Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Kecemasan


__ADS_3

"Nak?!!" Ucap Rendra terkejut setelah mengetahui yang datang adalah Kaisar dan juga Adel.


Dan yang paling mengejutkan bagi Rendra adalah, bagaimana bisa keduanya datang secara bersamaan, bahkan Kaisar terlihat menggandeng tangan Adel.


"Bolehkah kami masuk, papa?" Tanya Kaisar, pemuda itu masih terlihat santai.


Waktu seakan berhenti sejenak apalagi setelah mendengar Kaisar memanggil Rendra dengan sebutan 'papa'. Pandangan Adel tiba-tiba menjadi gelap, dan tak lama tubuh gadis tersebut ambruk ke lantai.


"Adel!!" Seru Rendra dan Kaisar bersamaan.


Dengan sigap Kaisar segera membopong Adel untuk masuk ke dalam rumah Rendra.


Dalam keheningan suasana yang canggung, sembari menunggu Adel mendapatkan kesadarannya kembali, dua orang pria tengah duduk diam dengan perasaan yang campur aduk.


"Kamu sudah mengetahuinya?"


Kaisar tersenyum kecut kemudian menjawab tanpa menatap Rendra sedikit pun, "Aku mencintai Adel."


Rendra membelalakkan matanya tak percaya, "Apa?! Kaisar, Adel itu adik kamu!"


Dengan cepat Kaisar membantah perkataan Rendra. "Dia bukan anak kandung papa!!!"

__ADS_1


"Adel sudah papa anggap sebagai anak kandung papa sendiri."


Kaisar menyeringai, "Aku tak peduli, karena pada kenyataannya, Adel bukan anak kandung papa."


"Kamu-!"


Rendra hendak menjawab namun Kaisar dengan cepat menyela, "Aku datang kesini untuk memastikan kebenaran yang aku lihat, selain itu aku juga ingin meminta restu papa karena saat ini aku dan Adel tengah menjalin hubungan."


"Jadi, mau tidak mau papa harus merestui hubungan kami."


Rendra memijat pelipisnya kepalanya tiba-tiba terasa berat, "Kalaupun papa setuju, apakah Anika juga akan menyetujui hubungan kalian?!"


"Kamu diam, itu tandanya kamu belum menceritakan semuanya ke Anika." Rendra menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, "Nak, papa yakin secara garis besar kamu sudah tau apa yang terjadi antara papa dan mama, lalu apakah kamu yakin Anika akan menyetujui hubungan kalian?"


"Itu... Aku..."


Rendra beranjak dari duduknya dan menepuk pundak Kaisar pelan, "Pikirkanlah nak, sebelum semuanya menjadi sulit." Selepas berkata demikian Rendra meninggalkan Kaisar seorang diri dan pergi untuk memeriksa keadaan Adel.


Kaisar mengepalkan tangannya keras, bukan karena perkataan Rendra melainkan kenapa situasi sulit selalu mengikutinya.


***

__ADS_1


PRANK!!!


Suara pecahan kaca meyeruak ke seisi rumah megah itu, dengan hati-hati Anika memungut pecahan kaca gelas yang baru saja terjatuh dari tangannya.


Ketika memungut pecahan kaca yang terakhir, tanpa sengaja jari telunjuknya tergores hingga mengeluarkan darah.


"Aww!" Jeritnya merasakan sakit di jari telunjuknya tersebut.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba nggak enak ya?" Gumamnya seorang diri.


Anika menggelengkan kepalanya cepat, menolak pikiran buruk yang baru saja melintas di kepalanya.


"Oke tenang, tarik napas dalam-dalam. Anika, semua akan baik-baik saja, oke?" Anika mencoba meyakinkan perasannya sendiri dan menepis jauh-jauh perasaan negatifnya.


Anika melirik jam dinding kemudian berkata, "Udah hampir malam kenapa Kaisar belum pulang juga? Di luar juga udah mulai hujan."


Rasa cemas semakin menyelimuti hati Anika tanpa tahu sebabnya.


Hallo readers, maaf beribu maaf karena beberapa waktu terakhir aku mengecewakan kalian yang sudah menunggu terlalu lama update dari novel "Ruang dan Waktu". Bukannya tanpa alasan, karena kegiatan di RL sedang padat dan banyak menyingkat waktu, untuk itu semoga kalian tetap setia dan bersabar serta terus menunggu dan mendukung karya ini. Aku akan terus berusaha berkembang dan berusaha menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Terimakasih semuađź–¤

__ADS_1


__ADS_2