
Lima tahun yang lalu, setelah semua lika-liku sandiwara yang dilakukan oleh Rani akhirnya terbongkar dan diketahui oleh Rendra. Polisi datang untuk menangkap Rani atas laporan yang dilayangkan oleh Rendra sendiri.
Semua berjalan sesuai yang diharapkan, Rani tak bisa berkutik apalagi mengelak saat petugas kepolisian mencecarnya dengan berbagai pertanyaan atas kasus yang dilakukannya, hingga akhirnya pengadilan memutuskan hukuman enam tahun penjara untuk Rani sampai pada akhirnya, sesuatu yang tak terduga terjadi padanya.
Satu Minggu setelah ditetapkan sebagai tersangka dan harus mendekam di penjara, hal yang dilakukan Rani hanya berdiam diri tanpa melakukan atau berbicara sepatah katapun dengan orang lain.
"Mbak, jangan diam aja nanti malah makin berat, lebih baik berinteraksi dengan yang lain agar nggak terlalu frustasi." Beberapa teman sebuinya mencoba menyapa dan membujuk Rani agar wanita paruh baya itu tidak terus menerus berdiam diri.
Namun yang dilakukan Rani hanya membalas mereka dengan tatapan tajam, yang memuat orang lain disana tak mau berusaha membujuknya lagi.
"Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa?!" Rani bergumam pada dirinya sendiri.
Sembari duduk meringkuk di sudut ruangan, Rani terus menerus menyalahkan keadaan, "Aku tidak salah! Harusnya wanita itu yang dipenjara, dia yang sudah merebut Rendra dariku!"
__ADS_1
Hanya itu yang Rani lakukan selama beberapa bulan lamanya, membuat orang-orang di sekelilingnya merasa ketakutan dan tak ada yang mau mendekat Rani.
Kian hari tubuh wanita paruh baya itu semakin kurus karena jarang makan dan hanya bisa tidur selama beberapa jam. Karena laporan beberapa teman seruangan Rani yang ketakutan karena ulahnya, petugas pun memutuskan agar Rani dipindahkan ke ruangan khusus yang hanya ada dia seorang.
"Aku tidak salah! Bebaskan aku b*ngsat!!!"
"Keluarkan aku dari sini atau aku akan membunuh kalian!"
Rani terus berteriak setiap harinya meminta agar dirinya dibebaskan karena Rani merasa bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah, di dalam penjara Rani terus menerus menyalahkan Anika, wanita paruh baya itu mengaggap nasibnya yang buruk itu dikarenakan oleh Anika.
"Lihat saja, setelah aku keluar akan ku pastikan hidupmu hancur berkeping-keping!" Lanjutnya.
Kadang tertawa kadang juga menangis, kondisi Rani begitu memprihatinkan. Dia benar-benar sudah selesai orang gila yang kehilangan akal sehat.
__ADS_1
Rani berteriak memaki petugas yang dilihatnya, "Hei b*ngsat! Cepat keluarkan aku dari sini!"
Tak ada satupun yang menanggapi wanita itu, mereka paham menanggapi seseorang yang tengah kehilangan akal itu bukan sesuatu yang harus dilakukan.
Sesaat kemudian, Rani yang sebelumnya berteriak memaki kini justru menjadi menangis histeris, "Tolong saya pak! Saya tidak salah, tolong keluarkan saya dari sini, kasihan anak saya tidak ada yang mengurus."
Sikap Rani yang melunak itu barulah petugas mau menghampirinya, "Sudah Bu, lebih baik Bu Rani bersikap baik disini agar hukuman terasa lebih cepat. Jika ibu terus menerus berteriak, itu semua tidak ada gunanya, yang ada ibu akan semakin tertekan."
Sayangnya, bukannya menerima dengan baik nasihat yang diberikan oleh petugas, Rani justru dengan cepat melayangkan tangannya untuk menjambak petugas laki-laki itu, bahkan Rani sampai mencakar wajah petugas tersebut hingga terluka dari baik jeruji besi.
"Banyak omong! Aku tidak butuh nasihat, yang aku butuhkan keluar dari sini!" Teriak Rani kepada petugas tersebut.
Petugas penjaga tersebut menanggapi Rani dengan santai, "Bu Rani harus menyelesaikan masa hukuman terlebih dulu baru boleh keluar dari ini. Selamat siang." Selepas berkata demikian penjaga itu berlalu pergi meninggalkan Rani yang terus meneriakinya.
__ADS_1
Hallo kakak, jangan lupa dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara like, vote, rate, komen dan share yaa... Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author agar semangat menulis. Terimakasih sebelumnya untuk kalian yang setia mendukung karya saya. Semoga sehat selalu dan bahagia...☺️🙏