
Tidak ada yang dapat memastikan kapan rasa cinta itu akan datang. Dan tidak ada yang bisa mengendalikan kepada siapa perasaan itu akan berlabuh.
"Bagaimana kondisi Tante Ika? Apa beliau udah membaik?"
Kaisar mengangguk pelan kemudian menjawab, "Iya udah lebih baik dari sebelumnya. Tapi tetap aja aku harus siap siaga." Ucapnya sambil terkekeh.
"Aku harap mamaku juga seperti itu." Ucap Adel yang menatap kosong ke arah depan.
Kaisar menepuk pundak Adel kemudian berkata, "Hei percayalah semua akan baik-baik saja. Mama kamu akan segera sembuh, aku yakin itu."
"Aku sudah mendengar perkataan itu ribuan kali, tapi kenyataannya tidak seperti itu." Jawab Adel.
"Semua hanya tentang waktu, percayalah." Kaisar mencoba menenangkan.
Adel menoleh ke arah Kaisar dan tersenyum, "Terima kasih kak."
"Hais sudah ku bilang berapa kali, jangan senyum kayak gitu lah." Protes Kaisar.
__ADS_1
"Dih aneh, dimana-mana orang kalo disenyumin itu seneng, kakak malah protes mulu." Jawab Adel yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Elo itu tambah cantik kalo senyum, gue nggak kuat." Seperti biasa Kaisar selalu menggoda Adel.
"Rupanya begini cara kerja buaya." Ucap Adel tak mau kalah.
"Buaya? Lo ngatain gue buaya?" Ucap Kaisar sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hal sekecil apapun akan dijadikan bahan gombal. Dasar kakak buaya darat ekor sembilan!" Adel menjulurkan lidah kemudian berlari menjauh dari Kaisar.
Kaisar yang tak terima disamakan dengan buaya akhirnya mengejar gadis itu, "Lo kira gue kyubi apa, ekor sembilan!" Teriaknya.
Dengan postur tubuhnya yang tinggi, tak sulit bagi Kaisar untuk mencapai Adel. Ditariknya tangan gadis itu hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di atas tubuh Kaisar, keduanya terjatuh di atas rerumputan taman kota.
"Aww!" Keduanya mengaduh bersamaan.
Untuk beberapa saat, Kaisar merasa terpesona melihat wajah Adel yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah yang begitu cantik dan manis itu terlihat meneduhkan untuk dipandang. Kaisar bahkan sampai lupa untuk mengedipkan mata.
__ADS_1
Melihat Kaisar yang hanya diam menatapnya, Adel meniup mata pemuda itu dengan kencang, "Fuh!"
Mendapat tiupan itu Kaisar langsung tersadar, "Apaan sih, bangun ah berat tauk!"
"Yee kakak tuh yang dari tadi ngelamun." Ucap Adel kemudian bangun dari posisi terjatuhnya.
"Aku cantik ya kak ya, sampai kakak lihatnya kayak tadi." Adel nyengir kali ini gantian gadis itu yang menggoda Kaisar.
"PD amat, tuh ada belek di mata lo!" Jawab Kaisar bohong sambil mengibaskan tangan untuk membersihkan bajunya yang kotor.
Adel reflek membersihkan area matanya sebelum berkata, "Apaan nggak ada belek tuh, bohong banget."
"Udah terbang kali dibawa angin." Jawab Kaisar sekenanya.
Melihat Adel yang akan menjawabnya, Kaisar lebih dulu berkata, "Ssttt diem! Kalo lo jawab lagi, nggak akan ada selesainya." Ucap Kaisar kemudian langsung berjalan meninggalkan Adel.
Adel menghentakkan kakinya dengan kesal, "Ih kakak nyebelin!" Kali ini Adel yang meneriaki Kaisar.
__ADS_1
Kaisar hanya melambaikan tangan dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Adel.
Taman kota selalu menjadi saksi bisu hal-hal yang sedang dilakukan atau sedang dibicarakan oleh orang-orang yang ada disana. Tak terkecuali Kaisar dan juga Adel, keduanya sudah menjadikan tempat itu sebagai tempat paling menyenangkan untuk berbagi cerita.