
Rani baru sadarkan diri di siang hari, wanita paruh baya itu mengerjapkan matanya berulah kali baru melihat sekeliling.
Sambil berusaha duduk dengan bertopang pada tangan kirinya, tubuh yang lemah itu akhirnya bisa duduk dengan sempurna. Tak ada siapapun di sana hingga beberapa saat kemudian datanglah Satya dengan diikuti Adel di belakangnya.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Rani dengan suara lemah.
Satya mengarahkan Adel untuk duduk di sofa sebelum laki-laki itu mengambil kursi lalu duduk di dekat Rani, "Kamu nggak ingat apa yang sudah kamu lakukan?"
Mendapat pertanyaan dari Satya, wanita itu segera memeriksa kepalanya yang kini sudah dibalut dengan perban, Rani menyeringai kemudian berkata, "Sial! Aku gagal lagi."
"Apa kamu sudah gila?! Ini sudah kedua kalinya kamu mencoba menyakiti diri sendiri seperti itu, Rani!" Suara Satya meninggi melihat tingkah Rani yang tidak ada rasa penyesalan sama sekali.
Seolah tak mendengar apa yang ditanyakan oleh Satya, Rani justru melambaikan tangannya ke arah Adel agar gadis itu mendekat, "Hei kamu, sini!" Perintah Rani.
Adel yang begitu bahagia melihat Rani sudah tersadar, tanpa pikir panjang langsung mendekat ke arah Rani lalu bersiap memeluk wanita itu.
__ADS_1
"Hei mau apa kamu?" Pernyataan Rani membuat Adel seketika mematung di tempat.
"Aku tidak memanggilmu untuk memelukku, jadi berhenti di sana!" Lanjutnya.
Adel yang berada dalam kebingungan menatap ke arah Satya untuk meminta penjelasan, laki-laki itu paham dan akhirnya mencoba bertanya kepada Rani.
"Rani, tolong untuk kali ini saja bersikap baiklah kepada Adel, putrimu. Dia tidak tahu apa-apa, jangan lampiaskan semua kepadanya."
"Heh! Dimana Rendra?!" Lagi-lagi Rani tidak menghiraukan perkataan Satya, dia justru hanya berfokus kepada Adel.
"Adel nggak tahu ma." Jawab Adel dengan polosnya.
"Satu lagi, melihat wajahmu itu sama saja mengingatkanku dengan apa yang sudah wanita itu lakukan! Aku akan memaafkanmu kalau kamu bisa membawa Rendra kepadaku, kalau kamu tidak bisa maka jangan pernah muncul di hadapanku lagi, paham?!" Rani menunjuk Adel dengan sangat geram.
Rani selalu menyalahkan Adel atas apa yang sudah dialaminya, Rani sama sekali tak membiarkan Adel menemuinya walaupun masa hukumannya sudah berjalan satu tahun.
__ADS_1
Adel sekuat tenaga menahan air matanya meskipun hatinya begitu tersayat mendapat perlakuan seperti itu, "Salah Adel apa ma? Adel cuma pingin dekat sama mama."
"Salahmu banyak! Gara-gara kamu Rendra pergi dari hidupku, gara-gara kamu Rendra juga menceraikanku dan aku pun sampai di penjara!" Rani berusaha untuk menyakiti Adel namun ditahan oleh Satya dengan segera.
"Hentikan Rani! Kamu sudah gila, dia anakmu, dia tidak bersalah, yang bersalah itu laki-laki itu!" Satya mencoba memberi pengertian kepada Rani.
Rani justru meludahi wajah Satya yang berusaha menahannya itu, Satya begitu terkejut dengan perlakuan Rani. Laki-laki itu memeriksa wajahnya dengan amarah yang hampir meluap.
"Hahaha kamu marah?" Rani tertawa melihat wajah Rendra yang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Jangan menguji kesabaranku!" Kata Rendra dengan garam, laki-laki itu kemudian menarik tangan Adel untuk pergi dari ruangan itu, "Kita pergi dari sini, mulai sekarang kita tidak perlu lagi memperdulikan wanita gila ini"
"Tapi pa..."
Satya sama sekali tak mendengarkan rengekan Adel, dia terus menarik bersamanya untuk pergi meninggalkan Rani.
__ADS_1
"Pergilah! Kalau perlu enyahlah dari dunia ini dasar orang-orang tak berguna!" Rani terus mengutuk Satya dan juga Adel yang sudah menghilang dari pandangan.
Hallo kakak, jangan lupa dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara like, vote, rate, komen dan share yaa... Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author agar semangat menulis. Terimakasih sebelumnya untuk kalian yang setia mendukung karya saya. Semoga sehat selalu dan bahagia...☺️🙏