rendra, papa sambungnya.


Meskipun bukan anak kandung, tetap saja hati Rendra merasa teriris melihat gadis yang masih sangat muda harus menderitanya karena menanggung beban atas kesalahan orangtuanya.


Tanpa disadari air mata Rendra juga mengalir begitu saja saat mendengar tangisan gadis yang ada dipelukannya. Setelah beberapa saat, barulah Adel merasa tenang dan mulai menceritakan semuanya.


"Mama udah membaik, mama bahkan udah mau keluar kamar, mengurus dirinya sendiri dan makan. Melihat itu Adel sangat bahagia pa." Adel berkata dengan sesekali menyeka air matanya.


"Terus?" Tanya Rendra.

__ADS_1


"Ada satu hal yang membuat Adel benar-benar sedih, mama... Mama..." Suaranya bergetar Adel bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangisnya.


"Mama nggak ingat sama Adel." Lanjut Adel.


Rendra membelalakkan matanya tak percaya, "Apa?! Bagaimana bisa, bagaimana mungkin dia nggak ingat sama anaknya sendiri?!"


"Papa Satya bilang alam bawah sadar mama menolak untuk mengingat hal-hal yang berkaitan dengan trauma masa lalunya." Jawab Adel.


Gadis itu menatap mata Rendra dengan dalam, "Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian? Apa yang udah Adel lakuin ke mama dimasa lalu sampai mama nggak ingat sama Adel pa?!"


"Itu... Itu papa juga nggak begitu paham nak."


"Jangan bohong, ku mohon pa ceritakan semuanya, agar Adel bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu yang memang udah Adel lakuin ke mama."


Adel meraih tangan Rendra dan menggenggamnya, "Adel mohon pa sekali saja beritahu Adel semuanya, siapa tahu dengan begitu mama bisa ingat lagi sama Adel."


"Papa sudah bilang kan, tidak ada hal yang terjadi di masa lalu yang berkaitan dengan kamu, berhenti mencari tahu nak itu tidak baik."


"Pa, Adel mohon sekali saja." Adel terus memaksa Rendra karena baginya, Rendra adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.


Rendra menghela nafas panjang sebelum berkata, "Baiklah papa akan ceritakan semuanya."

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Adel dengan antusias.


"Tapi tidak sekarang, nanti saat waktunya sudah tiba. Saat kamu sudah cukup dewasa menerima semuanya."


Raut wajah Adel kembali memancarkan kekecewaan.


Rendra mengusap pipi Adel dan berkata, "Papa tahu kamu kecewa, tapi percayalah ini semua demi kebaikan kamu. Kamu percaya kan sama papa?"


Meskipun kecewa, Adel tetap patuh dengan perkataan Rendra, gadis itu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Rendra bahwa Adel percaya padanya.


"Karena sudah malam besok saja pulangnya. Sekarang istirahatlah." Ucap Rendra.


"Iya pa." Adel beranjak dari tempat duduknya.


"Adel." Panggilan Rendra menghentikan langkah Adel.


Adel menoleh dan menjawab, "Ya pa, kenapa?"


"Jangan sedih, kamu tidak sendiri karena papa disini akan selalu ada untuk kamu." Rendra berkata dengan memberikan senyumnya.


Bagaikan angin sejuk, perkataan sederhana itu berhasil sedikit menenangkan hati Adel.

__ADS_1


Adel membalas senyum Rendra dan berkata, "Adel percaya sama papa."


__ADS_2