
"Aku ikut senang papamu sudah bisa berjalan dengan normal lagi." Kaisar mengusap kepala Adel dengan begitu lembut kemudian melanjutkan perkataannya, "Teruslah tersenyum seperti itu, karena aku menyukainya."
Adel tersipu malu mendengar pujian dari Kaisar, bahkan pipinya yang putih menjadi terlihat kemerah-merahan.
"Apa sih, kakak gombal banget deh!" Ucap Adel dengan menyikut perut Kaisar yang saat itu tengah duduk di sampingnya.
Kaisar mengaduh kesakitan sembari memegangi perutnya, "Aww sakit nih, maag ku jadi kumat!"
"Mana ada disikut pelan doang maag sampe kumat." Jawab Adel dengan ketus.
Tak ada tanggapan dari Kaisar, pemuda itu justru duduk meringkuk sambil terus memegangi perutnya. Melihat hal itu, Adel menjadi khawatir dan percaya bahwa Kaisar kali ini benar-benar kesakitan.
"Kak, kakak." Panggil Adel dengan menggoyangkan pundak Kaisar berulang kali.
Tak ada reaksi apapun, Kaisar terus merintih yang membuat Adel semakin khawatir terhadapnya.
Adel tiba-tiba berdiri kemudian berkata, "Kakak tunggu sebentar ya tahan dulu, aku akan beli obat."
__ADS_1
Namun baru satu langkah berjalan, tangan Adel ditarik oleh Kaisar. Saat gadis itu menoleh, pemandangan yang ia dapat justru Kaisar menatapnya dengan senyum yang menjengkelkan. Rupanya pemuda itu untuk kesekian kalinya telah mengerjai Adel.
Tak perlu waktu lama bagi Adel menyadari bahwa ia sedang dipermainkan.
"Kan kan kan, selalu begitu. Nggak lucu tauk!" Ucap gadis itu kemudian kembali duduk dengan tangan menyilang di depan dada.
"Emang, kan aku lagi nggak ngelawak. Wajarlah kalo nggak lucu." Jawab Kaisar santai.
"Ter Se Rah!" Jawab adel dengan mengeja kata itu.
Kaisar menutup mulutnya berusaha menahan tawa sebisa mungkin, sedangkan Adel hanya melirik dengan kesal.
"Hallo?" Sapa Kaisar.e
Kaisar membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar kabar dari seseorang yang menghubunginya itu, "Apa?! Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang." Ucap Kaisar dan langsung menutup panggilan tersebut.
"Ada apa kak? Apa terjadi sesuatu sama Tante Ika?" Tanya Adel sesudah Kaisar menerima telepon.
__ADS_1
Kaisar yang masih sibuk memeriksa ponselnya itu menggelengkan kepalanya dan menjawab tanpa menoleh ke arah Adel, "Bukan mamaku tapi Nara dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan."
Adel menutup mulutnya terkejut mendengar kabar yang tiba-tiba itu, "Bagaimana keadaannya sekarang kak?"
"Aku belum tahu, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang." Jawab Kaisar lalu beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Adel.
Namun dengan cepat Kaisar menghentikan langkah dan membalikkan badannya kemudian berkata kepada Adel yang saat itu hanya diam dalam keterkejutan, "Aku akan menghubungimu nanti." Kaisar berucap sembari mengusap lembut pipi Adel.
"Iya kak, hati-hati dijalan." Jawab Adel, meskipun gadis itu ingin sekali ikut dengan Kaisar, tapi dia bisa melihat situasinya yang tidak memungkinkan.
Sesampainya di rumah sakit, Kaisar langsung menuju kamar tempat Nara dirawat. Di sana, Nara terlihat tengah menjerit dengan histeris mendengar kabar bahwa nyawa kedua orang tuanya tak bisa diselamatkan akibat kecelakaan yang mereka alami.
Nara dan kedua orang tuanya hanya hidup seorang diri di kota ini tanpa sanak saudara, karena mereka sejatinya berasal dari kota lain yang pindah ke kota ini untuk urusan bisnis kedua orangtuanya. Sehingga saat sesuatu ada yang terjadi, Kaisar adalah orang pertama yang akan dihubungi oleh Nara mengingat hubungan keduanya yang sempat berpacaran sebelumnya.
Ada perasaan iba menyelimuti hati Kaisar saat melihat kondisi Nara, pemuda itu lekas menghampirinya dan memberikan ketenangan.
"Nara tenanglah, ada aku disini." Ucap Kaisar sembari memegangi tangan Nara yang saat itu berusaha menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
Nara bisa sedikit mengontrol dirinya ketika menyadari Kaisar sudah ada disampingnya, gadis malang yang baru saja kehilangan orang tuanya itu tanpa pikir panjang langsung memeluk pemuda yang ada dihadapannya, Kaisar.