Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Genggaman Tangan


__ADS_3

Tak bisa dipungkiri, meskipun bahagia melihat Rani yang sudah bisa mengingat semuanya, namun ada satu hal yang sangat dikhawatirkan oleh Satya, yaitu polisi akan mendatanginya dan memerintahkan Rani untuk kembali menjalani masa hukumannya yang belum selesai.


"Apa kami pindah saja ke luar negeri?" Gumamnya pelan, "Ah tidak, pihak berwajib tidak akan membiarkan kami begitu saja." Lanjutnya.


Satya terus termenung di ruang kerjanya bergelut dengan pikirannya sendiri berusaha mencari jalan keluar yang disadarinya merupakan perbuatan yang licik untuk menyembunyikan Rani.


Satya mengendurkan dasi sembari menghela nafas berat beberapa kali, dia bersandar pada kursi kebanggaannya dengan mata yang menatap kosong langit-langit ruangan.


"Aku telah gagal dalam membangun keluarga, aku tidak ingin kebahagiaan hilang dari keluarga ini setelah sekian lama berusaha aku dapatkan. Aku akan mengusahakan apapun untuk kalian, bagaimana pun caranya, meski harus mengorbankan segalanya sekali pun."


***


Adel berlarian kecil menghampiri seorang pemuda dengan postur tinggi itu yang sudah siap untuk menyambut dirinya.


"Akhirnya kamu datang, sayangku." Kaisar berkata saat berhasil menangkap tubuh Adel ke pelukannya.


Adel mendongak dan berkata, "Kenapa mengajak bertemu tiba-tiba? Aku kan jadi buru-buru datang ke sini, mana susah lagi nyari ojek." Gerutunya dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Kangen." Kaisar hanya menjawab singkat lalu mengarahkan Adel untuk duduk di bangku taman tempat favorit mereka berdua.


Di bangku tersebut, keduanya bisa menikmati danau buatan yang terdapat banyak angsa bermain di dalamnya, meskipun tak besar, danau tersebut cukup indah dipandang oleh mata.


"Maaf ya aku nggak bisa jemput kamu, sampe kamu harus naik ojek ke sini." Sesal Kaisar membuka pembicaraan.


Adel menggeleng pelan sembari diiringi dengan kata, "Em em em, kuliah kakak lancar?"


"Yah, cukup sibuk banyak hal yang harus dipersiapkan untuk wisuda."


"Senangnya... Aku selalu ingin cepat-cepat lulus sekolah lali kuliah, kelihatannya sangat keren!" Adel berkata dengan semangat.


"Ih kakak itu tipe-tipe orang yang nggak bisa menikmati hidup yah, selalu saja begitu, biasa-biasa saja." Gerutu Adel.


Kaisar mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangannya dari danau, "Ya emang begitu kenyataannya, enakan rebahan di rumah sambil nerima laporan kalo usaha yang kita jalankan mendapat penghasilan banyak." Ucapnya tanpa ekspresi apapun, sedangkan Adel sudah tertawa cekikikan.


"Emang yang paling enak itu ngehalu ya kak, haha." Jawabnya.

__ADS_1


Meskipun melemparkan lelucon yang berhasil mengundang gelak tawa dari gadis kesayangannya, senyum tipis tak kunjung muncul dari bibir milik Kaisar, pemuda itu seperti mempunyai sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun berat untuk mengungkapkannya.


Setelah kembali bisa mengendalikan dirinya, Adel kemudian bertanya, "Kamu belum jawab pertanyaanku loh kak, kamu tumben mendadak ajak ketemu, pasti ada hal yang mau kamu sampaikan, kan?"


Kaisar menatap lekat mata Adel dengan tatapan sendu, ekspresinya sulit untuk ditebak.


"Ada apa kak?" Sekali lagi Adel mencoba memastikan.


Kaisar menggenggam tangan Adel dengan begitu erat, dia tertunduk dan menghela nafas panjang untuk memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


"Nadella Putri, ayo sama-sama berjuang."


Tak ada yang bersuara setelah Kaisar berkata demikian dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Adel tertawa hambar untuk mencairkan suasana.


"Ha ha ha, apaan sih kak, tiba-tiba ngomong gitu, kayak mau perang aja."


Menyadari Kaisar tak ikut tertawa sepertinya, Adel menjadi paham bahwa kali ini Kaisar serius dengan yang dikatakannya, "Eh? Nggak lucu ya?"

__ADS_1


"Apapun yang terjadi, kakak akan selalu menggenggam tangan ini." Kaisar berkata dengan yakin sembari mengeratkan genggaman tangannya.


__ADS_2