
"Yaelah Del, Del... Lo kapan si mau berubahnya? Kalo bokap lo tau, lo bisa kena marah lagi." Ucap Lila sembari menikmati es teh yang dibungkus dengan plastik.
Sore itu sepulang sekolah Lila dan Adel pergi ke warung yang berada dipinggiran jalan raya, keduanya duduk sambil menikmati kendaraan yang berlalu lalang.
Adel menghela nafas berat sebelum menjawab, "Lo kan tahu gue tiap malam susah tidur, alhasil jadi begini." Ucapnya dengan wajah lesu.
"Ya paling nggak sebisa mungkin ditahan lah ngantuknya kalau ada guru killer kayak Bu April tadi."
Adel melirik Lila dengan sinis, "Lo tau nggak obat tidur itu apa?"
Lila mengerutkan dahi kemudian bertanya, "Apa?"
"Ya tidur lah, Lola! Mau seisi dunia ngehibur lo, kalo ngantuk ya ngantuk." Jawab Adel, dia memang sudah terbiasa memanggil Lila dengan sebutan Lola, karena Lila cukup lambat kalau diajak berfikir.
Lila menggaruk pipinya, "Iya juga ya. Pinter lo kalo soal beginian."
Adel menyeruput tetesan terakhir es teh manis yang terbungkus plastik sebelum berdiri, "Yuk cabut, udah jam lima nih. Nanti kemaleman."
"Kita naik angkot kan. Tapi lo yang bayar ya, kan tadi gue udah traktir es teh manis, hehe." Ucap Lila yang berjalan di samping Adel.
"Dih perhitungan banget! Mau ditraktir ataupun enggak, biasanya juga gue yang bayar ongkos pulang." Cibir Adel.
***
Setelah kurang lebih seminggu Rendra dirawat di rumah sakit, hari ini laki-laki itu sudah diperbolehkan pulang. Tapi ada satu hal yang menganggu pikirannya.
"Dengan kondisi kaki ku yang seperti ini, bagaimana aku bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?" Tanyanya pada diri sendiri saat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Apa aku pulang kampung saja? Ah tidak, itu akan merepotkan orangtua saja, tapi disini aku tidak punya siapa-siapa." Rendra terus menghela nafas berat memikirkan nasib kedepannya. Karena kakinya yang patah masih membutuhkan beberapa bulan agar bisa normal kembali.
__ADS_1
Rendra mengangkat bahu, "Sudahlah dipikirkan nanti saja, yang penting sekarang pulang dulu." Ucapnya yang kemudian menenteng tas, dia harus berjalan dengan hati-hati dengan dibantu tongkat bantu jalan.
Rendra terkejut ketika membalikkan badan ternyata sudah ada Anika dan juga Kaisar yang ternyata memperhatikannya sedari tadi.
"K-kalian? Sejak kapan kalian ada disini?" Tanya Rendra.
"Sejak kamu bergumam sendiri." Jawab Anika, "Apa benar tidak ada keluargamu yang ada di kota ini?" Lanjutnya.
"Ah itu... Bukan masalah yang besar, aku bisa mengurus diriku sendiri." Jawab Rendra dengan tersenyum untuk menutupi kekhawatiran dirinya.
Anika melipat tangan di depan dada, "Bagaimana mungkin akan baik-baik saja? Lihat kondisimu, untuk berjalan saja kamu kesusahan. Sudahlah jangan berbohong, aku tahu betul siapa kamu."
Ini, situasi ini sudah lama sekali Rendra tidak merasakannya, mendapatkan kemarahan dari Anika. Rasanya Rendra tidak ingin sembuh dalam waktu yang lama. Berkali-kali Rendra berterima kasih kepada Tuhan karena kejadian ini dia bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang dirindukannya.
Rendra menahan senyum melihat Anika yang memarahinya, disisi lain Kaisar yang menyadari itu ingin menegur Anika, tapi dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Adel.
Itulah perkataan Adel yang menyentuh hati Kaisar, dan itu membuatnya berfikir untuk bersikap lebih baik kepada Rendra.
Kaisar memejamkan mata dan menggeleng keras, "Tidak, papa sudah keterlaluan kepada kami, aku tidak bisa memaafkan begitu saja." Ucapnya dalam hati.
"Kamu kenapa nak? Kepalamu sakit?" Tanya Anika yang melihat Kaisar menggelengkan kepalanya.
Kaisar berdehem pelan kemudian menjawab, "Enggak Ma, tadi kayak ada sesuatu dikepala Kai."
"Oh ya Rendra, kami datang karena dihubungi pihak rumah sakit bahwa kamu bisa pulang hari ini, kami berniat untuk mengantarmu sampai ke rumah, tapi mendengar keluhanmu tadi..."
Menyadari maksud Anika, Rendra segera menyela, "Jangan dipikirkan Anika, seperti yang ku katakan sebelumnya, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Iya, lagian papa bukannya lumpuh, papa cuma patah kaki. Nanti juga sembuh ma, ngapain juga sih dipikirin." Timpal Kaisar.
__ADS_1
"Kai... Kamu kan sudah janji sama mama, mau tanggung jawab sampai papamu sembuh total."
"Iya ma iya, Kai nggak lupa."
Rendra lagi-lagi merasa bersalah karena menjadi alasan perdebatan Anika dengan Kaisar.
"Dengarkan saja kata Kaisar, Ika." Rendra menengahi.
"Beberapa hari yang lalu aku udah nyari orang buat urus papa. Aku akan hubungi orang itu supaya bisa datang ke rumah papa hari ini." Pernyataan Kaisar mengejutkan Anika dan juga Rendra.
"Apa? Kamu nyari kapan?" Tanya Anika.
"Yah, udah tiga harian lah."
"Tapi nak, kamu tidak perlu repot-repot seperti itu, papa bisa melakukan..."
Kaisar tiba-tiba memotong perkataan Rendra, "Jangan sok pahlawan bisa melakukan semuanya sendiri dengan kondisi yang seperti itu, ini hanya bentuk tanggung jawabku." Selepas berkata demikian Kaisar meninggalkan orang tuanya.
"Terima saja Rendra, aku tahu meskipun dia berkata kasar seperti itu, sebenarnya dia itu sangat peduli kepadamu." Anika berusaha menenangkan Rendra.
"Aku tahu Ika, dia anakku. Sifatnya sangat mirip denganku." Jawab Rendra dengan tersenyum lembut, "Oh ya Ika, terima kasih sudah mau mempedulikanku sampai sejauh ini." Lanjutnya.
"Sudah tugasku Rendra, tapi aku harap kamu tidak salah sangka dengan semua ini."
Meskipun sakit mengetahui kenyataannya, Rendra tetap bersyukur sudah mendapatkan perhatian dari Anika.
Rendra tersenyum kecut, "Aku tahu Ika, aku tidak akan melewati batas."
"Baiklah, mari ku bantu bawakan tasnya."
__ADS_1