Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Teman Cerita


__ADS_3

"Nyokap gue menderita gangguan kejiwaan." Ucap Adel yang membuat Kaisar menoleh ke arahnya.


Kaisar masih diam mencermati apa yang disampaikan Adel hingga selesai.


Lagi-lagi Adel menghembuskan nafas berat, tatapannya kosong lurus ke depan, "Itu semua terjadi setelah mama terlibat kasus perselingkuhan."


Kaisar semakin terkejut mendengar cerita dari Adel, pemuda itu membelalakkan matanya tak percaya, "Perselingkuhan?" Tanyanya heran.


Adel mengangguk pelan kemudian melanjutkan perkataannya, "Iya, itu sudah terjadi lama, mungkin sekita lima tahun yang lalu."


"Miris bukan?" Tanya Adel, gadis itu tersenyum kecut mentertawakan kehidupannya sendiri.


"Itu alasannya lo mau mengakhiri hidup?" Kaisar memberanikan diri bertanya.


Adel menggeleng pelan sebelum berkata, "Bukan, kalau masalah mama, gue nggak akan pernah ninggalin dia sampai kapanpun. Tapi yang buat gue jadi kaya gini justru bokap gue sendiri."


"Bokap lo?"


"Iya bagi bokap gue, kelahiran gue adalah aib terbesar dalam hidupnya. Adanya gue ataupun nggak, nggak akan berarti apa-apa." Bibir Adel tersenyum namun Kaisar paham itu justru menunjukkan kesedihan yang sudah teramat besar gadis itu rasakan.


"Lo bilang lo nggak akan ninggalin nyokap lo sampai kapanpun, terus kenapa lo tadi mau ngelakuin hal konyol?" Tanya Kaisar.


"Karena setiap kali mama lihat gue, mama pasti akan kambuh dan mulai nggak terkontrol. Dan karena nggak ada yang bisa gue lakuin sama sekali, gue pikir menghilang dari kehidupan mereka adalah satu-satunya hal yang bisa gue lakuin untuk membantu mama." Jawab Adel.


"Apa bokap lo sama sekali nggak peduli sama lo?"


Adel menggeleng pelan, "Jangankan peduli, gue udah kaya angin lalu doang yang nggak dianggap sama sekali."

__ADS_1


Kaisar menepuk pundak Adel, "Gue paham apa yang lo rasain, ada tapi tidak dianggap. Kita hanya meminta setitik kasih sayang tapi sama sekali tidak pernah kita dapatkan. Dunia memang kejam, tapi bukan berarti kematian adalah satu-satunya jalan keluar."


Adel tersenyum sinis mendengar ucapan Kaisar kemudian berkata, "Bukankah kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia? Lalu kenapa kita disalahkan atas kesalahan yang tidak pernah kita lakukan?"


"Karena Tuhan mempunyai alasan tersendiri kenapa kita dilahirkan ke dunia. Bisa jadi, lo adalah alasan bagi seseorang untuk bertahan hidup." Ucap Kaisar.


Adel menunjuk dirinya sendiri, "Gue? Alasan bagi seseorang? Hah mustahil."


"Kenapa mustahil? Kita tidak tahu siapa yang benar-benar mencintai kita dan kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Ucap Kaisar yang berhasil membuat Adel merenungi setiap apa yang disampaikan pemuda tersebut.


Kaisar lalu menatap pemandangan yang ada di depannya, "Saat gue lagi merasa putus asa, gue selalu datang ke tempat ini dan merenungi setiap kejadian yang gue alami."


"Jadi... Lo sekarang lagi merasa putus asa?" Tanya Adel.


"Itu dulu, sekarang gue kesini cuma mau menikmati kesendirian gue aja tanpa ada gangguan dari siapapun." Kaisar tidak jujur terhadap apa yang dia rasakan. Ya, pemuda itu memang tidak mau membebani siapapun atas masalah yang dia hadapi. Sedangkan Adel juga tidak bertanya lebih jauh.


"Selain itu, setiap ada masalah gue juga selalu ngebandingin masalah yang gue punya sama masalah orang lain yang jauh lebih berat, tujuannya adalah agar gue nggak berlarut dalam kesedihan dan masih bisa bersyukur dalam keadaan apapun." Lanjut Kaisar.


Kaisar tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Adel, "Setiap orang punya masalah tersendiri, bocil."


Mendengar Kaisar menyebutnya bocil Adel langsung memberinya tatapan sinis, "Apa lo bilang, bocil?! Gue bukan bocil!" Ujarnya dengan suara keras.


Kaisar justru semakin tertawa melihat reaksi dari Adel yang diberikan kepadanya. Keduanya berbincang mengenai banyak hal yang sesekali diiringi dengan candaan. Hingga pagi menjelang barulah mereka menghentikan perbincangan.


"Lah kok udah pagi aja?" Ucap Kaisar saat menyadari langit sudah berubah warna menjadi kemerahan di pagi hari.


"Lah kok iya?" Adel juga sama herannya.

__ADS_1


Keduanya kemudian saling bertatapan dalam diam selama beberapa saat, lalu tertawa disaat yang bersamaan.


"Astaga, terlalu asik ngobrol sampai lupa waktu." Ucap Adel yang masih tertawa kecil.


"Ayo kita pulang." Jawab Kaisar yang sudah berdiri dari duduknya.


Sedangkan Adel masih tetap berada diposisinya, "Lo duluan aja deh, gue masih mau disini."


"Lo nggak berangkat ke sekolah?" Tanya Kaisar.


"Ya berangkat, lagian ini baru jam berapa juga."


Kaisar mengangguk, "Oke kalau gitu gue duluan." Ucap Kaisar sambil berlalu pergi dan melambaikan tangan.


"Eh tunggu dulu!" Ucap Adel yang membuat Kaisar menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah gadis tersebut.


"Ada apa?" Tanya Kaisar dengan nada datar.


"Thanks ya." Ucap Adel.


Kaisar hanya membalas dengan mencibirkan bibir kemudian melanjutkan langkahnya.


"Pokoknya terima kasih untuk semuanya!" Adel berteriak keras karena Kaisar sudah berjalan menjauh, sedangkan Kaisar hanya melambaikan tangan tanpa membalikkan badannya.


Adel menghela nafas panjang setelah kepergian Kaisar, gadis itu masih berdiam di tempatnya sambil menikmati pemandangan langit di pagi hari, sebelum akhirnya memutuskan beranjak pergi dari tempat itu.


"Lah gue lupa nggak nanyain nama cewek itu." Kaisar menepuk jidatnya sendiri saat sudah berada di dalam mobil, dia baru menyadari saat berbincang tadi, sama sekali tidak menanyakan tentang identitas Adel.

__ADS_1


***


Hallo kakak readers! Jangan lupa terus dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara rate, vote, like, dan komen yaa. Terimakasih banyak-banyak 🤗 Jangan lupa juga follow author 🥰


__ADS_2