
Nara terkejut setelah melihat pesan yang Kaisar kirim kepadanya. Sebuah foto yang diambil dari belakang, Nara terlihat bergandengan tangan dengan seorang pemuda di foto tersebut.
"K-kamu dapat dari mana foto ini?" Nara bertanya lirih, keringat dingin mulai bercucuran dipunggung gadis itu.
"Apa itu penting sekarang?" Tanya Kaisar.
Saat Nara hendak menjelaskan, pemuda yang bersamanya difoto itu datang menghampirinya.
"Baby, kok disini? Udah pesan minum?" Pemuda yang bernama Daniel itu bertanya dengan lembut tanpa tahu situasi yang sedang terjadi.
Kaisar bertepuk tangan sambil tertawa dengan cukup keras, "Baby? Hebat sekali Naraku, kamu menghancurkan hubungan tiga tahun kita dengan begitu mudah. Tak ku sangka, wanita yang ku kira berhati malaikat ternyata lebih menakutkan dari ular berbisa. Hah! Sungguh menjijikkan!"
"Naraku? Hubungan tiga tahun? Maksudnya apa ini?" Daniel menatap bingung Kaisar dan Nara secara bergantian.
"Oh, lo belum tahu kalo cewek yang lo panggil baby itu udah punya cowok?" Tanya Kaisar kepada Daniel.
"Setahuku dia nggak punya cowok." Jawab Daniel yang masih bingung.
Kaisar mengangguk pelan dengan memamerkan senyum mengejek, dia menyalami Daniel kemudian berkata, "Kenalin, gue pacarnya Nara eh lebih tepatnya sekarang udah jadi mantan pacar." Ucap Kaisar penuh penekanan saat menyalami Daniel tapi matanya melihat ke arah Nara.
Bak maling yang tertangkap basah, Nara hanya diam seribu bahasa bahkan gadis yang dianggap polos itu tidak berani mengangkat kepala sedikit pun. Tak berbeda dengan Nara, Adel pun hanya diam memperhatikan situasi yang ada di depannya, dia terjebak di situasi yang mencekam itu.
Daniel buru-buru melepaskan tangannya dari Kaisar lalu bertanya kepada Nara, "Jadi aku selingkuhan kamu by?" Namun Nara hanya diam, "Jawab by!" Lanjut Daniel, dia masih bisa bertanya dengan lembut.
Itulah perbedaan Daniel dengan Kaisar, Daniel masih bisa bersikap tenang meski dalam situasi yang tidak baik, dan Daniel jauh lebih dewasa daripada Kaisar meskipun kedua pemuda itu seumuran, itulah salah satu alasan kenapa Nara menduakan Kaisar meskipun itu tindakan yang sama sekali tidak dibenarkan.
__ADS_1
"Aduh! Aku lupa datang kesini sama Daniel, kalo tahu begini tadinya aku nggak usah samperin Kaisar sama Adel." Nara mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh dari dalam hati.
"Nanti aku jelasin ya by, jangan disini aku nggak enak diliatin banyak orang." Akhirnya itu kalimat yang terucap dari mulut Nara setelah bungkam cukup lama.
Daniel menuruti perkataan Nara, dan keduanya memilih meninggalkan kafe itu.
"Bye! Berbahagialah!" Kaisar melambaikan tangannya ketika Nara dan Daniel pergi, Kaisar bahkan menunjukkan senyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.
Kaisar menghela nafas panjang setelah memastikan Nara dan Daniel sudah meninggalkan kafe tersebut.
"Lo nggak apa-apa?" Adel bertanya setelah dirasa Kaisar sudah cukup tenang.
Kaisar menatap Adel dengan tatapan dingin, "Emangnya gue terlihat cukup menyedihkan apa?!" Tanya Kaisar sewot.
"Eh, enggak bukan itu maksud gue, ya kan lo habis diselingkuhin jadi ya gue tanya takut lo kenapa-kenapa."
***
Disebuah bangku taman, ada sepasang kekasih yang duduk dalam keheningan.
