
Pagi ini matahari tak begitu memancarkan sinarnya meskipun waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sepertinya November benar-benar akan mendatangkan hujan bersamanya.
"Hari ini sudah masuk bulan November ya." Rendra bertanya kepada Adel yang saat itu tengah menyiapkan sarapan untuk dia dan juga Rendra.
Adel yang saat itu tengah menuangkan secangkir teh hangat untuk Rendra pun menjawab, "Iya pa dan bulan ini Adel mulai sibuk untuk persiapan ujian kelulusan."
"Oh ya? Wah sepertinya papa harus mantau kamu biar mau belajar dengan rajin."
"Yaelah pa, gini-gini Adel pinter tauk. Adel masuk tiga besar terus." Jawab Adel membanggakan diri.
Rendra menyipitkan matanya tak percaya, "Masa? Melihat kamu yang sering bolos papa jadi nggak percaya."
"Ih papa, bener tauk. Tiga besar dari bawah tapi." Jawab Adel dengan terkekeh geli.
"Hmmm sudah papa duga." Rendra menyeruput tehnya sebelum melanjutkan, "Jangan menyepelekan masa belajarmu nak. Masa depanmu harus cerah dan lebih cerah dari kami para orang tua."
"Iya pa iya..."
Rendra menatap Adel dengan tatapan yang serius, "Papa nggak mau tahu. Kamu harus lulus dengan nilai yang terbaik, dan mulai sekarang jangan pernah bolos lagi!"
"Pa..."
"Nak, tugas kamu sekarang hanyalah belajar dengan baik. Jangan memikirkan masalah kami sebagai orang tua, karena kami pasti mempunyai penyelesaian tersendiri."
Adel tertunduk mendengar nasihat dari Rendra sebelum menjawab, "Susah pa, papa nggak paham apa yang Adel rasain"
__ADS_1
"Soal mama kamu, jangan khawatir karena cepat atau lambat ingatannya pasti akan kembali." Ucap Rendra dengan mengusap punggung tangan Adel.
Adel menghela nafas panjang kemudian menjawab, "Semoga saja pa."
"Cuma satu yang papa minta, jadilah Adel yang dulu papa besarkan. Adel yang selalu ceria dan membuat papa bahagia." Rendra menyunggingkan senyumnya ketika mengatakan hal itu.
Adel membalas dengan senyum tipis kemudian menjawab, "Maaf pa kalau Adel udah bikin papa khawatir. Adel janji, Adel akan berusaha sebaik mungkin."
Rendra mengangguk pelan, "Nggak apa-apa lakukanlah dengan perlahan, papa yakin kamu pasti bisa."
"Ya sudah habiskan sarapanmu lalu berangkat sekolah, nanti papa antar sekalian papa ke rumah sakit." Lanjut Rendra.
"Ini jadwal papa kontrol ya?" Tanya Adel.
Mata Adel berbinar memancarkan kebahagiaan kemudian berkata, "Terakhir? Itu artinya kaki papa sudah kembali normal?"
"Iya rencananya hari ini gipsnya mau dilepas sama dokter." Jawab Rendra.
"Papa..." Panggil Adel.
"Hm? Iya nak kenapa?"
"Adel boleh ikut nemenin papa ke rumah sakit nggak?" Pintanya.
Dengan cepat Rendra melarang, "Tidak! Kamu harus sekolah, apa kamu lupa nasihat papa yang baru beberapa menit yang lalu?"
__ADS_1
"Sekali aja Adel mohon." Paksa Adel sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Papa bilang nggak ya nggak." Rendra menjawab dengan tegas sembari menunjukkan tatapan tajam.
Namun hal itu tidak berpengaruh ke Adel, gadis itu tetap memaksa Rendra dengan menangkupkan kedua tangannya, Adel kembali memaksa, "Please pa... Sekali aja Adel mohon, lagian ini kontrol papa yang terkahir kan? Izinkanlah putri cantikmu ini menemani papa." Adel berkata dengan penuh drama.
Melihat Adel terus memaksanya, Rendra tidak dapat menolak lebih jauh.
Dengan terpaksa Rendra pun mengiyakan permintaan Adel, "Baiklah tapi ini yang terakhir kamu bolos sekolah!" Ucap Rendra dengan penuh ketegasan.
Tanpa langsung menjawab perkataan Rendra, Adel justru menghampiri laki-laki paruh baya itu dan langsung memeluknya, "Terima kasih, papa memang yang terbaik." Ucap Adel dengan penuh kebahagiaan.
"Iya... Sudah habiskan dulu sarapanmu."
"Siap boss!" Jawab Adel dengan sikap hormat.
Beberapa saat kemudian laki-laki yang mengurus Rendra selama ini datang menghampiri keduanya.
"Selamat pagi pak, apa bapak sudah siap pergi sekarang?" Ucap laki-laki itu saat sudah dihadapan Rendra.
"Ah sebentar lagi, tunggu anak saya habiskan sarapannya dulu dia mau ikut katanya." Jawab Rendra.
Laki-laki itu mengangguk pelan kemudian menjawab, "Kalau begitu saya tunggu di mobil ya pak."
"Iya terima kasih." Balas Rendra.
__ADS_1