
Pecahan kaca dari bingkai foto bertebaran dimana-mana. Dan di waktu yang sama, Rani yang tak sadarkan diri tengah diperiksa oleh seorang dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" Satya bertanya setelah dokter selesai memeriksa.
"Setelah saya periksa, kemungkinan yang terjadi pada ibu Rani adalah dia mulai mengingat sedikit demi sedikit memori ingatannya yang hilang." Jawab dokter.
Dokter tersebut melirik pecahan kaca yang ada di lantai kemudian melanjutkan penjelasannya, "Mendengar cerita dari pak Satya sebelumnya, bahwa ibu Rani langsung tak sadarkan diri setelah melihat foto tersebut, kemungkinan besar kesimpulan yang tadi saya katakan itu benar. Tapi agar lebih jelasnya lagi, lebih baik ibu Rani dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Satya mendengar penjelasan dokter sembari memandangi wajah Rani dengan begitu sedih, sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia begitu pilu melihat keadaan Rani yang memprihatinkan.
Satya menghela nafas panjang sebelum berkata, "Baik dok, terima kasih. Saya akan membawa Rani ke rumah sakit secepatnya." Ucapnya dengan menatap dokter.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak." Pamit dokter tersebut yang dibiarkan pergi begitu saja oleh Satya, tanpa berniat mengantarnya sampai ke depan pintu rumah.
"Rani, benarkah kamu sudah mulai mengingat semuanya sampai keadaanmu kembali menurun?" Gumam Satya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Adel yang baru saja terbangun mengerjapkan matanya berulang kali karena mendengar suara riuh di luar kamarnya.
Gadis itu melirik jam dinding kemudian bergumam, "Baru jam setengah enam pagi kok udah ada suara ramai banget di luar, kenapa ya?"
Adel diam beberapa saat guna mengumpulkan seluruh kesadarannya sebelum beranjak dan memeriksa suara ramai yang dimaksud, dia keluar kamar dan mendapati ada beberapa orang yang sibuk mengumpulkan barang-barang entah apa itu.
Tak lama kemudian ia juga melihat Satya yang terlihat tengah memberikan arahan kepada orang-orang tersebut, Adel menghampirinya kemudian bertanya, "Ini kenapa pa? Kok ada banyak orang?"
Sebelum Satya sempat menjawab, Adel melihat salah satu orang tengah memasukkan beberapa album foto keluarga yang berisi fotonya dan juga Rani sedari kecil ke dalam kardus.
Adel langsung mencegah orang tersebut melakukan pekerjaannya, "Eh apa ini pak?! Kok foto saya dimasukkan ke dalam kardus gitu, mau dibawa kemana?" Tanyanya dengan panik.
"Iya masukkan semuanya ke dalam kardus!" Satya berseru kepada orang-orang suruhannya.
Dari sana barulah Adel menyadari bahwa orang suruhan Satya semuanya sedang membereskan segala hal-hal yang menyangkut dirinya dan juga Rani.
"Pa, ini semua mau dibawa kemana pa? Kenapa papa nggak bilang ke Adel dulu?!"
__ADS_1
"Mau saya buang." Jawab Satya tanpa menoleh ke arah Adel dan tetap fokus memperhatikan orang-orang suruhannya.
Adel membelalakkan matanya tak percaya, "Apa?! Nggak boleh! Papa nggak boleh seenaknya kayak gitu!" Adel kemudian mencegah orang suruhan Satya dan berkata dengan keras, "Letakkan semua barang-barang itu ke tempatnya semula! Kalian tidak punya hak mengambil semua barang-barang saya!" Serunya dengan lantang.
Orang suruhan Satya menjadi bingung dengan melihat satu sama lain, sebelum Satya kembali menyuruhnya, "Kenapa diam saja?! Lanjutkan pekerjaan kalian!"
"Pa, papa nggak harus kayak gini! Adel bisa membereskan semua terus Adel simpan sendiri pa!"
Sebelum sempat menjawab, Rani memanggil Satya dengan suara lemahnya yang membuat Satya menoleh ke arahnya.
"Satya..." Panggil Rani dari ambang pintu kamarnya, wanita itu berjalan menghampiri Satya dengan langkah pelan.
"Rani, apa kamu butuh bantuan? Seharusnya kamu tinggal panggil aku saja dan nggak perlu bangun seperti ini." Satya juga ikut menghampiri Rani yang berjalan ke arahnya.
"Aku sudah tau semuanya Satya, tidak ada yang perlu kamu tutup-tutupi lagi."
Satya bingung sekaligus panik, dia pikir Rani sudah mengetahui tentang kebohongannya mengenai Adel.
__ADS_1
"S-semuanya bisa aku jelaskan. Tapi sebelum itu, mari kita bicara di kamar saja."
Di sisi lain, Adel hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meremas bajunya, Adel menyadari inilah alasan kenapa Satya ingin menyingkirkan semua benda-benda yang berkaitan dengan dirinya dan juga Rani, karena Satya tidak mau kebohongannya terbongkar dalam waktu dekat.