Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Belanja


__ADS_3

Selesai menonton film yang berdurasi hampir dua jam tersebut, mereka bertiga memutuskan untuk berkeliling pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan rumah.


"Kalian pergi saja, saya akan tunggu di sini." Ucap Satya yang memilih untuk tidak ikut bersama kedua perempuan itu. Laki-laki itu menunggu sembari melihat-lihat lalu lalang lantai dasar dari lantai atas.


"Baiklah, kalau ada yang perlu dibeli telfon aku saja." Sahut Rani.


Rani menggandeng tangan Adel dan berkata, "Ayo sayang." Yang segera diikuti oleh Adel.


"Sudah lama sekali aku tidak keluar rumah seperti ini." Ucap Rani kemudian menghirup udara disekitarnya, "Ah rasanya segar." Imbuhnya.


Di sisi lain Adel tak bisa menahan tawa melihat tingkah Rani yang seperti orang yang baru keluar dari persembunyiannya. Hal yang dilakukan Rani terbilang wajar mengingat selama tiga tahun terakhir dirinya harus terikat dengan kondisi mentalnya dan tak bisa pergi kemana pun selama itu.


"Come on baby, mari kita bersenang-senang hari ini." Rani menarik tangan Adel memasuki toko baju brand ternama.


Keduanya berkeliling cukup lama, Adel hanya mengikuti kemana Rani pergi sembari sesekali ikut melihat-lihat setiap baju yang terpajang di toko tersebut.


"Adel lihat, bagus nggak?" Ucap Rani sembari menunjukkan dress berlengan panjang warna hitam sepanjang lutut.


Adel ikut melihat dress itu dengan jeli dan menyesuaikannya dengan tubuh Rani, "Wah bagus banget tante, cocok untuk acara dinner."

__ADS_1


"Iya kan? Kalau begitu tante mau coba dulu ya." Ucap Rani kemudian memasuki kamar ganti.


Sembari menunggu, Adel memilih untuk melihat-lihat baju lebih banyak, dan matanya jatuh kepada dress berwarna biru navy tanpa lengan yang juga sepanjang lutut.


"Ah nggak, ini terlalu mahal." Ucapnya ketika melihat harga yang tertera di dress tersebut.


"Kamu suka?" Adel terperanjat kaget mendengar suara Rani yang tiba-tiba tanpa menyadari kehadirannya sebelumnya.


Sembari memegangi dadanya Adel menggerutu, "Tante... Bikin kaget aja ih."


"Heleh, lagian kamu tante panggil nggak nyaut."


"Hehe maaf tante Adel nggak denger." Adel membelalakkan matanya menatap Rani tak percaya, "Wah Tante cantik banget dressnya cocok banget sama tante." Lanjutnya.


"Eh sebentar, kamu suka sama dress itu?" Rani bertanya sembari menunjuk dress yang dilihat Adel sebelumnya.


"Ah nggak tante, bagus sih, tapi kayaknya nggak cocok sama Adel."


Tak menghiraukan jawaban Adel, Rani justru mengambil dress itu dari tempatnya dan menyuruh Adel untuk mencobanya, "Coba dulu, kalau cocok tante belikan buatmu."

__ADS_1


"Nggak usah tante, beneran." Adel menolak perintah Rani.


Sebenarnya alasan Adel menolak bukanlah karena merasa tidak cocok dengan dress tersebut, melainkan karena harganya yang terlalu mahal untuknya. Karena terbiasa membeli barang-barang dengan harga murah membuat Adel sampai lupa bahwa dia adalah putri dari Satya salah satu penguasa sukses dan ternama di ibu kota.


"Cobalah dulu, tante maksa!" Rani terus memaksa Adel mencoba dress itu, karena melihat Rani yang terus memaksanya membuat Adel mau tak mau menuruti perintah Rani.


Tak butuh waktu lama untuk Adel mencoba dress itu, gadis itu keluar dari ruang ganti dan menunjukkan penampilannya ke Rani.


Rani memegangi dagunya sedikit berfikir, "Sepertinya emang nggak cocok, dress ini terlalu biasa saja untuk Adel yang sangat cantik."


"Ih tante bisa aja deh." Adel tersipu malu mendapat pujian dari tante.


"Kalau begitu kita beli ini." Seolah hanya seharga bakso kaki lima, Rani membeli dress itu dengan santainya.


"Eh tapi harganya..." Adel ragu untuk menyebutkan harga dari dress tersebut.


"Tenang aja, tante punya ini." Rani tersenyum lebar sambil menunjukkan black card ditangannya.


"Wah tante benar-benar menakjubkan!" Adel menutup mulutnya merasa takjub, padahal gadis itu sendiri pun mempunyai black card sendiri pemberian dari Satya, tapi seolah hilang ingatan, Adel justru sangat terkejut melihat Rani menunjukkan black card itu padanya.

__ADS_1


Sungguh gadis yang lucu, karena terlalu sering hidup sederhana membuat Adel lupa siapa dirinya yang sebenarnya.


Jangan lupa klik rate, vote, like dan komen ya. Jangan jadi silent reader yaa... Terimakasih 💜


__ADS_2