Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Lima Tahun Lalu Part 5 (End)


__ADS_3

Satya sedang bergelut dengan kertas yang berserakan di atas meja, keriput di wajahnya kian terlihat semakin jelas tatkala banyaknya pekerjaan yang merepotkan dirinya. Hingga suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya, di liriknya nama yang tertera di layar ponsel sebelum laki-laki itu mengangkat panggilan tersebut.


Rupanya dari nomor yang tak dikenal, Satya enggan untuk menerima panggilan dari nomor tak dikenal tersebut jika tidak ada pesan sebelumnya, namun ponsel itu terus berdering berkali-kali sampai membuat Satya jengah dan akhirnya menerima panggilan itu.


"Halo?" Meskipun kesal, Satya berusaha mengendalikan suaranya.


"Apa?!" Satya membelalakkan matanya terkejut menerima kabar dari penelepon, "Saya segera kesana." Lanjutnya.


Satya segera menghubungi sekretarisnya untuk merapikan semua dokumen yang masih berserakan itu sebelum dia pergi.


Tak pergi dengan sopir, laki-laki paruh baya itu pergi seorang diri tanpa ditemani siapapun dengan kecemasan yang melanda hatinya.


Saat Satya tiba, dirinya langsung disambut oleh petugas yang menghubunginya, "Mari bicara di ruangan saya pak." Ajak petugas perempuan yang berusia sama dengan Satya.


"Silahkan duduk." Petugas perempuan itu mempersilahkan Satya untuk duduk sebelum memulai pembicaraan.


"Langsung saja Bu, apa yang terjadi pada Rani."


Petugas perempuan itu menghela nafas panjang sebelum memberi penjelasan, "Baik pak, seperti yang pak Satya ketahui tentang kondisi mental ibu Rani sejak hari pertama kami tahan."

__ADS_1


"Selama dua tahun ini kami cukup kewalahan mengurus ibu Rani, jika ada kegiatan di lapas, beliau selalu menyerang para tahanan lain seperti dengan tiba-tiba menyakiti mereka, selain itu jika ada laki-laki yang mungkin mirip dengan mantan suaminya, maka Ibu Rani akan mengganggu orang tersebut untuk meminta dipulangkan."


Satya memijat pelipisnya mendengar penjelasan dari petugas tersebut, kepalanya tiba-tiba merasa sakit yang hebat.


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Bu?" Tanya Satya akhirnya.


"Kami memanggil pak Satya kemari karena ingin membicarakan hal ini. Mulai sekarang pihak kami sudah memutuskan untuk memindah ibu Rani ke rumah sakit jiwa untuk penanganan lebih lanjut." Jawab petugas tersebut.


Satya begitu terkejut mendengar keputusan yang menurutnya sudah berlebihan, "Apa?! Tidak, saya tidak setuju. Itu terlalu berlebihan."


"Maaf pak, tapi ini sudah diputuskan."


"Saya punya satu usulan, dan saya harap pihak ibu bisa menerima usulan dari saya."


"Silahkan." Petugas perempuan mempersilahkan Satya untuk mengutarakan pendapatnya.


"Bagaimana kalau Rani saya rawat di rumah? Tentu saya juga akan memfasilitasi semua hal yang akan diperlukan."


Petugas itu menggeleng dengan cepat, "Maaf pak, itu tidak bisa itu sama saja menyalahi aturan."

__ADS_1


"Tolong pertimbangan, kalau Rani di rawat di rumah, saya bisa ikut menjaganya dan memantau perkembangannya, saya janji saya akan mematuhi semua kebijakan yang diberikan."


Petugas itu memandang Satya dalam kebisuan sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah tapi ada persyaratan yang harus bapak tanda tangani sebagai bentuk persetujuan atas kebijakan yang akan kami berikan."


"Apapun itu, asal Rani bisa saya rawat di rumah."


Petugas itu mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja dan memberikannya kepada Satya, "Salah satu peraturan dari kami adalah, meskipun tahanan akan dirawat di luar penjara. Itu tidak berarti tahanan sudah bebas dari masa hukuman. Jika tahanan sudah dipastikan sembuh, maka tahanan harus kembali ke penjara untuk menyelesaikan masa hukuman yang tersisa."


"Dalam kasus ini ibu Rani sudah menjalani masa hukuman selama dua tahun, maka sisanya adalah empat tahun. Jika ibu Rani sudah sembuh, maka ibu Rani harus kembali kesini." Lanjutnya.


"Apa tidak ada keringanan?" Tanya Satya dengan lemas


"Maaf pak, hukum harus tetap berjalan." Jawab petugas perempuan itu.


Mau tidak mau Satya harus menyetujui persyaratan tersebut karena memang itulah peraturan yang sudah ditentukan. Akhirnya Satya menandatangani persyaratan yang diberikan sebelum akhirnya membawa Rani untuk di rawat di rumah akibat gangguan jiwa.


Pada saat itulah semua kehancuran itu terjadi, hari dimana Adel mendapat perlakuan yang tidak baik dari kedua orang tuanya. Satya yang berusaha mati-matian untuk kesembuhan Rani sampai sikapnya berubah drastis, ayah yang begitu menyayangi Adel di waktu kecil tapi kini hatinya yang dibutakan oleh perasaan cinta kepada seorang wanita sampai membuatnya tega melarang putri semata wayangnya untuk mendekati Rani walau sejengkal.


Hallo kakak, jangan lupa dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara like, vote, rate, komen dan share yaa... Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author agar semangat menulis. Terimakasih sebelumnya untuk kalian yang setia mendukung karya saya. Semoga sehat selalu dan bahagia...☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2