
Di dalam kamar Satya berusaha meraih tangan Rani, namun Rani menolak dengan tegas, "Cukup Satya! Hentikan sandiwaramu!"
"Sandiwara apa Rani? Kamu salah paham!"
"Aku sudah tau semuanya bahwa Adel itu anak kita!" Rani mulai terengah-engah dengan mata yang merah menyala, "Kamu tega Satya! Hanya demi keegoisanmu, kamu rela menyembunyikan anak kandung kita sendiri!"
Satya yang terkejut dan tak terima dengan tuduhan Rani itu pun mulai ikut tersulut emosi, "Keegoisanku? Aku melakukan semua ini demi kesembuhanmu Rani! Jadi jaga ucapanmu!"
"Dengan melakukan sandiwara dan menyiksa perasaan anakmu sendiri, kamu bilang demi diriku?! Sadarlah Satya, yang kamu lakukan itu tidak benar!" Rani tak kalah meninggikan suaranya di depan Satya tak peduli ada banyak orang di luar kamar mereka berdua.
"Lalu bagaimana yang benar? Mengatakan semuanya secara jujur lalu rasa sakit dan traumamu muncul lagi dan kamu pun berteriak dan menyakiti diri sendiri seperti orang gila? Iya, begitu maksudmu?!"
Rani terdiam, dia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan Satya, tapi wanita itu juga tidak bisa menerima cara Satya yang sangat menyakiti perasaan Adel yang tidak lain adalah putri kandung mereka sendiri.
"Terima kasih karena sudah berjuang untuk kesembuhanku meski caramu keliru, Satya." Rani berkata dengan suara lirih tidak seperti sebelumnya. Wanita itu kemudian berjalan keluar kamar.
"Mau kemana kamu? Kamu masih dalam kondisi yang lemah." Satya mencoba menghalangi jalan Rani.
"Aku ingin menemui anakku." Jawab Rani singkat.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku yang akan pergi memanggilnya untukmu." Tanpa menunggu jawaban dari Rani, Satya bergegas pergi untuk memanggil Adel.
Sembari menunggu, Rani memilih duduk di sisi ranjang tempat tidurnya dengan mengingat semua perlakuannya selama ini kepada Adel.
"Maafkan mama nak, mama yang bodoh ini sudah begitu banyak menyiksamu." Gumamnya lirih yang sudah mulai berderai air mata.
Tak lama, Satya memasuki kamar dengan diikuti Adel di belakangnya, Adel nampak tak berani mengangkat wajah di depan Rani. Karena yang Adel tau, pertengkaran antara kedua orang tuanya itu disebabkan oleh dirinya.
"Kalian berdua bicaralah, aku akan pergi mengurus orang-orangku." Satya adalah orang yang pandai menempatkan diri, jadi dia memutuskan untuk memberikan ruang agar Rani dan Adel bisa berbicara empat mata.
"Kemarilah!" Ucap Rani dengan menepuk tempat di sisinya agar Adel duduk di sampingnya.
Adel langsung menuruti perintah Rani dan duduk di sebelahnya dengan kepala yang senantiasa menunduk sembari memainkan jemari tangannya.
"Maafkan Adel Tante, ini semua kesalahan Adel." Adel dengan cepat memotong perkataan Rani yang belum sempat diselesaikannya.
"Tante? Apa selama ini kamu begitu tertekan, sayang?" Rani mengusap lembut pipi Adel, hal itu berhasil membuat Adel mau mengangkat wajahnya dan menatap Rani begitu lekat.
"Iya ma, Adel sangat tertekan!" Adel hanya mampu berkata jujur melalui hatinya, sedangkan mulutnya berkata lain.
__ADS_1
"Enggak, Tante. Adel baik-baik aja kok." Jawab Adel sembari memamerkan senyum palsunya.
Dengan gerakan cepat Rani membawa Adel ke pelukannya, "Oh Adel anak mama. Maafkan mama nak, mama sudah ingat semuanya, Adel nggak perlu bohong lagi sama mama." Ucapnya yang mulai terisak.
Adel tertegun sejenak berusaha mencerna semua perkataan Rani.
"M-mama?" Panggil Adel dengan ragu.
Rani mengangguk keras dan menjawab, "Iya sayang iya, ini mama."
Rani mulai menciumi wajah Adel seolah sudah tak bertemu dalam waktu yang sangat lama. Sedangkan Adel masih bingung memahami setiap kejadian yang terjadi dihadapannya tersebut.
"Apa kamu nggak pingin peluk mama?" Menyadari tak mendapat respon yang diinginkan, Rani mulai protes.
Adel mengangguk dengan cepat kemudian berhambur ke pelukan Rani, "Bagaimana mungkin Adel nggak mau peluk mama, sedangkan pelukan inilah yang sudah lama Adel rindukan dari dulu." Adel memeluk Rani dengan begitu erat.
"Maafkan mama sayang, karena mama, kamu harus menjalani kehidupan yang sangat sulit."
"Nggak, mama nggak boleh minta maaf! Mama nggak salah! Mama udah sembuh dan ingat sama Adel lagi, itu aja udah bisa menghapus semua kepahitan-kepahitan itu."
__ADS_1
Ada orang yang diam-diam tersenyum sembari memperhatikan keduanya yang tengah melepas perasaan satu sama lain.
"Sudah sepantasnya kamu mendapatkan kebahagiaan itu, nak." Gumamnya dari kejauhan.