
"Ternyata suasana taman di malam hari lebih indah ya kak." Ucap Adel, gadis yang kini menyandarkan kepalanya di pundak lapang milik Kaisar.
Kaisar yang ikut menikmati udara sejuk malam hari itu pun bertanya, "Apa kamu belum pernah kesini saat malam?"
"Belum."
"Hm kok bisa? Padahal jarak dari rumahmu nggak begitu jauh."
Adel tak menjawab, gadis itu memejamkan matanya untuk menikmati malam yang sempurna baginya. Bintang yang bertaburan di langit menambah kesan indah untuk langit yang sudah menggelap bagi gadis yang lebih menyukai malam itu.
Kaisar ikut mengembangkan senyumnya, baginya melihat Adel tersenyum dalam ketenangan adalah suatu anugerah terindah baginya.
"Kamu suka?" Kaisar bertanya dengan lembut.
"Tentu saja. Bagiku, malam adalah waktu yang baik untuk mencurahkan segala keluh kesah yang aku rasakan."
"Jadi apa keluh kesahmu hari ini?" Lagi-lagi Kaisar bertanya.
Adel menghela nafas panjang kemudian menjawab, "Cuma satu yang selalu aku pinta setiap malam."
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Kaisar dengan heran.
"Kebahagiaan."
Kaisar menggenggam tangan Adel lebih erat dari sebelumnya, "Mulai hari ini dan seterusnya kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu. Aku berjanji."
Adel mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Kaisar kemudian bertanya, "Apa kamu yakin bisa menepati janjimu?"
"Kamu meremehkanku?!" Tanya Kaisar tak terima.
Adel kembali memejamkan matanya kemudian berkata, "Bukan begitu, manusia itu sifatnya suka berubah-ubah. Hari ini mungkin kita bisa dengan mudah mengucapkan janji, tapi jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi kedepannya, janji bukanlah suatu hal yang berharga lagi."
"Kamu boleh berkata begitu, tapi aku bukanlah orang yang seperti kamu sebutkan tadi. Bagaimana pun keadaannya, aku akan berusaha sebisa mungkin menepati janji yang sudah ku ucapkan dengan mulutku sendiri." Begitulah Kaisar, di balik sikapnya yang sedikit keras, dia termasuk pemuda yang tak pernah mengkhianati ucapannya sendiri.
"Akan ku buktikan!"
Keduanya diam cukup lama untuk menikmati langit malam, meskipun banyak orang yang berlalu lalang, hal itu tidak membuat keduanya merasa terganggu. Karena mereka pun sama inginnya menghabiskan keindahan ini dengan orang tercinta.
"Bagaimana sekolahmu? Lancar?" Pertanyaan Kaisar memecah keheningan.
__ADS_1
Adel yang sebelumnya bersandar di pundak Kaisar kini merubah posisinya agar duduk dengan tegak lalu melontarkan pertanyaan kepada Kaisar, "Sejak kapan kamu menjadi seperti papa sambung ku?"
"Seperti papa sambungmu? Maksudnya?" Kaisar benar-benar tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Adel.
"Ya seperti papaku, yang selalu bertanya bagaimana sekolahku bagaimana hari-hariku." Adel menjawab dengan Kesal.
Kaisar menepuk jidatnya sendiri kemudian bertanya, "Apa aku tidak boleh bertanya tentang itu?"
"Tidak! Hanya papaku yang boleh!" Jawab Adel tegas.
"Hais, pelit sekali bocilku ini!" Ucap Kaisar sembari mencubit keras pipi Adel.
Adel mengusap pipinya yang sakit kemudian berkata dengan suara keras, "Aku bukan bocil!"
"Iya-iya kamu bukan bocil, tapi kamu baby."
Adel memanyunkan bibirnya sembari melipat tangan di depan dada, gadis itu melihat Kaisar sekali lalu membuang muka dengan kesal.
"Utututu little baby ku semakin menggemaskan kalau bibirnya manyun-manyun gitu." Kaisar mengambil ponsel di sakunya kemudian melanjutkan perkataannya, "Coba lihat sini biar papa foto."
__ADS_1
Dengan gaya memotret ala fotografer profesional Kaisar terus menggoda Adel sembari mengambil foto gadis itu dari berbagai arah. Adel yang sebelumnya kesal menjadi lebih kesal dengan tingkah Kaisar yang menyebalkan, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Kaisar terus bersikap konyol yang membuat Adel akhirnya melepaskan tawa renyahnya.
Hallo kakak, jangan lupa dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara like, vote, rate, komen dan share yaa... Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author agar semangat menulis. Terimakasih sebelumnya untuk kalian yang setia mendukung karya saya. Semoga sehat selalu dan bahagia...☺️🙏