
"Pa, papa inget nggak waktu pertama kali kita ketemu?" Tanya Adel kepada Rendra.
"Iya inget kenapa?"
"Adel waktu itu kan sama temen Adel, nah hari ini kebetulan dia ada di rumah sakit juga nemenin mamanya kontrol." Jelas Adel.
Rendra terdiam sejenak untuk mengingat sebelum akhirnya berkata, "Oh yang kamu mau ajak papa ketemu dia itu ya?"
Adel mengangguk sembari tersenyum lebar kemudian menjawab, "Iya, tapi sayang sekali lagi-lagi waktunya nggak pas jadi Adel kali ini pun nggak bisa ngenalin papa sama temen Adel itu."
"Bagus dong." Jawab Rendra dengan tersenyum.
Adel memasang wajah bingung sebelum bertanya, "Kok malah bagus?"
"Ya bagus lah, jadi kamu bisa kenalin papa ke temen mu itu saat papa sudah bisa berjalan dengan normal tanpa tongkat saat kondisi papa sudah benar-benar sehat." Jawab laki-laki paruh baya itu dengan mengusap lembut kepala Adel.
__ADS_1
Adel memanyunkan bibirnya tanda protes, "Papa!!!"
"Iya-iya papa tahu kamu nggak peduli soal itu, tapi papa yang malu, masa papa harus ketemu sama pacar kamu dengan kondisi kaki yang pincang, nggak mungkin dong?" Goda Rendra dengan terkekeh pelan.
"Temen pa temen.... Bukan pacar ih!"
Rendra semakin tertawa melihat tingkah putrinya, "Papa juga pernah muda nak. Jujur tentang hal ini kepada orang tua memang hal yang sulit dan cukup memalukan. Tapi nggak apa-apa, papa coba menerima asal pemuda itu baik untukmu."
"Dia lebih dari kata baik." Adel tiba-tiba melotot selepas berkata demikian, gadis itu lantas memukul mulutnya sendiri karena mengeluarkan kata-kata diluar kendalinya.
"Nggak apa-apa nggak usah malu, kan sudah papa bilang papa pernah muda, jadi papa paham kondisi anak muda seperti kamu ini." Ucap Rendra.
Adel memasang wajah cemberut kemudian berkata, "Udah dibilang cuma temen juga ih papa mah nggak percayaan."
"Sudah kamu kenalkan ke orang tuamu?" Tanya Rendra tiba-tiba yang membuat Adel seketika diam.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, "Kan baru mau Adel kenalkan ke papa kalo waktunya udah pas."
"Iya papa tahu, tapi bukan itu yang papa maksud, maksudnya-" sebelum sempat Rendra menyelesaikan perkataannya, Adel sudah lebih dulu menyela.
"Untuk hari ini Adel nggak mau bahas soal mereka pa, yang Adel mau cuma bersenang-senang dengan orang yang ada di depan Adel saat ini. Yaitu papa Rendra." Adel tersenyum namun suaranya bergetar penuh kesedihan.
Gadis itu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Walaupun Adel tahu Adel bukanlah putri kandung papa, tapi cuma papa yang bisa memberikan semua yang Adel butuhkan sebagai seorang anak."
Rendra dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Mulai hari ini papa nggak mau dengar kalimat itu lagi. Apapun alasannya, kamu tetaplah putri papa yang sangat papa sayangi, dan sampai kapanpun akan tetap begitu."
Tawa yang sebelumnya tercipta kini berganti dengan perasaan haru yang menyelimuti hati keduanya.
"Terima kasih pa." Ucap Adel kemudian menghambur ke pelukan Rendra.
Rendra mengusap lembut kepala Adel dan berkata, "Jangan pernah berkata seperti itu lagi, oke?"
__ADS_1
Adel hanya mengangguk di dalam pelukan Rendra, sebelum akhirnya perawat memanggil Rendra untuk memasuki ruangan dokter.