Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Lima Tahun Lalu Part 2


__ADS_3

Rani semakin tak terkendali ketika mengetahui bahwa dirinya digugat cerai oleh Rendra.


"Apa?! Tidak mungkin, aku tidak mau berpisah denganmu Rendra!" Rani terus berteriak dibalik selnya.


Hari demi hari Rani hanya berdiam diri, tak seperti biasanya yang berteriak memaki siapapun yang dilihatnya. Setelah sidang perceraiannya sudah diputuskan, Rani menjadi sosok yang pendiam.


"Rendra... Rendra..." Gumam Rani, hanya satu kata itulah yang selalu diucapkan wanita paruh baya tersebut.


Rani duduk meringkuk dengan pandangan yang kosong namun mulutnya tak berhenti bergumam, "Rendra datanglah, apa kamu tidak mau melihat istrimu ini?" Ucapnya lirih.


"Suamiku ini orang yang sibuk, dia pasti belum ada waktu untuk menemui ku." Rani mencoba menghibur dirinya sendiri.


Semakin hari tingkah Rani menjadi semakin aneh, emosinya sering tiba-tiba berubah seiring waktu, wanita itu juga sering berbicara sendiri. Hingga suatu hari ada seseorang yang datang membesuknya.


Petugas lapas datang menemui Rani, "Ada yang datang menjengukmu." Ucap petugas lapas sembari membuka kunci ruangan Rani berada.


Rani segera bangun dari duduknya dengan antusias, "Dia pasti Rendra! Akhirnya suamiku datang!"


Rani berjalan dengan cepat menuju ruang kunjungan dengan ditemani seorang penjaga di belakangnya.


"Ren-" Perkataan Rani tertahan ketika mengetahui yang datang mengunjunginya bukanlah Rendra.

__ADS_1


Bukan seseorang yang diharapkan, melainkan Satya yang datang mengunjungi Rani. Laki-laki paruh baya itu tidak datang seorang diri, melainkan membawa Adel ikut serta bersamanya.


Adel segera berlari menghambur memeluk Rani yang masih diam mematung, "Mama!"


"Dimana suamiku? Dimana Rendra?!" Rani sama sekali tak menghiraukan Adel, dia justru memeriksa sekeliling untuk mencari keberadaan Rendra.


"Mama, Adel kangen." Pelukan Adel semakin erat.


Rani melepaskan pelukan Adel secara paksa kemudian berkata, "Adel, dimana papa?!"


Dengan wajah polos, Adel menunjuk ke arah Satya yang masih duduk memperhatikan keduanya, "Itu papa."


Rani mencengkeram pundak Adel dengan sangat keras lalu berteriak, "Dia bukan papamu!!!"


"Rani apa yang kamu lakukan?! Lihat, anak kita sampai ketakutan." Ucap Satya.


Satya memeriksa keadaan Adel lalu bertanya dengan lembut, "Kamu tidak apa-apa nak? Ada yang sakit?"


Adel menggeleng pelan dengan air mata yang sudah bercucuran.


Ponsel Satya tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk, laki-laki itu lekas mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


Rani yang sudah kehilangan kendali menganggap itu adalah panggilan dari Rendra, "Itu pasti Rendra!" Ucapnya yang kemudian dengan cepat merebut ponsel dari tangan Satya.


"Hallo Rendra? Ini aku Rani, kenapa kamu tidak datang menemuiku, sayang?" Ucap Rani saat sudah mengangkat panggilan tersebut.


"Maaf, apakah saya bisa bicara dengan pak Satya?" Tanya orang yang memanggil itu.


Satya dengan cepat merebut ponselnya kembali, "Apa-apaan kamu Rani! Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, hah?!" Suaranya pelan namun penuh kemarahan.


"Ku mohon berikan ponselmu, aku mau bicara dengan suamiku." Rani memohon dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Sadarlah Rani! Rendra sudah mencampakkanmu, dia bukan suamimu lagi, dan karena dia juga kamu harus mendekam di penjara, sadarlah!" Satya berteriak keras seolah kesabarannya sudah habis terkuras.


Beberapa petugas menghampiri mereka karena mendengar keributan yang terjadi, petugas pun segera melerai antara Rani dan juga Satya.


"Aku akan menjengukmu lagi lain waktu. Jaga kesehatanmu." Selepas berkata demikian, Satya menggandeng tangan Adel untuk bersiap pergi.


Meski ketakutan, Adel enggan untuk pergi saat itu juga, "Papa, Adel masih mau disini nemenin mama."


Satya menunjukkan senyum lembutnya kemudian menjawab, " Sayang, kamu lihat sendiri kan, mama masih marah-marah? Kita kesini lagi lain kali ya, sekarang kita pulang dulu."


Tanpa bisa membantah, Adel pun terpaksa menuruti perkataan Satya untuk pergi saat itu juga. Adel berjalan beriringan dengan Satya namun pandangannya tak lepas dari Rani yang dibawa masuk kembali ke sel oleh beberapa petugas.

__ADS_1


Hallo kakak, jangan lupa dukung karya "Ruang dan Waktu" dengan cara like, vote, rate, komen dan share yaa... Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author agar semangat menulis. Terimakasih sebelumnya untuk kalian yang setia mendukung karya saya. Semoga sehat selalu dan bahagia...☺️🙏


__ADS_2