
Kaisar kembali ke rumah Nara dengan hati yang berbunga, senyuman tak lepas dari bibir pemuda tersebut. Kaisar berjalan dengan memainkan kunci mobil ditangannya, hingga suara teriakan menghentikan langkah Kaisar sejenak.
"Nara?!" Kaisar berlari menuju kamar Nara setelah menyadari suara teriakan itu adalah milik Nara.
Kaisar membuka pintu kamar dengan cukup keras dan mendapati Anika tengah mencoba menenangkan Nara yang sedang histeris teringat akan kedua orangtuanya.
Anika menoleh ke Kaisar dan berkata, "Nak bantu Nara."
Kaisar mengangguk kemudian berjalan menghampiri Nara dan duduk di sampingnya, "Tenanglah, kamu tidak sendiri."
Nara langsung memeluk Kaisar dan menangis dipelukannya, "Ku mohon jangan pergi, aku takut."
Tangan Kaisar menggantung di udara dia ragu untuk membalas pelukan Nara mengingat dia harus menjaga Adel yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Pada akhirnya Kaisar hanya mengusap lembut rambut Nara dan berkata, "Jangan takut semua orang yang menyayangimu ada di sini."
Disisi lain Anika menangis dalam diamnya menyaksikan situasi yang ada di depannya, merasa kasihan dengan Nara yang harus kehilangan kedua orang tua di usia yang muda.
Kaisar membiarkan Nara menangis hingga cukup tenang selama beberapa saat.
__ADS_1
"Kai, apa aku boleh tidur di pangkuan mu?" Tanya Nara yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Kaisar melihat ke arah Anika untuk meminta pendapat, sampai pada akhirnya Anika menjawab dengan anggukan kepala.
"I-iya boleh." Jawab Kaisar dengan ragu.
Nara segera tidur di pangkuan Kaisar sembari bercerita, "Saat mama masih ada dan kalau aku nggak bisa tidur seperti ini. Mama pasti menyuruhku tidur di pangkuannya sambil mengusap lembut kepalaku hingga aku tertidur di pangkuannya.
"Tapi sekarang semua itu udah nggak mungkin terjadi lagi, entah bagaimana hidupku kedepannya." Lanjut Nara dengan sesekali menyeka air matanya yang masih berjatuhan.
Kaisar hanya diam mendengarkan tanpa melakukan apapun, bahkan tangannya masih diam di tempatnya. Pemuda itu hanya membiarkan Nara tidur di pangkuannya.
Nara bangun dari tidurnya dan berkata kepada Anika, "Terima kasih Tante, maaf Nara sudah merepotkan kalian. Kedepannya Nara akan berusaha lebih baik lagi." Suara Nara bergetar menahan tangis.
"Jangan terlalu memaksakan diri nak, pelan-pelan saja. Kami pasti akan membantumu." Jawab Anika yang kemudian menoleh ke Kaisar dan berkata, "Benar kan nak?"
"Ah i-iya ma pasti." Jawab Kaisar dengan tersenyum canggung.
"Baiklah Nara, tidurlah sekarang sudah larut dan kamu juga harus istirahat." Ucap Kaisar yang kemudian berdiri agar Nara bisa tidur di ranjangnya dan disusul dengan yang sama oleh Anika.
__ADS_1
Nara meraih tangan Kaisar kemudian berkata, "Jangan pergi."
"Nggak, aku nggak pergi. Aku akan ada disini." Jawab Kaisar, "Sekarang tidurlah." Lanjut pemuda tersebut.
Nara menuruti perintah Kaisar untuk tidur meski membutuhkan waktu cukup lama agar benar-benar bisa terlelap dengan nyenyak.
Kaisar menghela nafas panjang setelah memastikan Nara sudah terlelap dalam tidurnya, "Apa kita nginep di sini ma?" Tanya Kaisar kepada Anika.
"Iya nak, kasihan juga kalau meninggalkan Nara sendirian di kondisinya yang seperti itu. Kerabatnya pun langsung pulang ke kota mereka masing-masing."
Kaisar mengangguk pelan kemudian berkata, "Kalau begitu mama juga istirahatlah. Mama juga pasti capek kan hari ini."
"Iya mama akan tidur di kamar tamu. Kamu juga istirahatlah, masih ada kamar kosong yang lain." Jawab Anika.
"Nggak ma, Kai akan tidur di sofa depan, supaya kalau ada apa-apa Kai bisa denger dan langsung bantu Nara."
Anika mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu mama bantu siapkan selimut sama bantalnya ya." Selepas berkata demikian, Anika pergi untuk menyiapkan selimut dan bantal seperti yang sudah dikatakan sebelumnya.
Kaisar menatap Nara sekali lagi sebelum akhirnya menyusul Anika keluar dari kamar gadis tersebut.
__ADS_1