
"Papa..." Lirih Adel berucap kita sudah ada di hadapan Rendra.
Rendra menatap Adel dengan ekspresi bingung, "Maaf, kamu siapa nak?"
"Papa ini aku Adel, Nadella Putri." Jawab Adel yang sudah bercucuran air mata.
Rendra membelalakkan matanya, pria paruh baya itu begitu terkejut.
"Adel? Kamu benar Adel anak dari Rani?"
Adel menganggukkan kepalanya keras, dia kesulitan untuk berkata-kata.
"Ya Tuhan, kamu sudah besar sekali nak, kamu tumbuh dengan sangat cantik." Ucap Rendra sembari mengusap kepala Adel lembut.
Meskipun hubungan Rendra dengan Rani sangatlah buruk, tapi Rendra tidak melampiaskan hal itu kepada Adel karena Adel sama sekali tidak mengetahui tentang kebenaran orangtuanya, dan gadis itu pun tidak bersalah. Rendra justru sudah menganggap Adel seperti putrinya sendiri.
"Papa kenapa sampai kayak gini? Papa kecelakaan?" Tanya Adel yang memperhatikan kondisi Rendra.
"Iya sebulan yang lalu papa kecelakaan, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."
"Kamu sendiri gimana? Sehat kan?" Tanya Rendra.
Adel hanya menganggukkan kepalanya dan langsung menghambur ke pelukan Rendra, "Papa kemana aja? Adel kangen." Ucapnya dengan sesenggukan.
"Apa kamu bahagia nak?" Tanya Rendra lembut.
Mendengar pertanyaan dari Rendra, membuat Adel semakin menangis sejadi-jadinya.
"Hei kenapa?" Tanya Rendra panik.
Gadis itu tidak mampu menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Rendra.
Setelah beberapa saat akhirnya Adel merasa tenang dan melepaskan pelukannya, "Maaf pa, Adel begitu bahagia melihat papa lagi Adel sampai nggak bisa nahan perasaan Adel."
__ADS_1
Rendra hanya tersenyum sebelum berkata, "Papa juga senang melihatmu lagi dan tumbuh dengan baik, tak ku sangka sekarang kamu sudah beranjak dewasa nak."
"Papa udah makan? Kalo belum ayo kita makan bareng kebetulan Adel kesini juga sama temen." Ucap Adel.
"Dimana temanmu?"
"Ada disana, dia nunggu di mobil." Jawab Adel sambil menunjuk mobil hitam yang ada di seberang jalan.
"Mau ku kenalkan? Orangnya sangat baik." Lanjutnya.
"Apa tak apa-apa dengan kondisi papa yang seperti ini?" Tanya Rendra, pria paruh baya itu merasa tak percaya diri dengan kondisinya.
Adel justru menunjukkan ekspresi kesal mendengar pertanyaan Rendra, "Memangnya kenapa dengan kondisi papa? Apa itu membuat papa malu? Bagaimana pun keadaan papa, Adel sama sekali tidak peduli!" Ucapnya dengan sangat kesal.
"Kamu benar-benar sudah besar nak. Papa bangga sama kamu, baiklah ayo kita temui temanmu." Akhirnya Rendra menyetujui ajakan Adel.
"Ayo pa."
"Maaf pak, tapi ini waktunya bapak minum obat dan beristirahat." Ucap laki-laki tersebut.
Rupanya dia adalah orang yang disewa oleh Kaisar untuk mengurus Rendra, sampai Rendra benar-benar pulih dan kakinya kembali normal.
"Ah iya juga." Jawab Rendra.
Rendra menatap ke arah Adel kemudian berkata, "Maaf nak tapi mungkin lain kali saja ya, hari ini papa sudah harus pulang."
Tak merasa kecewa Adel justru bisa memahami kondisi Rendra yang tidak cukup sehat.
"Iya pa, Adel ngerti kok. Papa banyakin istirahat dan cepat sehat ya pa. Nanti Adel ajak keliling kota."
"Pasti nak, papa titip salam untuk temanmu ya." Jawab Rendra.
"Eh pa sebentar, sebelum pergi Adel minta nomor papa biar nanti Adel bisa hubungi papa." Ucap gadis itu lalu mengeluarkan ponsel dan mencatat nomor ponsel Rendra.
__ADS_1
"Hati-hati pa, nanti kita ketemu lagi ya."
"Kamu juga hati-hati nak, jangan lupa sampaikan salam papa."
"Iya..." Jawab Adel, gadis itu memandangi punggung Rendra sampai hilang dari pandangan.
Adel menghela nafas panjang kemudian berkata, "Terima kasih ya Tuhan, Kau mempertemukan kami kembali." Ucapnya sambil menatap langit kemudian pergi menuju mobil Kaisar.
Kaisar yang saat itu tengah memainkan ponselnya menoleh ke arah pintu mobil yang dibuka oleh Adel.
"Udah?" Tanya pemuda tersebut setelah Adel memasuki mobil.
"Udah." Jawab Adel dengan tersenyum sumringah, meskipun matanya sembab karena menangis tadi.
"Lo habis nangis ya?" Tanya Kaisar.
"Iya, tapi inilah yang disebut air mata bahagia." Jawab Adel dengan masih tersenyum.
"Oh ya kakak dapat salam dari papa. Tadinya mau ketemu sama kakak langsung tapi nggak bisa karena udah harus pulang." Lanjutnya.
Kaisar mengangguk pelan sebelum bertanya, "Kamu senang?"
"Kakak bisa lihat sendiri, hari ini aku sangat bahagia dan bersyukur, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan papa."
"Baguslah, baru kali ini aku melihatmu sebahagia itu, bertahanlah dalam perasaan itu." Ucap Kaisar sambil mengusap kepala Adel.
Adel hanya membalas dengan senyuman, benar apa yang dikatakan Kaisar, Adel baru kali ini merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak pernah dia rasakan semenjak Satya kembali ke kehidupan Rani.
"Kalo udah nggak ada apa-apa lagi, kita pulang sekarang ya?"
"Iya kak, maaf ya udah bikin kamu nunggu lama."
"Santai aja." Jawab Kaisar kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1