
"Aduh pak, saya kan nggak pesan apa-apa." Ucap Adel ketika melihat beberapa makanan tersaji di depannya.
"Makan tinggal makan masih aja protes!" Jawab Kaisar yang sudah lebih dulu makan.
Sepertinya Adel memang tidak berselera makan pada saat itu, terlihat dari cara dia mengunyah makanan yang cenderung tidak bersemangat.
Adel mengaduh kesakitan ketika sendok makan sedikit mengenai luka di tepi bibirnya, "Aduh!" Hal itu membuat Kaisar menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Kaisar sedikit khawatir.
"Nggak apa-apa pak, ini tadi kesenggol sendok, jadi agak perih." Jawab Adel.
Kaisar mengangguk pelan, "Ngomong-ngomong lo kenapa bisa punya luka kayak gitu?" Tanya Kaisar.
Mendengar pertanyaan Kaisar yang tiba-tiba membuat Adel seketika tersedak makanannya sendiri.
"Eh nih minum dulu." Ucap Kaisar yang sudah menyodorkan minuman ke Adel.
Setelah membaik Adel kemudian menjawab pertanyaan Kaisar sebelumnya, "Ini kemarin saya lagi makan, terus nggak sengaja kegigit dan jadinya luka gini pak." Jawab Adel berbohong.
Kaisar menyipitkan matanya seolah mengetahui kebohongan yang Adel buat, "Lo bohong kan? Lain kali kalo cari alasan yang masuk akal dikit lah, mana mungkin orang bisa gigit di bagian itu, ngaco lu!"
"Ya terserah bapak kalo nggak percaya, lagian ngapain saya bohong." Sifat menyebalkan Adel mulai keluar setelah sekian lama.
"Itu luka tamparan." Perkataan Kaisar membuat Adel terkejut bahkan sampai tidak bisa melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Melihat ekspresi lo, sepertinya dugaan gue benar." Lanjut Kaisar.
Adel pura-pura tertawa untuk menutupi kebohongannya, "Hahaha bapak cenayang ya? Sok tahu banget."
"Siapa yang tampar? Bokap lo?" Kaisar sama sekali tidak terpengaruh dengan usaha Adel yang berusaha berbohong di depannya.
"Nggak ada yang tampar pak, saya kan udah bilang ini luka gigitan."
"Atau gue laporin bokap lo aja atas tindakan kekerasan?" Perkataan Kaisar membuat Adel berhenti berbohong dan menjadi kelabakan.
"Jangan!" Adel menjadi gugup karena takut Kaisar benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan, terlebih sampai saat ini Adel masih mengira bahwa Kaisar adalah anak dari pejabat kepolisian, yang dikatakan Kaisar beberapa waktu lalu di restoran saat menolongnya.
Kaisar tersenyum sinis sebelum berkata, "Sepertinya lo harus belajar bohong lagi. Baru digertak aja udah ketakutan."
"M-maksud bapak?" Tanya Adel dengan bingung.
Adel seperti ingin menceritakan sesuatu tapi dia terlihat bimbang, melihat itu Kaisar berusaha menenangkannya, "Kemarin gue udah pernah bilang kan waktu di rooftop? Kalo lo butuh teman cerita, lo bisa cerita ke gue. Jangan simpan semuanya sendirian, atau lo akan merasakan apa itu yang namanya mati rasa."
Memang benar adanya, setelah bercerita ke Kaisar, perasaan Adel menjadi sangat lega seakan beban di pundaknya sedikit berkurang. Karena selama ini, gadis itu belum pernah mempunyai teman yang dia percaya untuk berbagi cerita dengannya.
"Saya ketahuan kerja di restoran." Ucap Adel setelah diam cukup lama.
"Kok bisa?" Tanya Kaisar.
"Waktu saya kemarin kena marah sama pria itu, ternyata di restoran itu ada sekertaris papa yang melihat, lalu merekamnya dan dia kirim ke papa." Adel mengalihkan pandangannya dan mengembuskan nafas panjang, "Dan berakhir saya dimarahi habis-habisan dan ditampar sampai luka seperti ini." Lanjutnya.
__ADS_1
Kaisar menggelengkan kepalanya tak percaya, "Bokap lo sampe segitunya? Dan lo nggak mau melawan gitu?"
"Bicara salah, diam apalagi. Bahkan di rumah itu saya harus bernafas dengan hati-hati agar tak ada orang lain yang mengetahui keberadaan saya."
Kaisar mengepalkan tangannya di atas meja, "Brengsek! Laki-laki macam apa dia?!" Kaisar benar-benar tidak bisa melihat kekerasan ada di depannya, terlebih kekerasan terhadap wanita.
"Lo nggak mau ngelaporin bokap lo gitu? Dia udah keterlaluan lho." Lanjut Kaisar.
Adel menunduk dalam dan menggeleng pelan, "Papa orang yang cukup berpengaruh, saya nggak mau mencoreng namanya jika saya melaporkan papa."
"Kenapa? Setidaknya kalo lo ngelaporin bokap lo, hal itu bisa membuat lo terbebas dari kekerasan yang dibuatnya." Kaisar mencoba membujuk Adel.
"Karena aku sayang papa." Jawaban Adel membuat Kaisar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin laki-laki yang bersifat kejam seperti itu masih mendapatkan kasih sayang dari anak yang di siksanya.
"Lo udah gila ya?! Lo masih sayang sama orang yang nyiksa lo karena alasan yang sepele?"
"Saya tidak bisa membahagiakan mereka, mungkin jika saya diam dan seolah tidak terjadi apa-apa, bisa membuat papa sadar kalau saya begitu menyayanginya. Dan yang lebih penting bisa membuat hati papa luluh dan mau memberikan kasih sayangnya untuk saya." Adel tersenyum saat mengatakan itu, ada sedikit harapan yang terpancar di matanya.
Kaisar diam cukup lama setelah mendengar perkataan Adel, dia menjadi teringat perlakuannya kepada Rendra akhir-akhir ini. Hatinya sedikit tertampar, bagaimana mungkin seorang gadis yang sudah diperlakukan tidak pantas masih sangat menyayangi orang yang menyiksanya. Sedangkan Kaisar yang jelas-jelas sudah tahu keadaan Rendra yang sakit atas kesalahan pemuda itu sendiri, justru berlaku tidak peduli dan bahkan mengabaikannya, padahal Kaisar tahu, Rendra hanya hidup seorang diri di kota ini.
"Kenapa pak, kok tiba-tiba diam?" Pertanyaan Adel memecah lamunan Kaisar.
Kaisar tersenyum kecut kemudian berkata, "Gue nggak tahu musti ngomong apalagi, hati lo terbuat dari apa sampai lo rela jadi boneka demi mendapatkan kasih sayang bokap lo sendiri."
"Meskipun saya sempat putus asa, kalau di pikir lagi itu adalah kesalahan besar yang pernah saya lakukan. Dan saya akan memulainya lagi dari awal dan akan bertahan semampu saya." Gadis itu memamerkan senyum semangat yang membuat Kaisar kagum.
__ADS_1
"Bertahanlah, dan cari gue kalo lo butuh sesuatu." Ucap Kaisar.
"Terima kasih pak."