"By, kenapa kamu melakukan ini?" Pertanyaan Daniel memecah keheningan yang tercipta.
"Maaf by..." Nara menangis bahkan sampai menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Daniel tidak melakukan apapun ketika melihat Nara menangis, Daniel bermaksud membiarkan Nara sampai gadis itu bisa merasa lebih tenang.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya Nara merasa lebih tenang dan mulai berbicara, "Kamu lihat sendiri kan tadi? Kaisar itu sangat temperamental, perkataannya sering kali tidak terkontrol, selain itu dia juga sangat posesif, membatasi pertemananku, dia sama sekali tidak membiarkanku punya banyak teman terutama cowok. Itulah alasannya kenapa aku melakukan ini."
"Nara, walau begitu apa yang kamu lakukan tidaklah benar. Harusnya kamu bisa membicarakan hal ini dengan Kaisar, kalau kamu memang sudah tidak bisa melanjutkan hubungan dengannya, kamu bisa bicara baik-baik lalu memulai hubungan baru dengan orang lain, kalau caramu begini aku pun akan kecewa, Nara." Daniel menasihati dengan perkataan yang lembut agar Nara mau mendengarkannya.
Nara menolak untuk disalahkan, "Aku tahu Daniel, aku tahu! Tapi andai saja Kaisar itu sepertimu sangat dewasa dan lemah lembut, aku juga tidak akan melakukan ini, bahkan memikirkannya saja pun tidak!"
Begitulah Nara, meskipun kesalahan ada di depan mata gadis itu tidak mau disalahkan seorang diri, dia mulai menggunakan Kaisar untuk mengurangi kesalahan yang dia buat.
Daniel cukup terkejut melihat sifat Nara yang seperti itu, yang dia tahu Nara adalah gadis yang dewasa dan baik, "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian karena aku hanya mendengar cerita dari satu sisi. Dibalik kejelekan Kaisar yang kamu sebut tadi, aku tahu ada banyak kebaikan Kaisar yang tidak kamu sebutkan. Dan untuk itu aku minta maaf Nara sepertinya aku juga tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
"Daniel..." Mata Nara mulai berkaca-kaca mendengar keputusan Daniel.
"Dari awal aku yang salah, aku yang tidak mencari tahu tentangmu lebih jauh sampai akhirnya hari ini aku tahu kalau ternyata akulah yang masuk ke dalam hubungan kalian."
"Tapi sekarang sudah nggak, Daniel. Kaisar sudah mengakhiri hubungan kami, kamu dengar sendiri kan tadi?" Nara masih mencoba mempertahankan Daniel.
Daniel menatap Nara dengan wajah sedih, "Lalu kalau hari ini semuanya tidak terbongkar, apa kamu tetap akan mempertahankan kami berdua? Aku dan juga Kaisar?"
"Aku..." Nara tidak tahu harus menjawab apa gadis itu hanya menunduk penuh penyesalan.
Apa yang dikatakan Daniel memang benar, kalau hari ini hubungan Nara dengan Kaisar tidak diketahui oleh Daniel. Maka Nara masih mempertahankan keduanya karena gadis itu masih belum bisa menentukan pilihan antara Kaisar dan juga Daniel.
Daniel menggeleng pelan, "Tidak Nara, aku juga tidak mau berada dihubungan yang salah. Sebelumnya aku memilihmu karena aku percaya kamu orang baik, tapi hari ini aku begitu terkejut melihat kenyataan yang terjadi."
Daniel kemudian berdiri lalu berkata, "Maafkan aku Nara aku harus mengakhiri semua ini. Berjanjilah untuk menjadi lebih baik dan jangan sakiti siapapun kedepannya." Daniel tersenyum dan mengusap lembut Rambut Nara kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Daniel..." Lirih Nara memanggil namun Daniel tetap pergi meninggalnya.
Gadis itu menangis menyesali semua perbuatannya. Nara menyayangi keduanya, itulah kenapa Nara masih mau mempertahankan Kaisar dan juga Daniel kalau saja kejadian hari ini tidak pernah terjadi.