Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Ketidakadilan


__ADS_3

Hallo pembaca setia, sebelum mulai membaca jangan lupa dukungannya dengan cara rate, vote, like dan komen di setiap babnya ya. Mari sama-sama saling mendukung dengan tidak menjadi silent reader, terimakasih.


***


Seusai menikmati malam yang indah dengan Kaisar di taman kota, Adel memasuki rumah dengan senyum merekah yang menghiasi bibir mungilnya. Gadis berparas cantik itu bahkan melangkahkan kaki dengan lompatan kecil sembari bersenandung lirih.


"Darimana kamu jam segini baru pulang?" Pertanyaan yang tiba-tiba dari seseorang bersuara dingin itu menghentikan langkah kaki Adel.


Adel yang terkejut karena tidak menyadari keberadaan Satya pun menoleh ke samping kanan tempat di mana Satya duduk sembari menunjukkan tatapan tajam menunggu jawaban dari gadis tersebut, "Adel dari taman kota pa." Jawab Adel jujur.


"Kamu nggak lihat waktu? Mau jadi apa kamu keluyuran malam-malam jam segini baru pulang, hah?!"


"Pa... Ini aja belum ada jam sepuluh malam lho." Adel setengah protes.

__ADS_1


"Kamu melawan ucapan saya?" Satya bertanya dengan penuh penekanan.


Perasaan bahagia yang sebelumnya memenuhi hati gadis itu kini sirna begitu saja lantaran harus berdebat dengan Satya untuk kesekian kalinya.


"Kenapa sih pa, papa nggak adil banget sama aku? Emang aku nggak boleh ya kaya anak-anak lain yang bisa bebas main kemana aja? Adel udah besar loh pa, Adel pingin juga keluar sama temen-temen Adel, bukan cuma dikurung terus menerus kaya gini." Adel berkata lirih dengan suara yang bergetar berusaha menahan air mata yang hampir terjatuh itu.


Sungguh Adel sudah sangat jengah dan muak dengan sikap Satya yang selalu melarang dan memarahi Adel setiap kali gadis itu melakukan hal apapun yang membuatnya bahagia.


Satya menghela nafas berat kemudian berkata, "Kamu harus menjaga nama baik keluarga kita, dan itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kamu sebagai anggota keluarga ini. Kamu sama sekali tidak punya hak untuk melawan."


"Dan ya, tanpa papa kasih tahu pun Adel udah sangat paham dengan tugas dan kewajiban Adel sebagai anak. Tapi bukan berarti papa bisa seenaknya sama Adel kaya gini kan?!" Lanjut gadis tersebut, kedua tangannya mengepal untuk menguatkan dirinya sendiri melawan setiap perkataan dari Satya, namun Adel tahu semua itu adalah perbuatan yang sia-sia.


"Diam kamu! Jangan sampai saya melarang kamu pergi kemanapun dengan sikap kamu yang seperti ini." Satya tak peduli dengan perasaan Adel, laki-laki itu tetap bersikukuh dengan apa yang menurutnya benar.

__ADS_1


Air mata yang sejak tadi ditahan kini sudah tak terbendung lagi dan tumpah membasahi pipi Adel, "Untuk sekali ini saja pa, tolong izinkan aku bahagia."


"Saya tidak main-main dengan ucapan saya sebelumnya." Satya berkata dengan datar.


"Papa jahat!" Seru Adel kemudian berlari menuju kamarnya dengan perasaan sesak memenuhi dadanya.


Dunia begitu kejam kepada gadis remaja tanggung itu, dari sekian banyak ciptaan yang ada di semesta ini mengapa harus Adel yang mendapatkan ketidakadilan dalam hidupnya. Gadis yang seharusnya bisa bahagia menikmati masa-masa sekolah dan asmaranya itu harus bisa menelan kenyataan pahit bahwa orang tuanya sangat bertentangan dengan keinginannya.


"Inikah takdirku Tuhan? Hanya boleh merasakan seonggok kebahagiaan sebelum akhirnya Engkau ambil kembali begitu saja?" Adel berkata dengan menatap langit malam melalui jendela kamarnya.


Begitu sesak menjadi Adel, seolah-olah semesta tak mengizinkannya merasakan kebahagiaan dalam waktu yang lama.


"Tak mengapa Tuhan, aku sudah biasa merasakan sakit ini, Kau mau mengujiku seperti apapun aku akan tetap bertahan meskipun harus tertatih sekali pun." Ucap gadis itu dengan tersenyum walaupun air mata masih mengalir deras di kedua matanya.

__ADS_1


Angin malam yang cukup kencang mulai menampar wajahnya yang membuat Adel harus menutup jendela kamar dan memilih untuk beristirahat.


Jangan lupa klik rate, vote, like dan komen ya. Jangan jadi silent reader yaa... Terimakasih 💜


__ADS_2