
Seolah ikut berduka, langit pun ikut menangis di kegelapan malam. Dingin menusuk sampai ke tulang, dan hanya tersisa Anika, Kaisar dan juga Adel yang menemani Nara di rumahnya.
"Tante, maaf Adel harus pamit sekarang." Ucap Adel kepada Anika, gadis itu kemudian melirik Kaisar dan berkata, "Kak aku pulang sekarang ya."
"Nggak tunggu hujan reda dulu nak?" Tanya Anika.
"Nggak usah Tante, sepertinya akan lama kalau nunggu reda. Nggak apa-apa nanti Adel pesan taksi online aja." Jawab Adel yang sudah bersiap pergi.
Kaisar bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku antar pulang."
Adel segera menolak dengan menghalangi langkah Kaisar, "Nggak usah kak, kasihan Tante Ika jagain kak Nara sendiri."
"Ada penjaga rumah disini, nggak aman kalau kamu pulang sendiri mengingat ini udah malam dan hujan deras." Kaisar bersikukuh mengantarkan Adel.
"Nggak apa-apa nak, terima saja. Tante nggak masalah ditinggal sebentar." Anika ikut menimpali.
Dipaksa oleh dua orang yang ada di depannya membuat Adel tak mampu menolak lagi, "Tapi maaf Tante, Adel jadi ngerepotin."
__ADS_1
Anika tersenyum kemudian berkata, "Nggak apa-apa Adel, hati-hati di jalan ya nak."
Adel kemudian berpamitan kepada Anika dengan mencium tangan wanita paruh baya tersebut sebelum akhirnya pulang diantar oleh Kaisar.
Di dalam mobil suasana begitu canggung, tak ada yang mau membuka suara satu sama lain.
"Soal tadi..."
"Aku..."
Adel dan Kaisar saling bertatapan ketika keduanya membuka suara secara bersamaan.
Adel mengibaskan tangannya sebelum menjawab, "Kakak duluan aja."
Tak mau berdebat lebih jauh, Kaisar akhirnya yang lebih dulu melontarkan isi hatinya.
"Soal tadi aku harap kamu nggak salah paham." Kaisar berkata tanpa menoleh ke arah Adel.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Adel bertanya dengan heran.
"Waktu Nara meluk tadi."
Adel menunjukkan senyum sinis ketika mendengar perkataan Kaisar, "Kenapa kamu repot-repot jelasin ke aku kak, kita kan nggak ada apa-apa jadi ya apapun yang kamu lakukan sama cewek lain bukan masalah buat aku lah." Ucapnya dengan tatapan mata yang tetap fokus ke depan.
Kaisar menganggukkan kepalanya pelan kemudian bertanya, "Jadi kita nggak ada apa-apanya ya?"
"Iya kita kan cuma teman, bukankan memang begitu?" Adel menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, "Kamu nggak perlu khawatir apalagi jelasin kayak tadi, karena aku sama sekali nggak peduli kakak mau berhubungan sama siapa yang menurut kakak baik."
Mendengar jawaban dari Adel, seketika itu juga Kaisar menghentikan mobilnya ke pinggir jalan secara mendadak kemudian berkata, "Tapi gue peduli sama lo!" Kaisar berkata dengan suara yang cukup keras sampai membuat Adel tersentak.
"K-kakak..." Adel menjadi sedikit ketakutan karena ini pertama kalinya gadis itu melihat Kaisar berkata dengan suara tinggi.
"Gue peduli sama lo, gue peduli sama perasaan lo itu sebabnya gue jelasin semuanya, kenapa lo nggak paham si?!" Kaisar berkata pelan namun penuh penekanan.
"Bukan itu maksudku kak, aku tahu kakak peduli sama aku tapi bukan berarti kakak jadi membatasi diri sama orang lain, toh kita juga cuma temen, jadi kakak nggak perlu khawatir aku akan marah atau nggak, aku sama sekali nggak mikirin soal itu."
__ADS_1
"Gue suka sama lo." Pernyataan Kaisar berhasil membungkam Adel hingga diam seribu bahasa.
Setelahnya terdengar suara gemuruh petir yang cukup keras, namun tak cukup membuat Adel tersadar dari rasa terkejutnya akibat pernyataan Kaisar tadi. Adel menatap mata Kaisar dengan perasaan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, gadis itu bahkan tak berkedip sekali pun.