Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Rooftop


__ADS_3

Disepanjang perjalanan, Kaisar hanya diam tak mengucapkan sepatah katapun, tidak biasanya pemuda tersebut seperti itu.


Nara yang menyadarinya pun bertanya untuk memastikan keadaan Kaisar, "Kai, apa kamu baik-baik saja?"


Kaisar menoleh ke arah Nara dengan tersenyum tipis kemudian menjawab, "Ya, aku baik-baik saja sayang."


"Terus kenapa dari tadi diem aja?"


"Nggak apa-apa sayang, aku cuma kecapekan aja." Jawab Kaisar.


Nara masih melanjutkan pertanyaannya, "Tapi aku heran deh Kai sama kamu, semenjak kamu ketemu sama pak Rendra orang yang kita tabrak tadi, kamu jadi beda kamu itu jadi banyak diemnya tahu, apa jangan-jangan kalian saling kenal?"


Kaisar terbatuk pelan mendengar pertanyaan dari Nara tersebut, "Mana mungkin aku mengenalnya, kamu kan lihat sendiri tadi, pak Rendra aja nggak tahu siapa aku."


"Emmm iya juga si, tapi kenapa kamu diem aja tadi di rumah sakit?"


"Terus aku harus gimana sayangku, apa aku harus teriak-teriak disana?" Kaisar menjawab dengan bergurau.


"Ya nggak juga, maksudnya kamu nggak kaya biasanya." Ucap Nara.


Kaisar mencubit pipi Nara sebelum berkata, "Hais, kamu itu terlalu mikirin yang hal nggak penting kaya gitu. Udah ah nggak usah dibahas." Nara mengaduh kesakitan mendapat cubitan dari Kaisar dan tak membahas lebih jauh.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena kondisi hujan dan kabut yang menutupi jalanan, Keduanya pun akhirnya sampai di rumah Nara.


"Kamu beneran nggak mau masuk dulu?" Tanya Nara sebelum keluar dari dalam mobil.


"Nggak dulu yang, udah malem juga nggak enak sama mama kamu. Salam aja ya buat mama." Jawab Kaisar.


Nara mengangguk pelan mengerti alasan Kaisar, "Ya udah aku masuk dulu ya, kamu pulangnya hati-hati."


"Siap sayang. Ya udah sana cepet masuk mumpung hujannya udah agak reda." Ucap Kaisar yang segera dipatuhi oleh Nara.


Setelah memastikan kekasihnya itu sudah masuk ke dalam rumah dengan aman, Kaisar mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan.


Maaf ma, malam ini Kai nggak pulang, Kai nginep di rumah Andre.


Setelah beberapa saat, Kai terlihat berhenti disebuah bangunan tinggi. Dia masuk kedalamnya, pemuda itu sebenarnya telah berbohong kepada Anika dia sebenarnya tidak menginap di rumah Andre temannya, melainkan menuju ke tempat lain dimana kini dia berada.


Kaisar menuju ke roofop bangunan tinggi tersebut, rupanya itu sudah menjadi tempat kebiasaan Kaisar untuk menumpahkan segala perasannya saat dia sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Kaisar adalah pemuda yang sulit ditebak, dia bisa menjadi pelindung bagi siapapun tapi dia tidak mau membebani orang lain atas masalah yang ia simpan, termasuk ke mamanya sendiri. Sehingga ia membutuhkan tempat untuk mencurahkan semuanya, yang bisa memberikan sedikit kelegaan bagi Kaisar, dan pemuda itu memilih sebuah gedung tinggi sebagai tempat pelariannya.


Saat Kaisar baru menapakkan kakinya di rooftop itu, dia dikejutkan dengan adanya seorang gadis yang tidak asing baginya tengah berdiri tepat disisi paling pinggir, karena biasanya tidak ada seorang pun yang ada disana selain Kaisar. Setelah menyadari adanya kejanggalan, Kaisar buru-buru berlari ke arah gadis itu dan langsung menariknya menjauh dari sisi yang membahayakan tersebut.


Gadis itu terkejut dia berteriak keras, "Lepasin!"

__ADS_1


Setelah dipastikan sudah berada di tempat yang aman barulah Kaisar melepaskan gadis tersebut, "Lo udah gila ya?! Mau apa lo?!" Kaisar bertanya dengan suara yang keras, gadis tersebut tidak lain adalah Adel.


"Bukan urusan lo!" Adel mendorong tubuh Kaisar dengan keras kemudian kembali ke tempatnya tadi.


Melihat itu Kaisar tidak membiarkannya begitu saja, Kaisar menarik Adel dan kali ini tidak ia lepaskan sama sekali.


"Lo kenapa sih! Lo mau lompat dari sini, hah?!" Tanya Kaisar.


"Gue bilang, bukan urusan lo. Lepasin tangan gue sekarang juga!" Jawab Adel sambil terus memberontak dan berusaha melepaskan tangannya dari Kaisar.


"Nggak akan!"


"Eh, kita nggak saling kenal dan kita nggak ada hubungan apa-apa, jadi apa peduli lo kalau gue lompat sekalipun, hah?!"


"Kita emang nggak saling kenal, tapi gue nggak akan biarin siapapun ngelakuin hal konyol yang kaya lo lakuin tadi!" Jelas Kaisar.


Adel menatap Kaisar dengan tatapan tajam kemudian berkata, "Terserah!" Ucapnya singkat.


Adel sekali lagi mendorong tubuh Kaisar agar menjauh darinya, dan bersiap melakukan hal yang digagalkan Kaisar sebelumnya, namun karena tubuh Kaisar yang kekar, pemuda itu berhasil menarik tubuh Adel dan kali ini Kaisar memilih memeluknya seerat mungkin agar gadis tersebut tidak bisa bergerak dengan leluasa. Sedangkan Adel terus memberontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Kaisar.


"Gue nggak tau seberat apa masalah lo, tapi apa yang mau lo lakuin barusan bukanlah keputusan yang benar." Kaisar berusaha menasihati Adel namun sama sekali tak mendapat tanggapan dari gadis itu, dia masih terus memberontak.

__ADS_1


"Gue percaya lo adalah cewek yang hebat, dan gue juga percaya lo pasti bisa melalui itu semua dengan mudah." Kaisar berkata pelan tepat ditelinga Adel.


Hal itu berhasil membuat Adel berhenti memberontak. Dan siapa sangka, setelah mendengar ucapan lembut dari Kaisar itu, gadis tersebut pun menenggelamkan kepalanya dipelukan Kaisar dan mulai menangis sejadi-jadinya. Kaisar bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Adel, sehingga pemuda tersebut membiarkan Adel menangis semaunya tanpa berkata apa-apa, Kaisar memilih menunggu Adel selesai menangis agar perasaannya bisa sedikit lega lalu bertanya tentang apa yang terjadi.


__ADS_2