
"Mama?!!" Seru Kaisar terkejut yang langsung merubah posisi tidurnya ke setengah duduk dengan bertopang pada salah satu sikutnya.
Kaisar terperanjat kaget ketika membuka mata, yang dilihatnya pertama kali adalah Anika yang sudah berdiri di sisi ranjang dekat nakas sembari memegang sebuah bingkai foto kecil di tangannya.
Dengan suara serak khas bangun tidur, Kaisar bertanya, "Mama ngapain pagi-pagi udah di kamar Kai?"
"Apa ini Adel yang pernah mama temui?!!" Tanya Anika cepat seraya menunjuk foto yang ada ditangannya.
Foto tersebut merupakan foto yang Kaisar ambil saat dirinya dan Adel bertemu di taman kota, foto itu memperlihatkan keduanya tengah berdiri di tepi danau dengan raut wajah yang sangat bahagia. Adel yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap, sedangkan Kaisar seperti biasa dengan style kaos hitam yang dipadu padankan dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru putih serta jeans berwarna hitam.
"Oh foto itu..." Jawab Kaisar santai seraya turun dari ranjang dan hendak mengambil bingkai foto dari Anika. Namun Anika tak membiarkan itu sehingga tangan Kaisar hanya menggantung di udara.
"Jawab mama, ini Adel yang pernah ketemu sama kita atau bukan?!!"
"Iya ma, itu Adel yang pernah kita bantu waktu di restoran, dan sekarang itu pacar Kai ma, maaf Kaisar belum sempat cerita ke mama." Kaisar masih bersikap santai dia belum menyadari bahwa saat ini Anika menunjukkan sikap yang tak biasa.
Bahu Anika naik turun, nafasnya sudah tak beraturan dengan suara yang cukup tenang dia bertanya, "Jawab pertanyaan mama, apa benar ini Nadella Putri anak dari Satya dan juga Rani?"
Bagaimana Anika bisa tahu? Ya, di foto tersebut Kaisar sengaja menuliskan nama lengkap Adel.
"K-kok mama bisa tau?" Kali ini Kaisar sudah bisa merasakan hawa dingin diantara mereka.
__ADS_1
Anika langsung jatuh terduduk lemas setelah mendengar jawaban Kaisar yang secara tidak langsung mengiyakan pertanyaanya. Tubuhnya bahkan sampai bergetar hebat.
Kaisar langsung sigap membantu Anika, "Ma, mama kenapa? Mama sakit?!" Nadanya terdengar begitu khawatir.
Ketika Kaisar hendak membantu Anika untuk dipindahkan ke ranjang, Anika menolaknya dengan cepat.
"Mama mau ke kamar aja." Ucap Anika terdengar acuh, di kembalikannya bingkai foto tersebut dengan sembarang ke dada Kaisar.
Kaisar bahkan sampai tergopoh menangkap bingkai fotonya karena hampir terjatuh. Kaisar memandangi Anika yang berjalan pergi ke luar kamarnya dengan sempoyongan.
"Ada apa dengan mama? Kenapa mama aneh sekali?" Gumam Kaisar pelan.
Anika memilih untuk menenangkan diri di kamar pribadinya, meskipun harus menelan kenyataan pahit bahwa putranya menjalin hubungan dengan putri seseorang yang pernah menghancurkan rumah tangganya di masa lalu. Bukan Anika belum bisa menerima kejadian itu meskipun sudah bertahun-tahun, namun goresan di hati tak satu pun orang bisa menyembuhkannya dengan mudah.
"Maafkan mama nak, kali ini mama egois."
Anika menoleh ketika mendengar suara ketukan pintu, setelahnya disusul oleh suara Kaisar yang memanggilnya.
"Mama... Mama oke kan? Kaisar masuk ya?" Pemuda itu berseru dari balik pintu sembari memainkan gagang pintu.
Anika mengatur nafasnya sebelum beranjak dan membukakan pintu untuk Kaisar, "Ada apa nak?" Tanya Anika dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mama sebenarnya kenapa? Kai khawatir sama mama."
Anika mengusap lengan Kaisar lembut, "Nggak apa-apa Kai, mama oke kok. Kamu nggak perlu khawatir."
Kaisar menundukkan kepalanya agar dapat melihat Anika dari dekat, "Bener? Kai nggak suka ya kalau ada sesuatu yang mama sembunyiin dari Kai."
"Kamu udah sarapan?" Anika mengalihkan pembicaraan.
Kaisar mengusap perutnya, dengan ekspresi lapar pemuda itu menjawab, "Mau sarapan gimana, orang mama juga nggak nyiapin."
"Oh jadi kamu panggil-panggil mama cuma mau dibikinin sarapan aja?"
"Iya... Eh enggak, mana mungkin Kai begitu."
"Awas aja ya kalau begitu, besok-besok mama nggak mau bikin sarapan lagi."
Kaisar memeluk Anika dengan erat, "Nggak dong ma, Kaisar ke sini karena khawatir sama mama, kalau mama mau mulai besok mama nggak usah masak, biar Kai aja yang masak."
Anika mengusap punggung Kaisar dengan erat, seolah tak mau kehilangan pelukan hangat yang diberikan putranya selama ini.
"Kalau begitu ayo kita turun ke bawah, mama akan siapin sarapan yang enak buat kamu." Ajak Anika, keduanya kemudian menuju lantai dasar dengan berjalan beriringan.
__ADS_1
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan soal Adel kepada Kaisar, untuk itu Anika memilih diam terlebih dahulu sembari mencari cara terbaik memberitahu Kaisar agar tak ada satu pun yang harus tersakiti.