
Sesampainya di rumah sakit, Adel sengaja meminta ke petugas untuk menyediakan kursi roda untuk Rendra agar memudahkan papanya itu.
"Biar saya yang dorong pak." Pinta Adel kepada laki-laki yang mengurus Rendra.
"Baik, silahkan." Jawab laki-laki itu.
"Papa berat lho nak, nggak kuat kamu nanti dorong papa." Goda Rendra kepada Adel.
Sembari mendorong kursi roda, Adel pun menjawab, "Gini-gini walaupun tubuh Adel kecil kekuatan Adel nggak jauh berbeda dengan perempuan perkasa."
"Ahahaha bisa aja kamu." Rendra terkekeh mendengar jawaban dari Adel itu.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba diruang tunggu.
"Kita tunggu disini pak, sampai dipanggil oleh perawat." Ucap Adit seseorang pendamping Rendra.
Rendra mengangguk pelan dan menjawab, "Iya pak."
"Ada apa nak?" Rendra bertanya ketika mendapati Adel tergagap mencari sesuatu.
Tanpa menoleh dan masih terus mencari sesuatu di dalam tasnya Adel pun menjawab, "Hp Adel kok nggak ada ya pa? Perasaan dari rumah udah Adel bawa."
"Di tas nggak ada?" Tanya Rendra.
Adel menggeleng kemudian menjawab, "Nggak ada udah Adel periksa tadi."
Sesaat kemudian Adel menepuk jidatnya sendiri kemudian berkata, "Oh ya lupa tadi di perjalanan Adel chat ke temen kalo hari ini Adel nggak bisa masuk sekolah, kayaknya ada di mobil deh."
"Hem dasar, ya udah sana ambil." Ucap Rendra.
"Iya pa, Adel ambil dulu." Selepas berkata demikian Adel langsung menuju tempat parkir.
__ADS_1
Karena berjalan dengan terburu-buru, membuat Adel ceroboh sehingga menabrak seseorang.
"M-maaf saya tidak sengaja." Ucap Adel kepada orang yang ditabraknya.
"Nggak apa-apa mbak." Jawab orang itu.
"Loh, Adel?" Orang yang ditabrak itu terkejut ketika mengetahui yang menabraknya adalah Adel.
Adel pun sama terkejutnya, "Loh kak Kaisar?" Sahutnya.
"Astaga kamu nggak sekolah? Ngapain di rumah sakit?" Tanya Kaisar.
Adel menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian menjawab, "Hehe iya aku izin nggak masuk kak, soalnya aku nganter papa sambungku untuk kontrol yang terakhir." Ucapnya dengan nada canggung.
"Papa kamu sakit?" Tanya Kaisar.
"Papa habis kecelakaan terus kakinya patah tapi hari ini gips yang terpasang udah boleh dilepas." Jawab Adel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kaisar.
"Sama, aku pun nganter mama. Hari ini jadwal mama kontrol." Jawab Kaisar.
Adel memeriksa sekitar Kaisar untuk mencari keberadaan Anika, "Tapi kok sendirian?" Tanya Adel.
"Oh itu, aku keluar sebentar buat beli minum. Mama udah ada di ruang tunggu." Jawab Kaisar sembari menunjukkan botol air mineral di tangan kanannya.
Adel mengangguk kemudian berkata, "Kalau begitu salam buat Tante ya kak, aku pergi dulu mau ambil HP ketinggalan di mobil."
"Oh iya salam juga untuk papamu." Timpal Kaisar.
Keduanya berpisah di koridor rumah sakit tanpa ada yang menyadari kehadiran Anika dan Rendra di tempat yang sama.
"Ma tadi aku ketemu temen yang semalem Kai ceritain." Ucap Kaisar saat sudah sampai di tempat Anika menunggu.
__ADS_1
Anika tersenyum kemudian bertanya, "Oh ya? Dimana dia nak, kok nggak diajak kesini?"
"Dia juga nganter papanya kontrol ma, jadi nggak mungkin juga datang kesini." Jawab Kaisar sembari duduk di tempatnya.
"Astaga papanya juga sakit?" Tanya Anika.
Kaisar mengangguk kemudian menjawab, "Iya katanya papanya habis kecelakaan dan hari ini kontrol terakhir untuk melepaskan gips kakinya yang patah."
"Eh tapi ma, bukannya hari ini papa juga sama ya kontrol terakhir?" Lanjut Kaisar tiba-tiba.
"Eh iya juga ya, kamu udah coba hubungi Adit yang jagain papa kamu?" Tanya Anika.
Kaisar mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya kemudian berkata, "Sebentar aku telepon dulu." Ucapnya yang kemudian menempatkan ponsel ke telinga.
"Oh baik pak terima kasih." Ucap Kaisar kepada Adit yang diteleponnya.
"Gimana?" Tanya Anika.
Kaisar memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan menjawab, "Papa udah ada di rumah sakit ini, papa juga lagi nunggu dipanggil dokter katanya."
"Mau temui papamu sebentar?"
"Boleh." Jawab Kaisar kemudian beranjak dari duduknya.
Saat keduanya bersiap melangkahkan kaki, salah seorang perawat perempuan tiba-tiba memanggil nama Anika untuk memasuki ruangan dokter.
"Ibu Anika." Panggil perawat tersebut.
Anika dengan sigap menoleh, "Saya." Ucapnya dengan menunjuk tangan.
"Silahkan masuk Bu." Perawat itu mempersilahkan Anika dan Kaisar untuk memasuki ruangan.
__ADS_1
"Kita datang nanti saja setelah selesai." Ucap Kaisar kepada Anika yang hanya dibalas anggukan kepala oleh wanita paruh baya itu.